Delapan

803 66 2
                                        

Riang.

Hyunjin melangkahkan kakinya dengan begitu semangat pagi ini. Senyuman sejuta watt yang persis orang idiot tersemat di wajahnya. Ini bukan musim semi, tapi bunga bunga seolah bermekaran di sekitar Hyunjin—menambah kesan bahwa remaja bahagia itu sedang mengalami syndrome pink romance hingga langkahnya saja seperti mampu memberi kehidupan.

BUGHH

Dan suara manis sebagai OST langkah Hyunjin menuju ruangan kelasnya langsung berhenti ketika wajah penuh kebahagiaan itu menghantam lantai.

Suara tawa iblis terdengar mencekam setelahnya. Itu bukan suara Hyunjin—itu suara iblis lain yang menjadi penguasa di lantai atas. Hyunjin cepat bangkit. Dia menatap tajam Jeonghan yang tertawa sambil mengumpat tentang betapa lucunya pose Hyunjin yang persis seperti ikan pari yang menggelepar di lantai tadi.

Berdecak.

Hyunjin rasa Jeonghan itu sungguh kekanakan. Dia akan biarkan kali ini. Dia takkan membalas si lelaki yang memiliki penyakit "syndrome Princess" itu. Melihat rambut pirang panjang Jeonghan saja membuat Hyunjin berhasrat untuk menariknya.

Tak berbicara sepatah katapun, Hyunjin memilih untuk melewati Jeonghan begitu saja. Masih dengan senyuman sejuta wattnya—Hyunjin rasa ia melihat seluruh wajah manusia di sekolahnya seperti wajah Chan. Dunianya sangat indah.

"What the hell with that sucker?!" Jeonghan mencibir. Dia heran sendiri. Tumben Hyunjin tidak mengubrisnya. Bukankah mereka rival yang selalu peduli satu sama lain? Bahkan tak ada privasi di antara keduanya.

Troublemaker

.

CHANJIN

.

"What's wrong with him?" Itulah kalimat pertama yang menjadi pertanyaan Jhonny—pria tampan komik One Punch Man yang begitu bangga dengan manusia setengah dewa sejenis Hyunjin yang baru saja membuat dia putus dengan kekasihnya.

"Dunno." Moonbin menjawab acuh. Dia sedang fokus dengan makanan di tangannya. Bungkusan kiriman penggemar rahasia Hyunjin yang sudah jelas diketahui oleh satu sekolahan. Siapa yang tidak kenal dengan Vernon yang konon adalah pangeran dari si ratu iblis sekolah. Tapi tidak ada yang terlalu peduli dengan itu. Di sanalah letak hebatnya pemikiran remaja Liberal.

Miya lebih memilih mengutak atik smartphonenya, dia berencana membeli beberapa dari sana. Ingat, dia orang kaya. Dia harus berpikir lebih banyak hanya untuk menghabiskan uang jajannya. Hyunjin selalu iri dengan Miya kalau sudah membahas tentang uang. Meski sebenarnya dia bukanlah seseorang yang kekurangan, hanya saja Miya terlalu kelebihan.

"Boss, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau sudah gila?" ini suara polos Ren—sukses menghancurkan aksi menerawang Hyunjin. Hyunjin berdesis tak suka, tapi dia sendiri yang memerintahkan agar Ren melakukan apapun yang dia suka. Lagipula Hyunjin tidak tega untuk memukul Ren, pria itu seperti wanita di matanya. Lebih baik jika dia memukul Miya.

Hyunjin menyelak. "Aku sedang senang. Happy. Kau tahu? HAPPY!!" Hyunjin sok sok'an berbicara bahasa Inggris, kenyataannya dia masih menggunakan logat korea dalam pengucapannya. Miya, Moonbin dan Jhonny jadi gagal paham.

"Dia mengatakan Happy." Ren membenarkan pengucapan Hyunjin, ketiga bawahan seniornya itu langsung berdecak mengerti. Ren sungguh bisa diandalkan masalah bahasa korea, hobinya dalam mengidolakan boyband dan menonton drama sungguh mempesona.

"Kenapa kau berbahagia?" Miya sedikit penasaran. Apakah kakak Hyunjin yang dikatakan 'gadis' oleh mereka itu pulang ke Los Angeles? Kalau memang begitu Miya akan senang, ingatkan dia untuk memesan batu sapphire atau sejenisnya yang mahal sebagai hadiah untuk memuji kecantikan Yeji. Kenyataannya, Hyunjin hanya akan mengutuk jika kakaknya itu sungguh akan pulang.

TROUBLEMAKER (ChanJin) [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang