Harapan Kecil

21 0 0
                                        


Hai, semuanya👋🏻
Sudah lama ya...
Penulis yang sering hilang tanpa jejak ini akhirnya balik😭 maaf banget karena update-nya lama, hidup kadang suka 'plot twist' sendiri. Aku sangat menghargai setiap pembaca yang masih bertahan mengikuti cerita ini. Terima kasih karena masih tinggal di sini, masih membuka cerita ini, dan masih menunggu meski aku sempet hilang cukup lama.
Dan kali ini aku datang bawa kabar baik:

CERITA NOT YOUR, BABE! BENTAR LAGI TAMAT!🎉

Tinggal beberapa bab terakhir, jadi siap-siap ya.
Aku berharap ending-nya bisa membayar semua penantian kalian.
Terima kasih sudah tumbuh bersama karakter-karakter ini. Makasih udah setia nunggu dan nggak uninstall Wattpad gara-gara aku😭😭


HAPPY READING GUYS📖





*****

Kamar Fey berantakan seperti biasa: baju-baju yang baru dipilih dan tidak jadi dipakai menumpuk di kasur, satu kotak hairpin terbuka di lantai, dan cermin rias yang dipenuhi post it yang justru membuat kamarnya terlihat makin pusing.

Tapi malam ini, Fey bersiap lebih lama dari biasanya. Ia mengenakan crop top putih dan cardigan tipis biru muda serta rok pendek bergaris-garis berwarna senada dengan cardigannya. Tampak ceria, manis, dan kalau dirinya boleh jujur, sedikit berusaha lebih cantik dari biasanya.

Dan itu tentu saja bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seseorang yang mungkin datang.

Di depan cermin, Fey merapikan lip tint nya sedikit.

"Kayak gini aja... cukup, kan?" katanya pada dirinya sendiri. Lalu ia menunduk, menyadari hatinya berdegup terlalu cepat.

Ia menarik napas panjang. Sedikit meringis kecil. "Yaampun, Fey. Baru juga dandan, tapi rasanya udah kayak mau ikut masuk arena medan tempur aja."

Sebelum ia memantapkan hati untuk keluar kamar, ia kembali menatap lekat-lekat sosok di depannya itu. Memandang dirinya sendiri sedikit lebih lama. Senyumnya muncul, tipis, dipaksakan.

"Oke, Fey. Lo bisa... mungkin."

Ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan kaliamat itu.

Meski ia sendiri tidak yakin dengan kalimatnya sendiri, ia berusaha untuk tetap maju. Sebab tidak ada jalan kembali. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Dengan langkah cepat dan tergesa-gesa Fey turun ke lantai bawah, sendal slip on sudah tepat di kakinya. Meski sedikit kebesaran, tapi Fey tidak punya waktu untuk mencari sendal yang lainnya, sebab beberapa sendal miliknya rupanya diam-diam dibawa oleh Fea untuk liburan. Fey sempat menelepon adiknya itu dan mengomel, namun Fea justru malah mengatai Fey pelit.

Sesaat setelah turun dari tangga, Bik Iyem muncul dari dapur sambil mengelap tangannya. Sebelumnya Fey memang sudah mengatakan bahwa malam ini ia akan pergi.

"Non, mau berangkat sekarang?"

"Iya Yem, pak Asep udah di depan kan?" tanya Fey seraya tetap berjalan menuju pintu. Tapi sesaat ia membuka pintu rumah, baru satu langkah keluar...

Fey balik lagi.

Bik Iyem langsung mengangkat alis. "Ada yang ketinggalan, Non?"

"Dompet gue Yem!" Serunya sambil lalu.

Dengan gerakan secepat angin, ia naik dua anak tangga sekaligus. Beberapa detik kemudian suara langkahnya turun lagi.

Namun belum sempat ia mencapai pintu...

Not your, Babe! [PROSES REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang