*Chapter 68*

895 106 39
                                        

Jerry menggerak-gerakkan punggung nya yang terasa berat karena menjadi sandaran kepala Gara. Cengkeraman kuat tangan sepupunya yang semula menarik bagian samping jaket yang ia kenakan kini terasa melonggar. Jerry tidak merasakan tarikan pada jaket nya lagi dan itu membuatnya cemas.

"Gar?! Lo gak pingsan, kan?! " Fokus Jerry terbagi antara fokus mengendarai motor dan fokus memastikan Gara yang berada di boncengan masih dalam keadaan sadar atau tidak.

"Gar?!" Jerry kembali menggerak-gerakkan punggungnya karena tidak mendapat sahutan.

"Jangan gerak-gerak." Gara menyahut dengan pelan. Tangannya kembali mencengkram jaket Jerry.  Badan Jerry yang bergoyang-goyang membuat kepala nya yang tengah bersandar menjadi semakin pusing.

"APA?!" Tanya Jerry dengan suara berteriak. Ia tidak mendengar suara Gara yang teramat pelan. Suara mereka beradu dengan suara kendaraan-kendaraan lain.

"JANGAN GERAK! Sshhh.. " Setelah ikut berteriak untuk manyahuti pertanyaan Jerry, Gara kemudian mendesis sembari meringis karna kepalanya berdenyut.

"Oh, oke oke. Jangan pingsan! Bentar lagi nyampe!"

Setidaknya Jerry bisa sedikit bernapas lega setelah memastikan bahwa Gara yang berada di boncengan masih dalam keadaan sadar. Sehingga ia bisa lebih fokus pada jalanan.

🔹◾️🔹◾️

"Ayo, turun!"

Mereka sudah sampai di halaman mansion oma. Jerry sudah memarkirkan motornya disana, kemudian pelan-pelan turun dari motor sembari menahan tubuh Gara yang terlihat sangat lemas. Kalau saja Jerry tidak cepat menahan tubuh Gara, sudah pasti sepupunya itu akan terjatuh dari motor.

"Bentar," Kata Gara lirih dengan kepala menunduk. Sebelah tangannya nampak bertengger di dada.

"Kenapa? Dada lo sakit?" Tanya Jerry khawatir.

"Kepala gue sakit." Keluh Gara masih dengan kepala menunduk, namun Jerry tetap bisa melihat wajah Gara yang nampak meringis.

"Kalau kepala yang sakit, kenapa tangan lo malah megang dada? " Tanya Jerry heran.

"Takut copot."

"Haa? Apanya yang takut copot? Kepala lo?" Jerry bingung dengan perkataan Gara yang terkesan ambigu.

"Jantung gue yang takut copot, Jerry bangsat!" Gara semakin meringis setelah bersuara ngegas. Tidak tahu kah Jerry kalau saat ini jantungnya terasa tidak nyaman. Mungkin karena kepalanya yang sakit dan juga telinga yang berdengung, jantung nya ikut-ikutan jadi berdetak tidak normal. Entah pacemaker nya sedang tidak berfungsi apa gimana, Gara tidak tahu. Ia hanya merasa debaran brutal dari organ dalam nya itu seakan ingin mendobrak tulang rusuknya dan seperti ingin melepaskan diri dari rongga dada. Itu sebabnya satu tangannya dengan refleks bertengger disana.

Jerry berusaha sabar mendengar Gara berbicara ngegas padanya, ingin sekali ia ikut ngegas tapi melihat kondisi sepupunya yang memprihatinkan ia kasian dan terpaksa hanya bisa menghela napas sabar, "Yaudah makanya cepat turun, biar lo bisa rebahan." Katanya sembari masih memegang kedua pundak Gara untuk menahan agar tubuh itu tidak terjatuh dari motor.

"Capek," Satu lagi keluhan keluar dari mulut Gara. Mungkin karena pertama kalinya menaiki motor. Jadi tubuhnya terasa lelah. Pinggangnya juga terasa encok.

Jerry merotasikan bola mata mendengar itu, "Capek apa sih lo? Dari tadi juga gue yang nyetir, lo tinggal duduk doang di boncengan aja ngeluh. Lagian siapa suruh sok sok-an kabur dari rumah sakit. Ujung-ujungnya banyak ngeluh kayak gini. Udah buruan turun! Gak usah kebanyakan cingcong! Masih syukur gue bantuin." Titahnya sembari mendumel.

About Gara [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang