3. Oh, Yayyy ...

308 16 0
                                        

"Which one?" tanyaku padanya, meraih beberapa kemasan dan memerhatikan petunjuk lengkap yang tertera jelas di bungkus belakangnya.

"Don't ask me! I have no f—ckin' idea!" jawab Olivia ketus dengan bibir cemberut dan dahi yang berkerut. "Jeez! Just pick one already!"

Galak betul! Aku juga kan tidak tahu harus pilih yang mana! Tidak lihat rupaku? Aku ini seorang lelaki tulen, lahir dan batin. Sehingga jelas, aku tidak mungkin bisa hamil. Dan intinya dari semua itu ... ini seharusnya bukan merupakan tugasku!

Hmm .... Yang indikatornya menunjukkan tanda positif atau negatif, kah? Atau yang tulisannya nanti 'hamil' atau 'tidak'? Aduh! Dilema sekali rasanya.

"Ini! Yang ini!" bentaknya dan meraih kasar salah satu kemasan yang hinggap di rak. "Why are you taking so long just to pick this d—mn thing?!"

Bahkan staf kasir pun mengalihkan wajahnya, takut untuk bertatap muka dengan kami berdua, pasangan aneh yang berantem di dalam minimarket hanya karena kesulitan ketika memilih test pack yang beraneka ragam. Lucu sekali memang.

Kenapa juga dia harus marah, sih?! Yang waktu itu terus menggoda, membelai, dan memberi kecupan itu siapa? Semuanya kan dia yang mulai! Harusnya jangan ngambek, dong!

"Ada tambahan lainnya?" tanya si pegawai wanita yang masih juga menundukkan kepala.

Olivia meletakkan sebungkus kotak berwarna pelangi di atas meja dan baru berselang sedetik setelahnya, ia menambahkan satu dus lagi yang mana menampilkan gambar cocoa beserta dedaunan mint di atasnya.

Mint chocolate? Kalau yang pelangi tadi rasa apa, dong? Tutti frutti, kah? ... Eh?

"... What, what the h—ck are you doing?" tanyaku gelagapan, baru sadar kalau barang yang hendak dibelinya merupakan material pelindung batang yang diagungkan setiap pria.

"Just in case," jawabnya datar dan raut wajahnya tetap polos. "I don't want this,"—jari telunjuknya diarahkan ke area perutnya—"to happen once again," tambahnya sinis.

Gah! Bisakah ia berhenti menyalahkanku?! Ini semua juga tidak akan terjadi kalau wanita di sampingku bisa menahan nafsunya setiap kali tengah berduaan. God! Saat-saat seperti ini nih, yang membuatku sebal padanya.

"Hurry up! I need to pee on it!" teriaknya sekali lagi yang baru kusadari ternyata sudah berdiri di depan pintu.

Selesai meraih uang kembalian dan kantong belanjaan berisi benda keramat yang dipilihnya, aku bergegas keluar dan menuju kendaraan tempatnya berada.

"Woa, woa, woa! You're gonna do it here?!" tanyaku panik, tidak percaya kalau ia tengah berusaha menurunkan celananya.

"Gak ada yang bakal liat juga. See? Gue udah pasang kaca film extra gelap gara-gara waktu itu kita ketangkep paparazzi," jelasnya santai. "Hey! Cover me up!"

"Kata lo tadi aman," balasku padanya yang tidak risi melepas celana walaupun aku duduk tepat di sebelahnya. Well, sudah beberapa kali memang aku menatap tubuhnya yang telanjang. But, I mean, this is public place! C'mon, man!

"Shut up! There's no time! I am two weeks late!"

Ya, terserah saja, deh. Kalau sampai bau pesing pun, ini kan mobilnya. Sekali ia sudah ngotot, siapa juga yang bisa menghentikannya.

Jesus! She's really doing it! Ew! Olivia! Apa yang terjadi dengan dirimu? Ke mana keanggunanmu? Kenapa begitu aku kembali, kamu malah berubah 180 derajat menjadi jorok begini?! Once again, ew!

"Done. Now we wait," katanya tenang dan kembali duduk manis seraya pandangannya tertuju pada benda panjang di tangannya tersebut.

Ugh, ugh, ugh! Kenapa malah aku yang menjadi tegang begini? Bahkan telapakku berubah dingin dan sedikit bergetar walaupun kedua tanganku hinggap sempurna di atas setir kemudi.

Kalau boleh jujur, di sudut terpencil pada hatiku yang terdalam, jauh di pojoknya yang tersembunyi dan tidak tampak, aku sebenarnya sedikit mengharapkan hadirnya tanda positif di atasnya.

Bayangkan seperti apa nanti bayi mungil di kandungannya? Mini Antony, or Antony Junior. Oooh~, aku sudah tidak sabar untuk berjumpa denganmu! ... Hm? What? Little Tony? No, no! That name is off limit! Aku tidak mungkin menamai anakku dengan panggilan itu ketika ia selalu mendesah dan menyebut nama tadi saat menikmatiku di bawah sana. If you know what I mean.

... Abs-ku, abs! Jeez! What the h—ll are you guys thinking?!

"Ah!"

Teriakannya yang terlalu keras mengakibatkan tubuhku sedikit melompat dan tidak sengaja kutekan klakson dengan cukup keras. Semoga saja we don't make a scene. Tidak lucu kalau penduduk sekomplek semua berkumpul di sini dan berita di koran besok akan berbunyi, "OLIVIA HARTANTO, KONGLOMERAT MUDA KAYA RAYA, KETAHUAN KENCING DI DALAM MOBILNYA." Ew!

"Negative!" teriaknya sekali lagi, masih juga meremas erat test pack di genggamannya. "It's negative! I'm not pregnant!" ujarnya riang. "But, no," tambahnya tiba-tiba dan rautnya berubah seketika, "we can't trust it."

"... Maksudnya?"

"Bisa aja hasilnya gak tepat. What will happen then? A baby will appear from inside my tummy! Oh, God! Oh, no!" ujarnya panik sambil meremas keras kepalanya.

Apa sebegitu jijiknya ia pada benihku? Sampai-sampai ia ogah untuk memiliki anak denganku? Ugh! Sakit sekali rasanya hatiku ini. Dasar wanita tidak memiliki perasaan! ... Apa benar ia mencintaiku ketika ia menolakku seperti sekarang?

"You see?" balasku seraya memperlihatkan bungkus kemasannya yang ia robek dengan kasar barusan, untungnya kalimat yang hendak kutunjukkan padanya masih tertera utuh di atasnya. "It says, '99 persen akurat'."

"Yea, but ... what if I'm the special one? Gimana kalo gue masuk ke dalam yang satu persennya? Oh, no. Oh, no, no, no. This won't do. C'mon! Let's go!" perintahnya dan dengan cepat ia mengenakan sabuk pengaman.

"Uhm ... where to?"

"OB-GYN! Now!"

Haruskah sampai selebai ini? Padahal sudah jelas tadi, hanya muncul satu garis saja setelah ia selesai membanjurinya dengan air seni dari dalam tubuhnya. Masih tidak percaya juga?

Tapi apa daya, permintaannya merupakan sebuah perintah. Dan tidak ada satu pun yang bisa membantah keinginan sang ratu.

Kutekan pedal gas sedalam yang kubisa dan segera saja suara knalpotnya berderu kencang. Dalam hitungan menit, kami berdua tiba di klinik terdekat.

"... Oh, wait," ucapnya seraya menarik lenganku, menahanku untuk tidak melanjutkan melangkah maju. "Restroom. I'll be right back," tambahnya dan segera saja ia ngibrit lari ke kamar mandi.

Aneh sekali. Kebelet lagi, masa? Bukankah ia sudah mengeluarkan semuanya di dalam mobil barusan? Apa masih ada yang tersisa? ... Ada kamar mandi ... kalau begitu harusnya tadi ia kencing di sana saja, dong! Arghhh! Jadi kotor, 'kan?! Ugh! Nanti harus kubawa ke car wash, deh!

"Yayyy, Tony!" teriaknya girang padahal belum berselang sedetik sejak ia hilang dari pandangan. "It's real! I'm not pregnant! I'm on my period! Yayyy!" ucapnya bertubi-tubi dan memeluk erat tubuhku.

Oh, yayyy ... or nayyy.

Bye-bye, Antony Junior. Sayonara, Mini Antony. Sigh!

Just KiddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang