Menjadi sulung di keluarga ini, artinya Bobby harus siap dengan tuntutan mandiri dan dewasa sejak dini. Siap untuk berpisah dengan orang tua, siap menjadi pelindung adik-adiknya, siap untuk segala hal. Bagi Bobby itu gak masalah, dia paham alasan orang tuanya jarang pulang ke rumah. Tapi bagaimana dengan kedua adiknya? Hwiyoung dan Sunwoo masih terlalu kecil untuk mengerti dunia orang dewasa.
Seperti hari ini, kedua orang tuanya kembali berpamitan padahal baru saja pulang kemarin. Ada perjalanan bisnis lagi yang harus diurus.
Baik Hwiyoung maupun Sunwoo sekarang berdiri dengan bibir mencebik menahan tangis. Belum puas melepas kangen sama mama papa, sekarang harus pisah lagi.
"Mama gak bisa tinggal aja?" Lirih Bobby. Dia kasian sama adek-adeknya.
Mama tersenyum pahit, sebenarnya tidak tega meninggalkan ketiga anaknya yang masih kecil ini. Tapi dia juga punya tanggung jawab menemani sang suami.
"Mama pasti pulang kok. Abang mau kan jagain adek-adek buat mama?"
Bobby menghela napas, lantas mengangguk pelan. Selalu seperti ini, pikirnya.
Di masa-masa itu, papa dan mama sibuk sekali. Papa harus memimpin perusahaan group milik kakek di Jerman, sekaligus meniti bisnis lainnya di US. Gak heran, bahkan dalam hitungan jam kedua orang tuanya sering bepergian ke berbagai negara. Mengurus inilah, mengurus itulah. Super sibuk.
Dulu keluarganya tidak seperti ini. Dulu papa masih bisa meluangkan waktu di tengah kesibukan, mama pun selalu ada di rumah. Tapi semenjak kakek meninggal, pemegang kendali perusahaan jatuh ke papa. Papa harus mengganti kakek dan mulai sibuk. Dan mama juga terpaksa meninggalkan dunia musik dan anak-anaknya, ikut papa mengurus perusahaan.
"Mama kenapa pergi lagi? Adek nakal ya, makanya pergi-pergi terus." Ucap Sunwoo dengan wajah basah airmata.
Mama menghapus airmata itu, menangkupkan wajah menggemaskan anak bungsunya. Ketahuilah wajah gembul Sunwoo berkali-kali lebih menggemaskan saat menangis seperti ini. Sudut mata bulatnya digenangi airmata. Pipi gembil dan kuncup hidungnya memerah. Astaga bagaimana bisa mama tidak gregetan liatnya. Pengen gigit tapi takut makin nangis.
"Adek gak nakal kok, mama pergi karena ada urusan. Kalau urusannya sudah selesai, mama pasti pulang."
"Tapi tapi adek kan mau sekolah, masa mama gak anterin adek?" Sergah Sunwoo sesenggukan.
Ah iya Senin depan adalah hari pertama Sunwoo masuk PAUD. Anak itu sudah semangat sekali, apalagi ketika mama menjanjikan akan mengantarnya di hari pertama dua bulan lalu. Kini janji itu sirna, mama bahkan tidak bisa memprediksi kepulangannya.
Mama terlihat merasa bersalah, belum sempat menjawab, papa sudah ikut bergabung. Mobil sudah siap, saatnya pergi. Mereka akan ketinggalan pesawat kalau terlambat.
"Mama janji bakal anterin adek ke sekolah nanti. Adek percaya kan sama mama?" Mama mengangkat jari kelingkingnya di depan Sunwoo.
Sunwoo terdiam sejenak, akhirnya membalas mengaitkan jari kelingkingnya. "Pinky promise."
Huh bagian tersulit telah terlewati, mama mengembuskan napas lega. Sekarang ia harus berpamitan pada anaknya yang satu lagi.
"Kak Hwi?"
Hwiyoung yang daritadi hanya menunduk, segera mengangkat kepalanya. Anak itu tidak menangis, hanya matanya sedikit berkaca-kaca.
"Mama sama papa pamit ya." Hwiyoung mengangguk, gak banyak omong. Lagipula ia harus seperti Bobby, terbiasa dengan keadaan keluarganya.
"Jaga diri baik-baik yaa anak-anak mama. Jangan nakal, kasian bibi nanti pusing. Paham, kan ?!" Ketiga anak-anak itu mengangguk.
Mama tersenyum," nah sekarang ayo berhitung."
KAMU SEDANG MEMBACA
It's One : The Beginning
Fanfiction[It's One ver 2] Tiga bersaudara dengan segala kelakuan ajaibnya Bobby si sulung yang santai sejak lahir, Hwiyoung si tengah yang kalem bohong-bohongan, dan Sunwoo si bungsu kebanyakan tingkah Daily life Kim Brothers jaman bocil yang penuh hal luar...
