*Chapter 15*

2.7K 219 8
                                    

Tirai penutup pintu kaca balkon telah dibuka oleh Thaka, sehingga sinar matahari bisa menembus masuk ke dalam kamar Gara.

Pemuda pemilik kamar tersebut mengerjapkan netranya dan sedikit menyipit saat silau terhadap cahaya yang masuk ke retinanya. Gara meraba area wajah dan menyentuh nasal kanula yang bertengger di hidungnya. Detik berikutnya ia melepas benda tersebut, kemudian menoleh kearah abang pertamanya yang sedang duduk di sofa kecil, dengan kepala menunduk sambil memainkan ponsel.

"Bang.." Panggilnya dengan suara serak. Gara lantas menegakkan tubuhnya untuk duduk.

Thaka menoleh ke sumber suara yang telah memanggilnya, "Kenapa nasal kanulanya dilepas, dek? Pakai lagi biar gak sesak!" Thaka berdiri dan meletakkan ponsel nya diatas nakas, melangkah mendekati Gara. Membantu adiknya itu duduk bersandar pada kepala kasur.

"Gue pingsan lagi ya?" Tanya Gara lirih.

Thaka mengangguk, "Mau ya pasang pacemaker? Biar kamu gak sering pingsan kayak gini lagi,"

"Gue takut, bang. Gue gak bisa bayangin gimana rasanya ada benda kayak gitu terpasang didalam badan gue, terlebih lagi itu di jantung," lirih Gara pada abangnya.

"Gak usah takut.. ini demi kebaikan kamu, dek. Kita harus cepat mengobati aritmia kamu sebelum tambah parah," Balas Thaka lembut mencoba membujuk adiknya.

Gara terdiam dengan kepala menunduk. Tidak membalas perkataan abangnya.

"Kalo kamu mau pasang pacemaker, abang bakal turutin semua yang kamu mau, gimana?" Thaka tersenyum sembari menaik turunkan kedua alisnya.

Gara masih diam tapi kini ia tengah memikirkan tawaran dari abangnya yang cukup menggiurkan itu.

Thaka menatap Gara, menunggu jawaban dari sang adik. Tak lama kemudian Gara mengangguk lalu berkata, "Tapi abis itu gue mau kerja. Boleh, kan?" Sekarang giliran Gara menatap abangnya yang nampak kaget mendengar perkataan darinya.

"Hmm.. kalo itu sebaiknya kamu  ngomong dulu ke papa. Lagian kenapa pilih mau kerja? di umur kamu yang sekarang tuh harusnya kuliah dulu kayak si Jerry," Thaka sungguh bingung dengan keinginan sang adik.

"Gak pengen kuliah, bang. Gue males kalo harus mikirin materi pelajaran lagi, bikin pusing. Mending kerja, bisa dapat uang. Gue pengen belajar mandiri. Gue 'kan cowok,"

"Nanti kamu coba ngomong ke papa dulu ya, abang gak bisa setuju kalo papa gak kasih izin. Apalagi kondisi kamu 'kan beda dari orang sehat,"

Kalau Thaka boleh nebak sih sudah pasti papanya tidak akan mengizinkan.

Gara terdiam senjenak kemudian berkata, "Tapi nanti bantuin ngomong ke papa ya, bang?"

"Iya nanti, ya?! Untuk sekarang kita fokus sama kesehatan kamu dulu, oke?!"

Gara mengangguk. Kemudian beralih melihat sekeliling kamar, "Abang gak bawa juju kesini?" Tanyanya saat tidak melihat kucingnya di dalam kamar.

"Oh iya, abang lupa! Dari tadi abang jagain kamu, nunggu kamu bangun. Kalo gitu abang ke bawah dulu ya, sekalian mau sarapan bentar. Abis itu abang bawa juju kesini. Kamu juga sekarang sarapan terus minum obat, itu maid ada bawain makanan tadi disuruh papa," Thaka menunjuk kearah meja kecil yang berada di samping sofa tempat ia duduk tadi.

"Berarti Papa sama bang Shino udah berangkat kerja dong?"

Thaka melirik jam digital diatas nakas, "Kayaknya sih udah,"

"Padahal pengen minta maaf sama bang Shino," balas Gara dengan wajah lesu. Yang menjadi alasan dirinya keluar kamar tadi,yaitu karena ingin sarapan bersama sekaligus ingin meminta maaf pada abangnya itu, tapi apalah daya tubuhnya tidak mendukung.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang