Jennie terbangun tengah malam karena merasa tenggorokannya kering. Ia bangkit dan berniat untuk turun ke dapur karena air minum di gelasnya habis. Ia sempat melirik Lisa yang sedikit membuka matanya saat merasakan Jennie turun dari ranjang.
"Mau kemana?" Tanya Lisa dengan mata yang setengah terpejam.
"Ambil minum. Tidurlah lagi." Ucap Jennie membuka pintu kamarnya.
Ia berjalan ke bawah, menuruni tangga dan langsung menuju dapur. Mengisi gelas dengan air dan berniat untuk kembali ke kamar, tapi ia terkejut melihat Lisa yang berjalan menuruni tangga.
"Kenapa ikut turun?" Tanya Jennie meletakkan gelas di meja kitchen set dan menyambut Lisa yang memeluknya.
"Aku merindukan kekasih ku." Ucap Lisa sedikit membungkuk, menyembunyikan wajahnya di leher Jennie. Jennie terkekeh dan mengelus punggung Lisa.
"Baby sudah kamu batasi dengan bantal?" Tanya Jennie memastikan, Lisa mengangguk kecil.
"Ada apa, Lisa? Kenapa bayi besar ku ini mendadak manja?" Tanya Jennie.
Lisa melerai pelukannya, mendudukkan Jennie di stool bar dan mengurung tubuh Jennie diantara tangannya.
"Boleh aku ke Thailand?" Tanya Lisa tanpa basa-basi.
Jennie sedikit tercekat mendengar pertanyaan Lisa. Ia tidak melarang Lisa kemanapun, tapi mendengar Thailand rasanya ia takut hal yang sama terulang lagi. Menyadari bahwa Jennie menatapnya cemas, Lisa menangkup wajah Jennie.
"Aku mengajak mu dan juga baby ke sana. Bersama." Ucap Lisa mengelus pipi mandu kekasihnya.
"Tapi aku masih takut, Lisa."
Lisa mendekatkan tubuhnya menghimpit Jennie di meja kitchen set. Jennie menumpukan dua siku ke belakang di atas meja tersebut.
"Kita pergi bersama. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi." Ucap Lisa meyakinkan Jennie.
Jennie menghela nafasnya. Kejadian Lisa saat itu masih membuatnya was-was.
"Percaya padaku, Hon." Lisa mengelus pipi Jennie.
"Aku percaya. Tapi aku masih takut. Bisakah menunggu beberapa waktu?" Tanya Jennie.
Lisa menatap mata Jennie yang jelas terlihat ketakutan. Lisa tersenyum, dua sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Arraseo... Aku bisa menunggu. Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk kremasi Daddy ku."
"I'm sorry.." Jennie menangkup wajah Lisa. Menunjukkan rasa penyesalan karena belum bisa mengikuti keinginan Lisa untuk ikut bersamanya ke Thailand.
"It's okay. Kamu selalu bilang padaku bahwa semua akan baik-baik saja."
Jennie menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia mengalungkan lengannya di leher Lisa, menarik Lisa mendekat dan melumat bibir Lisa.
Cukup lama terlarut dengan ciuman mereka, Lisa melepas ciumannya dengan nafas memburu.
"Jangan memancing ku, Honey.." ucap Lisa. Jennie tersenyum dan menatapnya sayu.
"I lied saying that I was on my period." Bisik Jennie. Lisa membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan Jennie.
"Apa menyenangkan melihat ku tersiksa sepanjang hari?" Tanya Lisa meraba paha Jennie yang dilapisi celana piyama panjang. Jennie terkikik melihat Lisa yang mendadak berubah seperti kelaparan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tie Me Down ✓
FanfictionLisa terjebak dalam labirin rumit pikirannya sendiri. >> I never leave your side - J 21+ 🔞G!P🔞