Pagi ini Nala bangun pagi. Sangat pagi, super pagi, begitu pagi. Lebih awal daripada Nenek! Luar biasa. Nala menyesap teh hangatnya dengan bangga. Pagi ini begitu damai. Cuitan burung begitu merdu di telinga. Suasana pagi yang sangat cocok dengan secangkir teh hangat. Nala menyesap teh hangatnya lagi.
Nenek kembali dari pasar dengan tas belanjanya yang penuh. Nala Deniswara yang dalam suasana hati baik (berkat bangun pagi), meninggalkan kursi teras dan membantu Nenek membawa tas belanja ke dapur. Nala mendapat sebuah ucapan terima kasih dan senyuman manis dari Nenek. Ia kembali pada kursi teras. Nala menyesap teh hangatnya.
Satu jam telah berlalu. Teh yang semula hangat berubah dingin sesuai suhu ruang. Namun Nala masih menyesapnya seolah-olah itu adalah teh panas. Dihabiskan perlahan-lahan. Mustahil ada orang yang menghabiskan waktu lebih lama untuk minum secangkir kecil teh hangat daripada Nala. Mungkin ini adalah caranya menikmati hidup. Menikmati pagi yang begitu tenang. Nala menyesap tehnya lagi—
"NALA! Tolong aku. S.O.S.! Urgent! Penting! Ayo!"
Kaira muncul dengan tiba-tiba. Ia terengah dengan wajah memerah dan keringat di dahi. Walau responnya agak lambat, Nala tersedak. Ia batuk-batuk cukup lama. Suaranya menggelegar seperti batuk pria dewasa di iklan obat batuk. Kaira yang butuh bantuan mulai menatap khawatir.
"Kamu enggak apa-apa?" tanyanya ngilu. Sumpah, suara batuk Nala terdengar sangat menyedihkan.
Pada akhirnya Nala dibawa Kaira menuju sungai tempat ia dan Kakek memancing terakhir kali (tentunya setelah Nala selesai terbatuk). Karena jalannya terlalu lamban, Kaira menarik lengan Nala agar bergegas.
"Ah, itu! Untung masih ada," katanya, lantas menghela napas lega.
Nala mengernyit. Ia menoleh ke kanan-kiri, mencari-cari apa yang membuat Kaira menghela napas lega karena kehadirannya.
Tidak perlu waktu lama untuk Nala mencari. Gadis itu menepuk pundaknya dua kali, lalu menunjuk sesuatu di tengah aliran sungai yang tidak terlalu deras. Di atas sebuah batu yang dikelilingi sungai mengalir. Seekor kucing berbulu putih-abu tengah berdiri waspada dengan keempat kakinya. Dia menatap ke arah Kaira dan Nala seolah minta bantuan. Aliran sungai di sekitar sini memang tidak terlalu dalam. Berjalan sedikit lagi ke kanan di mana spot mancing Kakek dan Nala, di sana lebih dalam. Namun mungkin sebatas betis laki-laki dewasa juga terlalu menyeramkan untuk kucing berbulu putih-abu takut air itu.
Nala turut kasihan. Kucing itu mungkin hampir menangis ketakutan. Namun rasa takut Nala pada kucing itu lebih besar daripada rasa takutnya pada hantu. Ia sudah dapat mengetahui tujuan Kaira membawanya ke sini. Tidak lain dan tidak bukan ...
"Tolongin anak kucing itu ...."
Kan.
Nala memejamkan mata. Ia mengurut batang hidungnya perlahan. Hal yang paling ia takuti di dunia ini adalah KUCING. Walau banyak sekali manusia yang luluh akan wajahnya yang menggemaskan, Nala tidak akan pernah tertipu. KUCING hanyalah hewan berbulu yang membuat Nala merinding. Mereka adalah kumpulan bola bulu yang membuatnya menggelinjang geli. Kecoa? Tikus? Biawak? Buaya? Kadal? Kalajengking? Tidak ada apa-apanya dibanding makhluk berbulu bernama KUCING itu.
Nala menolak, pasti menolak dan akan menolak. Sampai akhirnya matanya bertemu dengan milik Kaira yang berbinar-binar. Gadis itu memohon lewat sepasang mata bulat. Tatapannya mirip dengan milik kucing yang terjebak di tengah arus sungai. Nala lemah dan bisa saja kelepasan mengajak Kaira menjadi kekasihnya sekarang juga.
Untung saja akal sehatnya masih utuh. Nala tidak menyinggung sesuatu seperti mengajak berkencan.
Pada akhirnya Nala menyerah pada tatapan memelas Kaira. Celana panjang coklat muda digulung sampai sebatas lutut. Ia melakukan peregangan kecil pada tangan. Nala melepas sandal dan mulai turun menerjang arus sungai yang tidak lebay-lebay amat. Masih aman untuk digunakan berendam. Sementara Kaira memperhatikan dari tanah kering.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kunjungan Bulan Juni
FanfictionDi antara mekarnya bunga matahari, matanya hanya tertuju pada sesuatu di puncak sana. Bunga paling cantik di antara para bunga. Bunga yang membuatnya percaya akan cinta pandangan pertama. • • • Karena galau akibat ditolak dua kali oleh pergurua...
