Meski memiliki badan yang tergolong mungil seperti anak SD, tapi percayalah, Fey tidak akan gentar oleh ombak maupun badai.
Namun siapa sangka, jika sudah berhadapan dengan Rama, cowok yang katanya naksir padanya, ia akan langsung lari terbirit-biri...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanya karena orang baru, yang lama pun terlupakan dan ditinggalkan. Apakah adil?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fey memainkan kotak musik bola salju pemberian Rama. Ia menaruhnya di atas meja. Awalnya, Fey ingin membuangnya saja, tapi setelah dipikir-pikir sayang juga. Lagipula Fey menyukainya, jadi ia lebih memilih menyimpannya.
"Musiknya enak banget, sih," kata Fey sambil memeluk erat boneka beruang coklat itu. Ia mengangkat boneka beruang pemberian Rama sejajar dengan wajahnya. "Bonekanya juga lucu. Hehe."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Fey! Kata Iyem paket yang dateng tadi siang disimpen kam---." Suara Mama terhenti ketika membuka pintu kamar dan mendapati kertas kado yang berceceran. Ia menatap kotak hitam yang terongok begitu saja di lantai, lalu mengalihkan tatapannya pada Fey yang berada di meja belajar.
"Mama udah pulang?"
"Paket yang tadi, kamu buka?" tanya Mama tanpa menghiraukan pertanyaan Fey.
"Iya. Itu dari Rama," jelas Fey agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa ia telah membongkar paket milik Pak Aji.
"Rama pacar kamu yang pernah dateng ke sini itu?" tanya Mama antusias.