50. Pertemuan Markus

377 62 0
                                        

Distrik 4. Taman Westen pukul enam pagi.

Sesuai janji yang disepakati, Sherly menaiki taxi untuk menuju ke salah satu taman yang ada di kota Distrik empat. Perempuan itu menyusuri taman yang kini masih tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang tengah melakukan aktifitas olah raga seperti jogging, senam dan beberapa yang hanya duduk - duduk menemani keluarga mereka.

Manik kelamnya bergulir. Mengedarkan pandang mencari sosok    pria baya yang pertama kali merekrutnya menjadi agen spy Ribel News.

Dari pesan yang Markus kirimkan, lelaki itu sudah menunggu sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Dan posisinya berada di dekat air mancur.

"Heuu.... Dimana Markus?" Sherly mendesah. Dia sudah berada di dekat air mancur namun sama sekali tidak melihat keberadaan sosok itu. Yang ia lihat hanyalah sekelompok kakek nenek yang melakukan senam.

"Hah, apa mataku buta?" Gumam Sherly. Manik kelamnya masih terus mengedarkan pandang mencari sosok Markus. Dia lalu mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu.

'Aku sudah di dekat air mancur. Anda dimana?'

Hanya dua detik setelah dia mengirimkan pesan itu, pesan balasan yang baru muncul.

'Di sini.'

Hah...

Fack sekali. Di sini dimana? Sherly menjadi jengkel sekarang. Jawaban yang tidak jelas dan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.

"Menyebalkan sekali." Dengkus Sherly.

'Lihat ke kanan. Aku di sana.' Pesan balasan kembali masuk. Sherly membacanya dan menoleh ke arah yang dituju. Keningnya berkerut, pasalnya sosok Markus masih tidak ia temukan.

Di sana hanya ada segerombolan kakek nenek yang melakukan senam.

"Hah, jangan membohongiku pak tua sialan." Gerutu Sherly. Namun tiba - tiba pandangannya seolah ditarik kepada sosok kakek - kakek tua bungkuk dengan memakai setelan putih yang berada di barisan pojok belakang para orang tua berusia lanjut yang tengah melakukan senam.

Manik kelamnya menyimpit mengamati siapa sosok itu. Wajahnya seperti tidak asing. Tapi.....

Mulut Sherly sontak ternganga pun dengan matanya yang membeliak kala menyadari siapa geramgan sosok kakek tersebut.

"Hah.... Itu Markus?" Sherly mendekat   untuk lebih bisa meyakinkan penglihatannya. Dan benar saja, pria tua itu menatapnya lalu seolah memberi dirinya isyarat untuk mendekat dan membawanya pergi.

"Ahh, dia cucuku." Ujar Markus yang kini berpenampilan ala kakek - kakek renta lalu tersenyum kepada teman sebayanya saat Sherly mendekat.

"Aku akan pergi dulu ya!" Imbuhnya menyelesaikan acara senamnya lalu berpamitan kepada teman - temannya yang lain. Sherly mengikuti sandiwara dengan ikut tersenyum lalu menuntun kakeknya yang tampak kesulitan berjalan.

Dia berbisik, "Aduh kenapa harus menyamar segala?"

"Segala sesuatunya tidak boleh ketahuan." Jawab Markus. Pria itu lalu menggiring Sherly untuk ke arah ke mobil hitam yang telah terparkir di sudut taman.

Di sana tampak sudah ada seorang supir yang menunggu.

'Hell, kalau begini kenapa tidak langsung saja menyuruhnya untuk mencari mobil hitam tanpa harus ke taman segala. Benar - benar ribet sekali.' Gerutu Sherly dalam hati. Kalau seperti ini sangat tidak efisien kan?

"Ini semua untuk memastikan bahwa kau tidak diikuti." Seru Markus tiba - tiba seolah mengetahui apa yang ada di pikiran wanita itu saat ini. Markus lalu masuk dan duduk di sebelah Sherly sembari menutup pintu mobil. Bersamaan itulah mobil hitam itu melaju.

Black MilitaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang