05

143 8 0
                                        

"God, bagaimana caraku bertahan hidup kedepannya?"
Jane mulai menangis, meratapi nasibnya. tidak menyangka ia harus meninggalkan Mark dan Mayin setelah belum 49 jam tinggal dengan Mark.

Jane berusaha menghubungi kedua orang tuanya. membantunya untuk menemukan tempat tinggal.

"Pa, Ma. skrg aku harus tinggal dimana?" ucap Jane bertanya pada orang tuanya.
"rumah nenek. Papa akan kirim alamatnya, sebentar" Ucap sang Ayah setelah itu Ia mengakhiri teleponnya.

Papa : di kota Vancouver, perumahan xxxx nomor 12-9, pintu warna coklat, didepannya terdapat banyak tumbuhan.
Papa : besok baru jalan saja, Papa tadi uda pesenin hotel, jalan : xxxx , Toronto.
Jajane : iya. makasi, Pa.
Papa : iya, cepat pesan taxi dan pergi kesana. sudah malam.

Benar saja, Jane mengecek ponselnya. sekarang sudah hampir jam 20.00. tak disadari ia sudah jauh dari Mark dan Mayin kira kira 8 jam.

Jane memesan taxi menuju hotel tersebut. setelah sampai, ia membayar taxi tersebut dengan uang pegangan yg dibawanya. ia sudah berhenti menangis dan melupakan kenyataan pahit ini.

ia melangkah masuk menuju lobby hotel. check-in lalu mengambil kartunya lalu Ia menuju lantai 6 kamar 356.

setelah membuka pintu kamarnya, Ia langsung menatap pada cermin.Sial, ia tidak membawa apa apa sekarang. ia pergi menuju lemari di sebelah tempat mejanya.

untuknya ada sepasang piyama disitu. hotel yg ditempati Jane sekarang termasuk hotel ternama. ia mengambil piyama tersebut. masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.

keluar dari kamar mandi, ia langsung menuju ke kasur. tanpa disadari ia tertidur padahal jam baru menunjukkan pukul 20.45.

            . . . . . . . . 🖇 . . . . . . . .

Mark menyesal tidak meminta nomor Jane sama sekali. bahkan ia sekarang tidak dapat menghubungi Jane. Sial, Jera merusak semuanya.

Mark sekarang sudah berada didalam kamarnya sedangkan Mayin sudah terlelap didalam kamarnya sendiri.

Mark berencana menuju kamar Jane. mana tau ia menemukan sesuatu disana. saat mencoba mencari diseluruh kamar Jane. Mark menemukan sesuatu yg Jane selipkan di antara baju bajunya.

Jane menyelipkan nomor teleponnya disana. Mark mencoba menghubungi Jane melalui nomor tersebut.

Mark : Jane?

Jane bangun terdiam menatap pesan dari Mark. bagaimana ia bisa tau nomornya?
Jane hanya membaca pesan dari Mark tanpa berniat membalasnya. Ia takut Jera kembali mengatakan bahwa ia adalah perusak hubungan.

Mark kembali menghubunginya.

Mark : Jane, aku tau kau ketakutan sekarang. kembali kerumahku, aku tidak merasa kau merusak hubunganku dengan istriku. abaikan perkataan wanita sialan itu. dia memang sering membuat masalah
Jane : jemput. hotel xxxx
Mark : Jane???
Jane : tolong jemput aku, Pak.

Mark membaca pesan dari Jane. mengambil kunci mobilnya dan menggendong Mayin. Mayin yg mendengar bahwa Jane akan kembali tertawa dan terus tersenyum.

Sekitar 20 menit dari rumah Mark dengan hotel yg Jane tempati. dari kejauhan terlihat Jane yg sudah menunggu didepan hotel. mobil Mark berhenti didepan Jane. Mark membuka kaca mobilnya, menyuruh Jane untuk masuk.

Mark terus mengucapkan terima kasih pada Jane karna Jane sudah bersedia kembali dengan dirinya.

           . . . . . . . . 🖇 . . . . . . .

"Jane, hebat sekali dirimu mendekati priaku" ucap wanita itu dengan senyum miring yg tak hilang dari wajahnya dan juga gelas wine ditangannya.

           . . . . . . . . 🖇 . . . . . . . .

setelah sampai dikediaman Mark, Jane turun dari mobil. memasuki rumah Mark dan langsung menuju kamarnya. Mark tau suasana hati Jane sedang buruk karna ucapan yg dilontarkan oleh Jera dengan sembarangan. Memang Jera tidak tau diri, bisanya hanya merusak kehidupan orang lain.

Jane masuk kekamarnya, mengambil baju dan langsung memasuki kamar mandi. ia hanya ingin beristirahat sekarang, tidak memikirkan apapun. biarkan hatinya tenang sekarang.

Mark dan Mayin berjalan beriringan, ahh, ayah dan anak itu memang kompak.

"Daddy"
"kenapa?"
"bisakah kita pergi jalan jalan besok? Mayin ingin pergi ke pantai"
"nanti daddy coba tanyakan pada aunty" ucap Mark dengan senyuman karna putri kecilnya sangat lucu.
"YAYYY, MAKASI DA—" ucap Mayin terpotong karna Mark menutup mulut Mayin dengan jari telunjuknya.
"ssttt, jangan berteriak"
"ah okay, makasi Daddy" Mayin memeluk Mark.

            . . . . . . . . 🖇 . . . . . . .

Malam harinya, Mark mendatangi kamar Jane.
"Jane, we need to talk." ucap Mark didepan pintu kamar Jane.
"allright" Jane turun dari kasurnya, mengikuti Mark menuju kamar Mark.

Mark menggegam tangan Jane, terus meyakinkan Jane bahwa semuanya baik baik saja.
"jangan pikirkan ucapan wanita itu"
"iya"
"dia memang seperti itu sejak dulu. saat aku bersama istriku, dia selalu membuat mental istriku down. mengatakan bahwa ia adalah "Jalang" karna ia hamil anakku diluar nikah" penjelasan Mark membuat Jane ingin bertanya alasan Shena meninggal
"maaf jika aku memotong, tapi bolehkah aku tau kemana perginya istrimu?" tanya Jane
"tapi sebelumnya kau harus berjanji, tidak boleh kasihan padanya."
"baik" ucap Jane berjanji pada Mark.

"baik akan kumulai, aku dan Shena, istriku bertemu di bangku SMA. dia adik kelasku saat itu. aku dan dia sering ditugaskan untuk mengurus masalah yg ada disekolah itu. aku merasa nyaman dekat dengannya. mungkin, aku mencintainya. hingga suatu hari temannya menceritakan secara diam diam bahwa Shena menyukaiku juga. aku merasa bahagia, perasaanku dibalas olehnya. aku akhirnya jujur dengannya, lalu kami berpacaran sampai kami lulus SMA, aku kuliah dan bekerja, ia juga begitu. namun suatu hari aku mabuk dan merusaknya, jadi kami segera melangsungkan pernikahan. sejak saat itu Jera, perempuan yg semalam mulai mengatakan yg tidak tidak pada dia."
penjelasan Mark tentang istrinya membuat Jane terdiam. tidak menyangka perempuan yg mendampingi Mark dari masa SMA nya menyimpan banyak luka.

Mark terlihat menahan tangisnya. Jane ingin menenangkan Mark. namun ia lupa Mark dan dia tidak ada hubungan sama sekali hanya sebatas majikan dan pekerja.

"maaf kalau saya lancang, Pak" Jane mendekat pada Mark lalu menarik Mark dalam pelukannya.
"maaf pak kalau saya lanc—" ucap Jane terpotong saat tiba tiba tangis Mark pecah dipelukannya.
Jane bingung harus apa jadi ia hanya mengelus bahu Mark, menenangkannya yg sesegukan.

"sudah Pak, berhenti menang—"
"panggil aku Mark disini"
"tapi ak—"
Tangis Mark semakin pecah, Jane yg merasa kasihan melihat kondisi Mark pun menuruti kemauannya.

"berhenti menangis, Ka. mungkin Tuhan lebih sayang pada Ka Shena. jika boleh tau, kenapa Ka Shena bisa meninggalkan dunia ini?" tanya Jane dengan hati hati, takut Mark kembali menangis. Mark seperti sebuah berlian yg sangat berharga, tidak boleh ada seorangpun yang merusaknya.

"akibat pembullyan dan kata kata kasar yg dilontarkan oleh Jera dan teman temannya, setelah Shena melahirkan Mayin ia membunuh dirinya.....a-aku telah gagal melindunginya" Tangis Mark kembali pecah. sekarang Mark berada di titik terendahnya dalam pelukan Jane setelah bertahun tahun menjauhi rasa sedih atas perginya Shena.

" Ka, kau tidak gagal melindungi Shena. biarkan ia pergi dengan tenang."

.
.
.
.
.
TO BE COUNTINUED.....

ututu ayang Mark 💪🏻😔

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ututu ayang Mark 💪🏻😔

yes, Sir || Mark Lee (NCT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang