HAPPY READING GUYS📖
Tolong cintai aku sekali lagi.
*****
"Fey..."
Suara itu pelan. Tapi cukup untuk membuat jantung Fey langsung berhenti sepersekian detik. Gelenyar aneh seketika menyergap. Refleks, Fey pun menoleh dan nyaris menahan napas.
Di sana, di ambang pintu menuju halaman, berdiri seorang pria berjaket hitam, rambutnya terlihat sedikit lebih panjang dari terakhir kali Fey melihatnya, dan mata yang... tetap sama. Tajam sekaligus hangat secara bersamaan, tampak seperti menyimpan sesuatu yang dalam.
Rama.
Fey sampai mundur setengah langkah. Genggaman tangan Millo sudah terlepas beberapa saat lalu.
"Rama..."
Pria itu tersenyum kecil, tipis, tapi nyata. "Sorry telat. Macet."
Fey terlalu kaget sampai hanya bisa mengedip beberapa kali. "Lo... dateng?"
Alga dari jauh berseru, "RAMA DATANG JUGAA!" Lalu high-five dengan Gerald, seolah mereka sudah taruhan mengenai kedatangan Rama.
Millo bertepuk pelan. "Hah, akhirnya semua lengkap."
Fey masih terpaku.
Rama berjalan mendekat, langkahnya santai, tapi tatapannya langsung tertuju tepat ke arah Fey, tanpa jeda, tanpa berpaling.
Dan saat ini ia benar-benar berdiri di depan gadis itu.
"Kamu kira aku nggak bakal dateng?" Tanya Rama pelan dengan mata yang sama sekali tidak teralihkan. Penuh kerinduan. Bukan yang meledak-ledak, melainkan kerinduan sunyi, pelan, tapi dalam. Ada tarikan halus di dadanya. Ada rasa lega aneh yang tidak sempat ia filter. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rama merasa ingin memanggil namanya lebih keras. Dan ketika mata mereka bertemu, dalam sepersekian detik itu, Rama sadar:
Ia rindu gadis mungilnya itu. Lebih daripada yang ia kira.
Fey menelan ludah, suaranya tercekat. "Melvin bilang lo nggak akan dateng."
Rama menatapnya lama. Seolah menimbang sesuatu. "Aku tadinya nggak mau dateng. Aku ngerasa kamu perlu jarak."
Fey memalingkan wajah. Dadanya sesak.
Rama merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Ia memperlihatkan layar penuh chat yang tak dibalas Fey. "Ini tuh... penolakan? Atau kamu cuma takut?"
Fey terdiam. Suara teman-teman di belakang jadi seperti noise jauh yang tidak terdengar maknanya.
Rama menurunkan ponselnya. "Tapi aku dateng. Karena kalo aku nggak dateng, kayaknya aku bakal nyesel."
Fey mengerjap cepat, jantungnya seakan memukul tulang rusuk.
"Kenapa?" Suaranya kecil.
Rama menatapnya dalam, begitu dalam sampai Fey merasa seluruh kegugupannya terekspos jelas di hadapan pria itu.
"Karena aku pengen ngomong sama kamu," jawabnya. "Karena aku belum selesai sama kita."
Dada Fey mendadak karena kaget campur lega. Sesakit apapun rasanya dua minggu ini. Sehancur apapun penyesalan yang ia pikul. Saat ini, ia hanya bisa menatap Rama yang berdiri di depannya. Penyesalan dua minggu itu seperti ditarik ke permukaan sekaligus. Semua kata 'harusnya' bergulung jadi satu. Semua kerinduan yang ia simpan rapat-rapat meledak detik itu juga.
Pria itu mengambil langkah setengah maju.
"Fey," panggilnya, suaranya nyaris seperti bisikan. "Boleh aku denger sekarang, apa yang sebenernya kamu rasain?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Not your, Babe! [PROSES REVISI]
Teen FictionMeski memiliki badan yang tergolong mungil seperti anak SD, tapi percayalah, Fey tidak akan gentar oleh ombak maupun badai. Namun siapa sangka, jika sudah berhadapan dengan Rama, cowok yang katanya naksir padanya, ia akan langsung lari terbirit-biri...
![Not your, Babe! [PROSES REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/180882717-64-k511947.jpg)