*Chapter 22*

3.2K 236 9
                                        

*Happy reading!!!

🏥🏥🏥

"Eh, udah bangun adek gue!" ujar Shino yang baru keluar dari kamar mandi dan mendapati netra sang adik sudah terbuka.

Gara yang sedang melihat langit-langit ruangan lantas melirik ke arah abangnya itu. Lalu memegang masker oksigen, dan menurunkannya ke bawah dagu supaya lebih leluasa untuk berbicara. "Papa mana?" Tanya nya.

"Papa di ruangan dokter Brian, bicarain prosedur pemasangan alat pacu jantung lo." jawab Shino lalu mendudukkan diri di kursi.

"Bang Thaka?" Gara bertanya lagi.

"Beli makan," balas Shino singkat tapi kemudian ia bersuara lagi.

"Kenapa? Lo mau apa? Butuh sesuatu? ngomong aja sama gue."

"Mau pulang,"

"Nanti.. abis pasang pacemaker,"

"Beneran? Emang boleh langsung pulang?" Gara terlihat antusias walau masih sedikit ragu.

"Gak tau juga sih.. hehe," Shino langsung nyengir seperti orang bodoh.

Gara menghela napas sembari merotasikan bola matanya, lalu menaikkan kembali masker oksigen, menutupi hidung dan mulutnya karena masih merasa sesak.
Ia memalingkan wajahnya dari Shino.

"Jangan ngambek! Nanti papa sekalian nanyain itu ke dokter Brian boleh langsung pulang atau enggak. Kita juga pengennya lo cepat pulang, Gar. Gak betah gue lama-lama disini. Semalem lo abis liat setan 'kan makanya drop lagi?" Mendengar itu Gara lantas menoleh lagi kearah Shino. Ia langsung teringat kejadian semalam. Itu adalah pertama kali nya ia melihat makhluk halus sedekat itu, tepat di depan wajahnya.

Gara menarik napas dalam menghirup oksigen buatan dari masker oksigen lalu menurunkannya lagi. "Iya, bang.. bener-bener deket banget di depan muka gue, gimana gak syok coba?!" Gara mengucapkan itu dengan sekali tarikan napas, kemudian terengah-engah.

Shino yang melihat itu langsung memakaikan kembali masker oksigen, menutupi mulut dan hidung sang adik.
"Kalo masih sesek gak usah di lepas, ogeb!"

"Ntar lo gak denger." Gara bersuara di balik masker oksigen. Terdengar samar memang tapi masih bisa di dengar oleh Shino.

"Lo kira gue budek?!" Ujar nya sedikit sewot.

Di balik masker oksigen terlihat kedua ujung bibir Gara terangkat sembari terkekeh pelan. Wajah abangnya itu sungguh konyol.

"Gar, gue mau minta maaf. Waktu malam lo collapse gue gak bisa bantu apa-apa cuma bisa panik doang.. sorry." Kali ini Shino berbicara sembari menunduk. Memasang raut wajah sedih. Kemarin ia memang belum sempat meminta maaf karena malu jika dilihat papa dan kembarannya.

Gara yang melihat itu langsung terkekeh lagi lalu berkata. "Gak apa-apa, bang. Justru gue yang harusnya minta maaf, karna udah sering nyusahin," Suara Gara memelan di akhir kalimat sehingga Shino tidak dapat mendengarnya.

"Lo ngomong apa, Gar? pelan banget elah! Gak jelas gue dengernya,"

"Kata nya gak budek?!"

"Ya suara lo yang pelan banget, gimana bisa denger?"

"Tadi gue bilang gak apa-apa, udah gue maafin." Gara mengulang lagi kalimatnya walau sedikit berbeda, dengan volume suara yang bisa di dengar oleh sang abang.

"Tapi gue tetap ngerasa bersalah, Gar. Coba aja waktu itu gue bisa kasih bantuan oksigen mungkin lo gak harus di bawa kerumah sakit." Wajah Shino kembali serius menatap sang adik.

About Gara [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang