Matanya terbuka cepat. Ia bergegas duduk dengan tubuh yang kaku. Nala mengedarkan pandangan. Rasanya baru semenit yang lalu ia memejamkan mata akibat pening yang melanda. Namun tampaknya hari sudah berganti di luar sana. Seberapa lama ia tertidur?
Suara ricuh dari luar mengundang rasa penasaran. Suara berisik yang begitu familiar di telinga. Nala merenggangkan badan sejenak sebelum turun dari kasur dan memeriksa kondisi di luar sana.
Ruang tamu yang biasa sepi, atau sekedar diisi oleh Kakek yang membaca koran, kini ramai oleh tawa seorang wanita paruh baya dengan pakaian nyentrik yang khas. Mata Nala terbuka lebar. Bertepatan dengan wanita itu melirik padanya dan berteriak heboh.
"Ya Allah, anakku!!" Bunda Elis membuka tangannya lebar-lebar, berharap Nala akan berlari dan berhambur dalam pelukannya.
Namun sayang, anak Bunda Elis yang satu itu punya gengsi setinggi gunung Everest. Nala hanya berjalan santai mendekat, kemudian mengecup punggung tangan kedua orang tuanya.
"Nala, kamu sekarang umur berapa, ya? Udah lama Bunda gak lihat kamu," kata Bunda Elis seraya menepuk bahunya yang kokoh.
"Masih delapan belas, Bun." Ia hanya pergi selama beberapa minggu, tolong. Tidak mungkin usia Nala bertambah hanya dalam jangka waktu sependek itu.
"Emang udah gede anakmu, Lis. Buktinya udah punya pacar sekarang," celetuk Nenek membuat Nala terbatuk.
Bunda Elis melepas tangannya dari sang anak. Dia mendekat mencondongkan tubuh ke arah Nenek yang sudah siap untuk berbagi cerita. Wanita lansia itu melirik Nala dan tersenyum, seolah berkata bahwa ia tahu semuanya. Tapi, apa yang Nenek tahu? Karena selama tiga minggu ini, Nala berani sumpah bahwa status jomblo sejak lahirnya masih belum terpecahkan.
"Nala pacaran, Mak?" tanya Bunda Elis nyaring. Ayah di sampingnya hanya tersenyum sampai mata menyipit. Karakter keduanya memang bertolak belakang. Bunda Elis yang cerewet, dan Ayah yang pendiam bak ice prince di Wattpad.
"Iya! Sama si itu, siapa, La, namanya? Anaknya Pak Subroto, lho! Kenal Pak Subroto, 'kan? Yang rumahnya di ujung sana," kata Nenek seraya menunjuk ke suatu arah. Entah itu barat, timur, selatan, utara. Nala yakin betul bahwa yang dimaksud adalah rumah Kaira.
"Enggak pacaran, Nek," bantahnya dengan pipi memanas.
Nenek menyipit curiga. "Masa, sih? Terus ngapain tadi anak gadis Pak Subroto ke sini nyari kamu?"
Mulut Bunda Elis ternganga dengan mata melotot lebar. Ia menunjuk Nala curiga. "Betul, tuh, kata Nenek!"
Tak kalah terkejut dengan Bunda Elis yang mendengar kisah cinta anak bujangnya, Nala pun lebih terkejut lagi mengetahui Kaira yang menghampiri rumah ini sesaat ia tertidur. Pertama kalinya Nala super kesal karena tidak bangun begitu pagi.
"Nek, tadi Kaira ke sini?" tanya Nala memastikan.
"Oh, iya, bener! Namanya Kaira!" seru Nenek antusias, "Iya, tadi Kaira ke sini."
"Oh, Neng Kaira! Dulu masih kecil banget waktu terakhir Elis lihat. Pak Subroto itu enggak tinggal di sini lagi, ya, Mak?"
Mengabaikan percakapan sepasang ibu-anak dengan Ayah yang tetap sunyi di antara mereka, Nala bergegas beranjak pergi keluar rumah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari jejak kedatangan gadis itu. Kemudian Nala buru-buru memakai sandal (entah milik siapa yang melekat di kakinya kini) dan berlari pergi ke ladang bunga matahari.
Harapannya menemukan Kaira di sana pupus sudah. Ladang itu senggang tak berpenghuni, seperti sebagaimana hari-hari sebelumnya. Kaira tidak ada di sana seperti yang Nala harapkan.
Rumah. Mungkin saja ia ada di rumahnya. Tanpa pikir panjang, kaki Nala membawa ia melangkah ke sana. Kembali lagi di depan gerbang rumah yang baru ia kunjungi kemarin sebelum kehujanan dan terserang flu (sekarang Nala sudah membaik). Dengan jantung berdebar, Nala mulai menekan bel. Ia menunggu dengan debaran yang masih sama. Membayangkan Kaira akan membukakan pintu seraya tersenyum padanya. Bicara basa-basi karena tidak bertemu selama berhari-hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kunjungan Bulan Juni
FanfictionDi antara mekarnya bunga matahari, matanya hanya tertuju pada sesuatu di puncak sana. Bunga paling cantik di antara para bunga. Bunga yang membuatnya percaya akan cinta pandangan pertama. • • • Karena galau akibat ditolak dua kali oleh pergurua...
