Penyesalan

13 0 0
                                        


HAPPY READING GUYS📖

Kalau aku mau kamu tetap stay, gimana?

*****


Audy membuka lemari dapur dan menarik keluar tumpukan piring. Tangan kirinya menopang tiga piring, tangannya yang lain bersiap meraih sendok, tapi Gerald yang baru muncul mendahului, menyambar benda itu.

"Gue bantu," ujar Gerald dengan suara pelan.

"Gue bisa sendiri," gumam Audy, nada suaranya yang datar menunjukan bahwa ia sedang menahan diri untuk tidak menunjukan emosinya.

Gerald tidak menjawab, ia hanya mengambil garpu dari telapak tangan Audy yang tampak masih ditutupi plester, ia menumpuknya dengan sendok yang tadi direbutnya.

Audy mendengus pelan, kemudian meraih pisau daging kecil.

Tangan Gerald lagi-lagi bergerak cepat. "Pisau biar gue."

Audy berusaha menariknya duluan. "Nggak usah. Ini cuma pisau biasa, bukan granat."

"Audy." Nada Gerald merendah, nyaris seperti peringatan.

"Apa?" Audy menatapnya tajam, pandangan yang selama ini ia gunakan untuk menutupi segala rapuhnya. "Lo mau ambil ini juga?"

Gerald mengulurkan tangan, bukan untuk mengambil pisau, tapi seperti ingin memastikan Audy mendengar. "Audy, lo nggak harus ngelakuin semuanya sendiri."

Audy tertawa pendek, kehampaan terdengar jelas di telinga. "Lucu. Lo ngomong kayak gitu seakan lo pernah peduli."

Gerald menegang. "Gue peduli."

"Peduli?" Audy memutar badan, menaruh piring di meja dengan sedikit terlalu keras. "Sejak kapan? Sejak gue hampir mati baru lo sadar gue ada?"

Gerald menghembuskan napas panjang, mencoba menahan diri. "Gue tau lo bakal mikir kayak gitu, tapi—"

"Tapi lo kasihan sama gue, itu kan maksud lo?" Audy memotong cepat, tajam. "Gue udah bilang, gue nggak butuh dikasihani, Ger. Lo nggak perlu pura-pura jadi pahlawan buat orang gila kayak gue."

Gerald melangkah mendekat, suaranya lebih serius. "Harus berapa kali gue bilang kalo gue nggak pura-pura, Audy. Lo pikir gue nggak takut waktu liat lo di rumah sakit? Lo pikir gue nggak—"

"Stop." Audy mundur satu langkah. "Gue nggak mau denger kalimat lo yang setengah-setengah. Dulu waktu gue nyamperin lo, lo dorong gue jauh-jauh, lo seakan nggak sudi bahkan sekedar liat muka gue. Tapi sekarang, saat gue berusaha ngejauh dari lo, lo tarik gue balik."

Gerald terdiam. Hening yang menyesakkan memenuhi dapur. Ia tahu, semua perlakuannya dulu tidak akan bisa ia hapus atau bahkan dilupakan begitu saja. Dan bahkan ia tidak bisa menyangkal apapun. Semua kebenaran itu seakan terpampang nyata di depan matanya.

Audy melanjutkan, suaranya melemah sedikit. "Gue cuma pengen lo berhenti. Berhenti sok perhatian. Berhenti ngikutin gue. Berhenti bikin gue mikir... kalo ada kemungkinan kecil lo beneran peduli."

Gerald menatapnya lama, seperti mencoba membaca apa yang ada dibalik dinding Audy.

"Audy..." Suaranya rendah, nyaris seperti pengakuan yang ditahan lama. "Gue nggak peduli sama lo karena kasihan."

"Terus apa?"

"Karena gue takut kehilangan lo lagi," Akhirnya ia berkata, pelan tapi jujur.

Audy membeku.

Gerald menunduk sedikit, bukan karena lemah, tapi karena akhirnya menyerah untuk tetap diam. "Gue mungkin salah dari awal. Gue mungkin goblok. Tapi yang gue lakukan sekarang, bukan kasihan. Gue cuma—gue cuma nggak mau kejadian itu keulang."

Not your, Babe! [PROSES REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang