Sebuah Penerimaan

277 20 0
                                        

Holaaa👋🤗Sebelum membaca mari kita tekan🌟bersama-sama😉

HAPPY READING, GUYS📖

HAPPY READING, GUYS📖

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nama Fey menjadi sorotan warga sekolah, sampai-sampai ketika selangkah menginjakan kaki ke lingkungan sekolah layaknya ia berjalan di atas red carpet bak selebriti papan atas yang menjadi pusat perhatian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nama Fey menjadi sorotan warga sekolah, sampai-sampai ketika selangkah menginjakan kaki ke lingkungan sekolah layaknya ia berjalan di atas red carpet bak selebriti papan atas yang menjadi pusat perhatian.

Di setiap langkah Fey selalu menjadi tontonan orang-orang  yang kurang kerjaan itu. Terlebih lagi para senior cewek yang selalu menatapnya sinis, lalu bergunjing setelahnya. Apa sih yang mereka lihat dari Fey. Perasaan rambutnya sudah disisir, tidak berantakan seperti biasanya. Bajunya rapi. Rok yang sesuai standar, tidak kependekan dan tidak kepanjangan. Juga sepatu kets putih yang bersih kinclong tanpa noda.

Tapi sepertinya hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Alasannya sudah bisa dipastikan karena Rama.

Sejak insiden yang membuat tangan Fey terluka, dan ketika Rama mengajukan beberapa permintaan yang akhirnya disanggupi Fey, pria itu tidak pernah lagi absen dari pandangan Fey barang sehari pun. Seperti saat ini, sesaat jam istirahat berbunyi, Rama sudah menunggunya.

"Oh, iya. Makasih," ucap Fey pada teman sekelasnya yang baru saja memberitahukan bahwa Rama sudah menunggu di depan kelas.

Dengan gerakan cepat Fey membereskan barang-barangnya yang bercecer di atas meja.

"Makin lengket aja nih kayaknya," celetuk Eko dari bangkunya seraya membalikan badan ke arah Fey. "Ngomong-ngomong, lo jadi ceweknya yang keberapa Fey? Kedua, ketiga, atau kelima?"

Fey mendelik tajam ke arah Eko. Nih, cowok satu mulutnya kadang memang suka lemes. Maklum, kebanyakan suka ikut ngerumpi sama anak cewek. "Tuh mulut kayaknya belum pernah kena jatah sepatu gue ya," kata Fey sedikit kesal atas tuduhan tak berdasar Eko.

Eko hanya cengengesan melihat wajah masam Fey. "Yaelah, canda kali Fey. Peace," ujar Eko seraya mengacungkan dua jari, pertanda damai.

"Makan tuh peace!" seru Fey sambil melempar tisu bekas.

Not your, Babe! [PROSES REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang