*Chapter 70*

1.2K 108 23
                                        

*Ini termasuk double up gak sih hehe, walaupun agak telat 🤣

Semoga menghibur!

🩵🩵🩵

◾️◾️◾️◾️

"Temannya Gara? Gara 'kan gak punya teman." Celetuk Shino dengan frontal.

Atensi semua orang yang awalnya mengarah ke Thaka, langsung teralihkan memandang Shino dengan tatapan mendelik. Mulut Shino memang selalu minta ditabok. Yang dikatakannya memang benar, tapi tidak harus diperjelas juga, kan? Apalagi fakta itu adalah salah satu hal yang selama ini cukup sensitif untuk Gara dengar. Karena setiap mengingat fakta itu sering membuat nya sedih.

"Pasti cuma ngarang tuh penyusupnya biar gak kita laporin ke polisi." Shino melanjutkan celetukannya mengenai penyusup yang mengaku-ngaku sebagai teman sang adik.

"Tapi kenapa mereka bisa tau nama Gara coba? Berarti mereka memang kenal Gara dong." Timpal Jerry sambil melirik Gara yang nampak meremat kedua tangan setelah mendengar ada penyusup yang mengaku sebagai temannya. Apa Gara memikirkan hal yang sama, yang juga ia pikirkan sekarang? Entah kenapa ada satu orang yang langsung terlintas dipikirannya saat ini.

"Iya juga ya. Yaudah lah daripada kita pusing dan penasaran, mending kita langsung liat aja penyusup nya. Kuy, kita pulang!" Ajak Shino yang ditujukan untuk Papa, kembaran, dan juga adiknya.

"Gak bisa. Gara harus balik ke rumah sakit secepatnya." Ujar Adryan menolak. Kalau mereka pulang ke mansion terlebih dahulu, itu pasti akan semakin mengulur waktu. Adryan sudah tidak sabar ingin cepat membawa Gara kembali ke rumah sakit. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, jika Gara sampai terlambat di periksa dan terlambat mendapat penanganan medis.

Adryan punya alasan kenapa sampai bisa secemas itu. Meskipun tadi ia sempat memberikan Gara obat. Ia  masih merasa cemas karena sejak tadi ia diam-diam memperhatikan Gara dari tempat nya duduk. Wajah putranya yang terlihat pucat dan berkeringat itu sesekali mengernyit. Tangannya yang mengepal nampak tremor. Adryan juga menyadari kalau cara Gara menarik napas terlihat tidak normal, seperti menahan sesak. Adryan tahu bahwa putra bungsunya itu sedang berusaha menutupi rasa tidak nyaman di tubuhnya.

"Paaaaa... ambil Juju dulu. Tolong~~"

Bahkan suara yang baru saja Gara keluarkan itu terdengar lirih di telinganya.

Adryan menghela napas begitu tersadar dari lamunannya yang tengah asik mengamati si bungsu.

"Shino, kamu datangin si Arabella itu dan ambil Juju. Nanti papa transfer uangnya ke kamu." Putus Adryan. Mau tidak mau ia harus rela membayar perempuan yang telah menyandera kucing kesayangan Gara. Supaya putranya itu lekas mau diajak ke rumah sakit.

Shino membulatkan mata mendengar perintah Adryan.

"Papa serius mau nebus Juju pake uang 1 M? Sayang banget loh uangnya, Pa." Katanya tidak setuju dengan tindakan Adryan yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk seekor kucing.

"Papa lebih sayang anak papa dibanding uang. Demi anak sendiri apa sih yang enggak." Balas Adryan dengan santainya. Padahal sebentar lagi akan mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak main-main.

Mulut Shino menganga tidak percaya,"Jadi maksudnya Papa juga udah anggap Juju kayak anak sendiri gitu? Sampe rela ngeluarin uang 1 M buat bawa balik itu kucing." Tanyanya sambil menggelengkan kepala, memandang sang papa dengan dramatis.

Adryan berdecak, "Papa ngelakuin itu demi Gara, Shino. Bukan karena Papa udah anggap kucing jadi anak sendiri. Udah, kamu gak usah banyak omong! Lakukan aja yang papa bilang!" Titahnya tegas.

About Gara [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang