"Aaaakhh! Sialan banget! Gue kira nomor gue cuma di blokir aja sama Shino, ternyata dia ganti nomor juga! Kalo kayak gini gimana gue bisa meras uangnya. Ngehubungin dia aja gue gak bisa!" Arabella mengerang frustasi. Ia sudah mencoba menghubungi Shino menggunakan nomor lain karena ia pikir nomor miliknya pasti telah diblokir dan ternyata tetap tidak bisa. Nomor ponsel Shino tidak aktif. Itu berarti Shino telah mengganti nomor ponsel nya bukan?
"Yaudah, kita jual aja kucingnya. Kan lumayan. Dari pada nih kucing kelamaan disini, gak dirawat sama lo. Ntar malah mati dan kita jadi gak dapat apa-apa." Ujar Jeno memberi saran.
"Lo boleh jual. Tapi harus dapat 1 M.. Bisa gak?!"
Jeno menghela napas. Harus sabar bila menghadapi wanita yang berada di hadapannya ini, "Kan gue udah bilang. Harga nih kucing paling mahal 40 jt-an.. Udah mentok segitu."
"Gue gak mau kalo cuma dapet segitu. Kalo kita berhasil hubungi Shino atau salah satu keluarga nya, kita pasti bisa dapat uang lebih banyak. Jadi tugas lo sekarang mending cari tau nomor hp Shino yang baru. Atau gak nomor Thaka, nomor bokapnya juga boleh. Lebih bagus lagi nomor nya Gara. Karena dia yang punya nih kucing. Dia pasti bakal ngelakuin apapun supaya kucing kesayangan nya bisa balik ke dia. Lagian lo itu bodyguard disana, masa gak punya sih nomor majikannya sendiri!"
"Ya gimana, gue kalo disana komunikasi nya lewat walkie talkie atau earpiece. Cuma bodyguard senior yang punya nomor hp keluarga Jhuanno."
"Pokoknya gue gak mau tau. Lo harus bisa dapet nomor salah satu dari mereka!"
"Gak bisa, Bel. Thaka udah mulai curiga sama gue karna keseringan izin pergi. Tadi aja pas mau izin kesini gue di interogasi dulu. Untung gue pinter kasih alasan yang logis. Kalo ntar gue ketahuan lagi cari-cari nomor hp mereka, gue beneran bisa dipecat."
"Lo jadi orang kok bego banget ya?! Lo kan bisa ngelakuinnya secara diam-diam,jangan sampe ketauan. Misalnya minta nomer mereka dari bodyguard lain gitu. Punya otak tuh dipake! Kalo jadi cowok gue itu harus berguna, kalo lo gak berguna mendingan kita putus! Buat apa gue mertahanin cowok yang gak bisa kasih gue apa-apa!"
Jeno kembali menarik napas dalam sembari memejamkan mata, berusaha menahan emosi. Mendengar perkataan yang baru saja Arabella lontarkan itu tentu membuatnya sakit hati. Ia ingin marah, tapi rasanya sungguh sulit. Entahlah, ia merasa tidak bisa marah pada Arabella. Sekasar apapun perbuatan wanita itu terhadapnya.
Jeno hanya bisa menghembuskan nafas keras, lalu berkata, "oke, gue coba usahain. Lo sabar dulu. "
"Jangan kelamaan! Lo sendiri yang bilang nih kucing bisa mati kalo kelamaan disini. "
"Iya, gue usahain secepatnya."
◾️🔹◾️🔹
Sudah tiga hari berlalu semenjak hilangnya juju- kucing kesayangan keluarga Jhuanno, atau lebih tepatnya kucing kesayangan si bungsu Jhuanno. Selama tiga hari itu pula kondisi Gara belum juga membaik. Malah remaja itu sejak kemarin terserang demam yang lumayan tinggi. Dan Gara tetap bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Jadilah hanya dokter Brian yang beberapa kali datang untuk memeriksa keadaan nya.
"Gara, mau sampai kapan kamu kayak gini, gak mau ke rumah sakit? Kamu itu butuh dapat perawatan lebih dan perlu diperiksa lebih lanjut, nak. Papa gak mau kondisi kamu makin parah. Kamu seneng ya liat papa khawatir terus?" Adryan yang duduk dipinggir kasur itu menatap putra bungsu nya dengan serius. Mencoba membujuk untuk yang kesekian kalinya.
Gara yang masih nampak pucat dengan plaster demam di dahi dan nasal kanula di hidungnya itu menatap Adryan sembari menggelengkan kepala.
"Kalo Juju udah ketemu, baru Gara mau ke rumah sakit." Lagi lagi itulah jawaban yang Gara berikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara [End]
Fiksi UmumTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽
![About Gara [End]](https://img.wattpad.com/cover/304971871-64-k13071.jpg)