Fake Romance 🎗

9 2 0
                                        

"Jangan nangis, gue ada di sini"

Laki-laki itu mensejajarkan tubuhnya dengan Bible kemudian membuka topi hoodienya hingga memperlihatkan wajah dengan pahatan sempurna, rahang yang tegas, hidung yang mancung, mata yang tajam.

Bible menatap orang di depannya dengan tatapan blank otaknya masih loading. Matanya mengerjap lucu.

Laki-laki itu terkekeh gemas, dengan mata yang sembab sehabis menangis, hidung yang memerah, membuat Bible terlihat lucu. Ia tak tahan untuk tidak mencubit pipi chubby milik Bible.

"Imbabnya Abang kenapa nangis, hm?"

Detik berikutnya tubuhnya hampir terhuyung saat Bible menumbruk dadanya dengan keras.

"Abang... Hiks.." Bible memeluk tubuh Abang sepupunya itu dengan Erat. Dia- Raul Javiace Hernandez.

"Bang, Ace.." Bible terisak di dada Raul.

"Ssst... jangan nangis. Imbabnya Ace gak boleh sedih" dengan satu tangan Raul mengangkat dagu Bible, kemudian menghapus air mata Bible yang sudah tercampur dengan air hujan.

Raul melindungi tubuh mereka menggunakan payung yang ia pegang, melingkarkan tangannya di bahu Bible dan berlari ke arah pondok dekat mereka.

Raul membuka hoodie miliknya kemudian menyerahkan kepada Bible.

"Gak usah, buat Abang aja" tolak Bible dan langsung mendapat tatapan tajam dari Raul.

"Gak bisa, ambil! Gue gak mau kalau Imbabnya Abang sampe sakit" mau tak mau Bible menerima hoodie itu dan memakainya. Walaupun sebenarnya tak ada gunanya lagi karena ia sudah basah kuyup sekarang.

Dan sekarang tubuh munggilnya tengelam di dalam hoodie kebesaran milik Raul, imut sekali.

"Imbab gue, imut banget sih.."

"Ish!.. Aku itu udah gede, jangan di panggil gitu lagi malu tau kalau ada yang dengar" gerutu Bible cemberut. Kesal di panggil Imbab oleh Raul

"Gak mau ahhh, gue lebih suka manggil lo kayak gitu" ucao Raul tengil. Bible pikir setelah hampir 3 tahun di Australia sifat tenggilnya bakalan hilang ternyata semakin menjadi-jadi.

Bible mendengus kesal mendengar jawaban dari Abang sepupunya itu. Umurnya terpaut satu tahun, bisa di katakn Raul seumuran dengan Hosea.

"Imbab, Imbab, Imbab" ejek Raul mencolek dagu Bible dengan jahil.

"Ihhh.... gak suka lohhh" kesal Bible dengan kaki yang di hentak-hentakkan, bibir yang mengerucut sebal, dan mata yang berkaca-kaca hampir menangis.

"Tuh kan lo masih aja sama kayak dulu, cengeng!" Raul memeluk Bible dengan tangan yang setia mengelus punggung gadis itu. Hanya kepada Raul lah ia bisa berterus terang, hanya Raul yang tau sikap asli manja dari seorang Bible.

"Iya, iya, gue gak akan manggil lo dengan sebutan itu lagi asal lo jangan nangis" Bible menghapus ingusnya dengan kaus yang di pakai Raul.

"Ihh... Jorok lo!"

"Biarin, wleee" balas Bible menjulurkan lidahnya, Ia kembali menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Raul, nyaman.

Tak ada lagi yang bersuara, masih tetap dengan posisi yang sama. Hingga senyum nakal tercetak di bibir Raul kemudia...

"Imbab" ucapnya pelan menunggu apa yang terjadi dan..

"Aaaaaa.... ngeselin" Bible mendorong Raul hingga keluar dari pondok membuat dirinya basah terkena hujan.

"Awas ya lo!" kata Raul dengan ekspresi seolah-seolah siap untuk memangsa. Bible yang melihat itu tertawa, sungguh pemandangan yang langkah.

Semua hal yang mereka lakukan sedari tadi tidak lepas dari pandangan seseorang, melihat gadis itu bisa tertawa puas dengan laki-laki lain menciptakan rasa panas di hatinya. Rahangnya mengeras, giginya bergelemutuk, ia benci pemandangan itu.

Perahu KertasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang