*Chapter 67*

1.4K 109 31
                                        

Gara badmood, karena sang papa dan dua abangnya benar-benar membawa nya ke rumah sakit. Terlebih lagi saat itu hari sudah gelap. Ia ingin sekali berontak, tapi melihat wajah dingin Adryan membuatnya tidak bisa berkutik sedikit pun. Secara otomatis dirinya kehilangan nyali untuk melawan dan hanya bisa pasrah.

Helaan napas keluar dari mulut Gara begitu brankar yang membawa tubuhnya menelusuri koridor rumah sakit. Gara memejamkan mata membiarkan brankar nya di dorong oleh dua orang perawat laki-laki, yang juga diikuti oleh papa dan dua abangnya di samping kanan dan kiri brankar menuju ruang rawat inap yang kemungkinan besar akan ia tempati selama beberapa hari kedepan. Sudah terhitung puluhan kali ia bolak balik keluar masuk rumah sakit.

Jujur Gara sudah sangat bosan. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk berhenti mengunjungi tempat ini. Kondisi kesehatannya yang terbilang kurang baik menjadikan ia harus berketergantungan dengan yang namanya rumah sakit. Sehingga mau tidak mau, ya harus mau. Toh kalau dipikir-pikir ia memang membutuhkan rumah sakit untuk mengobati penyakit yang dideritanya.

Tadi begitu sampai rumah sakit, ia langsung dilarikan ke IGD. Disana dokter sudah memberikan obat penurun demam serta memasang jarum infus dipunggung tangannya untuk mengaliri cairan infus ke pembuluh darah. Sehingga sekarang demamnya sudah turun. Tubuhnya juga terasa jauh lebih enakan dibanding beberapa hari kemarin. Hanya rasa pusing dan lemas yang masih mendera.

Gara akui, rumah sakit tidak sepenuhnya menyebalkan, karena ada sisi bermanfaat juga untuknya. Tapi perlu diingat! Gara tetap tidak suka rumah sakit! Titik!

Di sepanjang koridor yang sedang mereka lewati itu Gara bisa menangkap keberadaan makhluk astral disekitarnya. Ia memang tidak melihat secara langsung wujud mereka karena tengah memejamkan mata, tapi ia bisa mengetahui lewat telinganya.

Indra pendengarannya dengan jelas menangkap suara-suara yang cukup berisik. Bukan hanya suara manusia yang masih berlalu lalang disana yang dapat Gara dengar, melainkan suara ghaib juga. Dari mulai suara tertawa cekikikan, suara jeritan, suara menangis, sampai suara yang beberapa hari terakhir sering memanggil nya pun ikut terdengar.

Ingin rasanya Gara meminta agar putar balik pulang, namun sang papa pasti tidak akan mengabulkan permintaan nya itu. Adryan sudah berada di tahap tak bisa dibantah. Membuat Gara mengerang kesal dalam hati.

Satu-satunya cara agar ia bisa pergi dari tempat itu adalah meminta seseorang untuk membantu nya melarikan diri.

Brankar Gara akhirnya sampai di ruang rawat VVIP yang sudah pernah ia tempat sebelum nya. Setelah mendengar dua perawat yang mengantarnya pamit undur diri, Gara lantas kembali membuka mata untuk memulai rencana kabur dari rumah sakit.

"Hp Gara mana?" Tanya Gara yang entah tertuju pada papa atau dua abangnya. Intinya bertanya pada mereka semua yang berada disana.

"Lah, kan lo yang punya hp. Kok nanya ke kita. Aneh nih bocah!" Shino yang pertama menyahut dengan nada menyebalkan.

"Emang kamu taruh dimana tadi hp nya? Papa gak ada liat." Adryan malah balik bertanya.

"Abang juga gak liat tadi, Dek." Thaka pun ikut menjawab pertanyaan si bungsu.

Gara berdecak samar. Handphone nya pasti ketinggalan di kamar.

"Pinjam hp kalo gitu." Pinta Gara pada siapapun yang berkenan meminjamkan handphone.

"Buat apa? Udah malam gini, jangan main hp. Mending kamu tidur. Besok kamu bakal ngelakuin beberapa pemeriksaan. Jadi sekarang harus banyak istirahat." Adryan bersuara. Mengeluarkan kalimat perintahnya.

"Belum ngantuk, Pa. Seharian tadi juga udah banyak tidur. Mau main hp dulu sebentar. Biar cepat ngantuk juga."

Gara menggerutu dalam hati. Disuruh tidur mulu. Ntar kalo gue tidurnya kelamaan, ditangisin. Hadeh.

About Gara [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang