Sudah tiga hari Bobby mogok makan, mogok keluar kamar, pokoknya mogok semuanya. Bocah sepuluh tahun itu hanya meringkuk di sudut kamar sambil menangis. Dipanggil gak nyaut, disuruh makan gak mau. Bobby marah sebesar-besarnya sama mama papanya.
Bi Ahn udah berulangkali ngetuk kamar sulung Kim itu. Lagi-lagi tidak ada balasan. Bi Ahn menghela napas, membawa kembali nampan berisi sup sayuran kesukaan Bobby.
Rumah besar itu sepi semenjak ditinggal dua biang ributnya. Walaupun sering sakit kepala mendengar keributan khas Sunwoo dan Hwiyoung, tapi jujur sekarang bi Ahn merindukan dua bocah kecil itu. Sejak Bobby kecil hingga sekarang, dialah yang mengurus ketiga anak-anak itu. Bi Ahn juga merasa kehilangan, sama seperti Bobby.
Bagaimana mama dan papa? Mereka berdua masih bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Papa yang merasa itu hanya salah paham dan mama yang terlanjur sakit hati. Hingga hari ketiga, tidak ada titik terang tentang masalah itu. Sementara mama telah mengurus perceraiannya.
Sore hari barulah Bobby keluar kamar. Keadaannya kacau balau. Bobby lupa kapan terakhir kali ia menyentuh makanan. Selama berhari-hari, yang ia lakukan hanyalah menangis.
Bobby melangkah menuju ruang bermain, tempat favorit Hwiyoung dan Sunwoo. Melihat ruangan itu rapi, Bobby malah kembali terisak. Biasanya ruangan itu bakal berantakan, tapi sekarang ruangan luas itu terlihat hampa.
"Abang lagi apa?" Tanya papa yang baru saja kembali dari kantor. Papa tersenyum akhirnya anaknya mau keluar dari kamar.
Bobby menghindar, menjauh dari papa yang berusaha meraihnya. Matanya menatap nanar pada papa. Ini semua karena mama dan papa! Karena mereka berdua, ia berpisah dengan adik-adiknya.
"Papa jahat!" Seru Bobby.
"Abang dengerin papa dulu." Papa masih belum menyerah, berusaha kembali meraih tangan kanan Bobby.
"Papa jahat! Abang benci sama papa sama mama. Gara-gara papa sama mama, abang pisah sama adek-adek. Papa sama mama berantem, kenapa abang sama adek-adek yang harus pisah?! Abang benci sama papa. Abang benci sama mama!" Bobby terengah-engah mengeluarkan seluruh unek-unek di hatinya.
Papa terdiam. Kalimat-kalimat yang diucapkan Bobby seakan menjadi tamparan keras baginya. Terang-terangan Bobby mengatakan benci padanya. Itu bahkan berkali-kali lebih sakit dari pukulan nyata. Papa sadar ia telah gagal menjadi orang tua yang baik.
Bobby segera pergi dari hadapan papa. Kembali masuk ke kamar. Membanting pintu dengan keras tanpa peduli tatapan sendu papa yang terlihat menyedihkan.
Atensi papa kemudian beralih ke ponselnya yang bergetar di balik jas. Ada telpon dari ibu mertuanya. Papa menghela napas, merasa ragu untuk mengangkat. Papa hanya menatap barisan nama di layar itu kosong. Papa menghela napas. Tangannya bergerak menggeser tombol hijau di layar.
"Halo ma..."
🌠🌠🌠
Hari ketiga di rumah oma, kedua bocil Kim lebih sering murung. Hwiyoung lebih pendiam dari biasanya, biarpun masih kecil, dia tau keluarganya diambang kehancuran. Hanya tinggal waktu dia bakal bernasib seperti Hyewon, teman sekelasnya yang broken home, orang tuanya bercerai saat dia umur satu tahun.
Sunwoo lebih parah, melihat anak hiperaktif itu murung jadinya aneh banget. Sunwoo gak paham kenapa dia tiba-tiba di rumah oma. Setiap kali nanya ke Hwiyoung, kakaknya itu selalu jawab 'rumah kita lagi diperbaiki, atapnya bocor jadi kita disuruh tinggal sama oma dulu'. Dan Sunwoo percaya aja. Namanya juga bocil, dikibulin mau-mau aja. Tapi yang bikin Sunwoo murung tuh, kenapa bang Bobby gak ikut juga? Sunwoo tuh gak bisa jauh-jauh dari Bobby. Rasanya sedih banget kalau Bobby gak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's One : The Beginning
Fanfiction[It's One ver 2] Tiga bersaudara dengan segala kelakuan ajaibnya Bobby si sulung yang santai sejak lahir, Hwiyoung si tengah yang kalem bohong-bohongan, dan Sunwoo si bungsu kebanyakan tingkah Daily life Kim Brothers jaman bocil yang penuh hal luar...
