It's Hurth

8 1 0
                                        

Sore ini cuaca agak mendung pertanda hujan akan datang menguyur bumi. Sore hari hanya dihabiskan Bible untuk memandangi langit hitam dari balkon kamarnya yang hanya ditemani oleh kesunyian.

Air mata turun membasahi pipinya, ia tak menyangka hidupnya akan jadi serumit ini. Semuanya sudah hancur sejak kejadian 'malam itu'

"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gumamnya terisak pelan, dengan kepala yang berada diantara tangan dan lutut, menandakan bahwa dirinya sangat prustasi.

Ia tak sanggup membayangkan wajah kecewa Ayahnya saat tau kejadian buruk yang menimpa dirinya. Bible terduduk dilantai dingin, pusing dengan kehidupannya sekarang.

Apa yang harus Bible lakukan sekarang? Meminta pertanggungjawaban? Tidak! Ia tak sudi lagi dengan laki-laki brengsek seperti Hosea.

Bible mengenyahkan pikirannya sejenak saat melihat hujan turun disertai petir yang bersahutan, Bible langsung berlari kedalam kamarnya memakai sweter miliknya kemudian mengambil kunci mobil didalam laci. Ia bergegas menuju parkiran.

Saat ini tujuannya hanya satu, yaitu Ezra.
Bible sangat tau bahwa Ezra sangat takut dengan hujan yang disertai petir seperti saat ini, Bible takut Ezra kembali berbuat nekat seperti waktu itu. Ya Bible takut trauma Ezra kembali saat tidak ada dirinya disamping Ezra.

Bible tau saat ini Ezra masih enggan untuk bertemu dengan dirinya. Tapi itu tak masalah, yang penting ia harus menemui Ezra sekarang. Tak peduli jika Ezra membentak atau bahkan mendorong dirinya nanti.

Setelah sampai di depan rumah yang cukup mewah, Bible langsung berlari masuk kedalam rumah tanpa mengetuk terlebih dahulu.

"Ezra" panggil Bible setelah masuk kedalam kamar Ezra dan langsung mendengar suara pecahan kaca yang di penuhi umpatan kasar yang berasal dari kamar mandi.

Dengan cepat Bible masuk kedalam dan langsung melihat pemandangan yang menyakitkan, disana ia melihat Ezra yang terduduk di sudut kamar mandi dengan kedua tangan yang menutup telinganya bahkan semua kran air menyala untuk menyamarkan suara hujan dan petir diluar sana.

"Ezra! Astaga!" Bible memeluk tubuh Ezra yang bergetar hebat. Namun yang dapatkan adalah dorongan yang kuat membuatnya menringgis kesakitan.

"Tenang Ezra, gue disini" Bible menahan tangis melihat keadaan Ezra yang masih menutup teliganya, bahkan wajahnya sudah penuh dengan keringat.

Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Bible kembali mendekap erat tubuh Ezra.

"Pergi, kalian semua jahat, hiks... gue benci! Pergi! Pergi! Dari sini" bentak Ezra masih menutup telinga.

"Kau pikir aku wanita bodoh, HAH?! Hukumanmu belum berakhir saat ini anak kurang ajar!!"

"Ta..tapi Mama, Ezra sudah kedinginan, hujanya deras sekali Mama" Ezra kecil memohon kepada Mamanya.

"Apa peduliku?! Kau harusnya mati saja, aku meyesal melahirkan anak lemah dan penyakitan sepertimu kau tahu?!!"

Masa lalu kelam itu terekan kembali di dalam otak Ezra seperti keset rusak, membuat Ezra membenturkan kepala kedinding.

"Maaf" berulang kali Bible mengumamkan kata-kata maaf, menyandarkan kepala Ezra pada dadanya yang sekarang terlihat lemas, sembari membersihkan keringat Ezra.

Bible merenggangkan pelukan mereka, bermaksud untuk menuntun Ezra keluar dari kamar mandi, namun suara petir kembali terdengar membuat Ezra menutup erat matanya dengan kedua tangan yang memeluk Bible erat.

Melihat itu Bible mengelus punggung Ezra sembari berbisik "Gapapa, tenanglah" lalu menuntun Ezra keluar dari kamar mandi.

Saat ini Ezra sangat pucat, Bible sudah mengganti pakaian Ezra yang basah. Sekarang dokter sedang memeriksa keadaan sahabatnya itu.

Perahu KertasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang