Malam hari
21:00
Sekarang ini Bible berada di rumah orang tua Ezra, ia berencana meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua. Bible tak ingin persahabatan yang sudah mereka jalin dari kecil harus terputus hanya karena salah paham seperti ini.
"Tante Mira, sama Om Harun kemana, Bi?" tanya Bible kepada Art yang bekerja di sana.
"Udah dua hari Bapak sama Ibu belum pulang ke rumah, Non." jawab Bibi.
Bible menghela napas, lagi-lagi mereka pergi seolah lupa kalau sudah punya anak. Ini lah yang ia takutkan Ezra di biarkan terpuruk sendirian.
"Ezra di mana, Bi?" tanya Bible lagi.
"Non Ezra, ada di kamarnya. Dari tadi pulang sekolah gak mau keluar kamar, tadi juga udah saya panggil untuk makan malam juga gak mau" jelas Bibi dengan Khawatir.
"Aduhh.. Ini gimana atuh ya, Non? Soalnya tadi siang dia juga belum makan" lanjut Bibi menjelaskan.
"Ya udah, aku ke kamar dulu ya. Oh ya aku minta tolong sama Bibi untuk siapin makan malam buat Ezra, biar aku bawa ke atas" pinta Bible dan langsung di laksanakan oleh Bibi.
Tok
Tok
Tok
"Ra! Ini gue Bible, gue masuk ya" Bible sedikit kesusahan membuka handel pintu karena tangannya membawa nampan berisi makan malam untuk Ezra.
"Ini gue bawain mak–"
"EZRA!!" Bible meletakkan nampan di tempat tidur, dan langsung bergegas mencegah aksi nekat sahabatnya.
"UDAH GILA YA LO!"
"Lepasin tangan gue, Bel!" kata Ezra saat tanganya di tahan oleh Bible.
"Enggak! buang pisaunya dulu, baru gue lepas" balas Bible dengan sekuat tenaga manahan tangan Ezra yang ingin melukai tangannya sendiri.
"GUE BILANG LEPAS! YA LEPAS!!"
"GUE BILANG NGAK! BERARTI NGAK!!" balas Bible tak kalah keras.
Melihat Ezra yang sedikit lengah ia segera mengambil pisau itu dari tangan Ezra kemudian membuangnya ke arah pintu.
"Hiks...hiks.." Ezra terisak dengan nyaring, kedua tangannya memukuli kepalanya sendiri
Jika sudah seperti ini Bible sudah tak dapat menenangkan Ezra seorang diri, dengan cepat ia menelpon Dokter Psikolog yang biasa menangani Ezra. Setelah selesai ia mendekati sahabatnya dan memeluk Ezra.
"Stop nyakitin diri lo sendiri, Ra" kata Bible berusaha menenangkan Ezra.
"Gue benci sama lo! Kenapa lo selalu lebih unggul dari gue? Kenapa lo selalu beruntung?! Gue iri sama lo! Gue juga pengen ngerasain bahagia." teriak Ezra memberontak dalam pelukan Bible.
"Lo boleh benci sama gue, lo boleh maki-maki gue, tapi pliss jangan sakitin diri kayak tadi. Gue minta maaf kalau udah bikin lo kecewa" kata Bible mengelus punggung Ezra yang masih terisak.
Ucapannya barusan mampu menyita emosi Ezra untuk meluap. Matanya memanas mendengar ucapan munafik Bible.
"Gue hidup tanda di inginkan oleh siapapun, hidup gue di kendilikan sesuka hati oleh mereka tanpa pikirin perasaan gue. Gue benci karakter diri gue yang lemah, sedangkan lo? Hidup lo sempurna, pasti menyenangkan bukan?" Ezra tertawa miris dengan keadaan hidupnya
"Dunia ini ngak semua harus tentang lo, Ezra! Dunia ini ngak peduli mau lo hidup atau mati, dunia ngak bakalan peduli lo bahagia atau tidak! Dunia ini memang kejam, Ezra. Jangan pernah bandingin hidup lo sama orang lain, harusnya di saat keadaann kayak gini lo belajar buat mencintai diri sendiri" sahut Bible sedikit kesal dengan sikap Ezra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Kertas
Teen FictionJudul yang sudah diberi tanda "🎗" artinya sudah direvisi. Sea mengepalkan tangannya kuat saat mengetahui fakta yang baru saja keluar dari mulut gadis di depannya. Beberapa detik kemudian Sea berpikir lalu menatap tajam gadis itu. "Dua detik" Sea be...
