Malam hari sudah tiba dan kondisi Gara kembali drop, untung saja dokter Brian bisa datang ke mansion. Adryan dan Thaka pulang kerja lebih awal karena khawatir dengan si bungsu. Sekarang mereka bertiga sedang memperhatikan dokter Brian yang tengah memeriksa Gara. Beliau terlihat memasangkan jarum infus, lalu berlanjut memberikan bantuan oksigen dengan memakaikan Gara masker oksigen yang sudah tersambung melalui tabung dan regulatornya.
Beberapa alat bantu pernafasan yang di butuhkan Gara memang sudah tersedia di mansion sejak lama. Terkadang digunakan untuk situasi seperti sekarang ini.
Dokter Brian terlihat sudah selesai menangani Gara dan melangkah mendekati mereka.
"Apa Gara mengalami aritmia lagi, dok?" Adryan bertanya saat dokter Brian baru akan bersuara.
Dokter Brian mengangguk,"Saat ini detak jantungnya terlalu lambat. Saya sudah menyutikkan obat untuk meningkatkan denyut jantung dan juga bantuan oksigen." jawab dokter Brian.
"Terus gimana cara mengatasi aritmia nya, dok? Hari ini Gara pingsan dua kali loh, dok!" kali ini Shino yang bertanya.
Tadi sebelum dokter Brian datang, Shino yang hendak menghampiri Gara di kamar, langsung dibuat terkejut saat membuka pintu kamar dan disambut oleh tubuh sang adik yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Gara pingsan dua kali dalam sehari dan Shino pun dua kali juga dibuat panik.
"Gara pingsan karena detak jantungnya yang lemah. Untuk mengatasi aritmianya itu bisa dengan cara pemasangan alat pacu jantung," Jelas dokter Brian.
"Dibicarakan saja dulu dengan Gara. Jika memang setuju, nanti saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai prosedurnya," Sambungnya lagi.
"Iya dok, nanti kami akan bicarakan dengan Gara," Adryan yang membalas, "Terima kasih banyak ya, dok. Maaf sudah merepotkan dan menganggu waktunya karena saya panggil untuk datang kesini," lanjutnya pada dokter Brian.
"Tidak apa-apa, tuan Adryan. Gara 'kan memang salah satu pasien yang menjadi tanggung jawab saya," Balas dokter Brian sembari tersenyum ramah.
"Selalu ingatkan adik kalian untuk meminum obatnya secara teratur, ya. Jangan sampai telat dari jadwal minum obat nya," Ucap dokter Brian beralih pada si kembar.
"Sudah sering telat mah dia minum obatnya, dok. Bahkan mungkin juga kadang gak diminum tuh obat. Buktinya sering kambuh gitu. Mana sering gak bilang kalo kondisinya lagi gak baik. Tiba-tiba pingsan, bikin orang panik," Shino nyerocos panjang lebar.
"Berisik banget sih lo. Ntar Gara kebangun," Thaka membekap mulut Shino agar tidak berbicara lagi. Pasalnya suara Shino terdengar cukup nyaring.
Shino menyingkirkan tangan Thaka dari mulutnya, "Biarin aja, biar dia dengar sekalian. Kesel gue sama adek lo, selalu nyembunyiin rasa sakitnya. Apa gunanya kita sebagai abangnya, kalo bukan untuk berbagi rasa sakit, saling peduli, saling menguatkan satu sama lain. Gue ngerasa gak becus jadi abang tau gak, Tha?! Masa kondisi adeknya yang lagi gak baik aja gue gak tau. Bener-bener bodoh banget ya gue?" Shino mengeluarkan semua uneg-uneg nya. Matanya kini terlihat berkaca-kaca menatap ke arah Thaka yang langsung terdiam setelah mendengar penuturan dari Shino.
"Mungkin Gara gak mau bikin kamu ataupun kita semua khawatir, Shin. Makanya dia gak bilang kalo kondisinya lagi gak baik," Adryan merangkul pundak Shino dan mengusapnya mencoba menenangkan.
Shino menunduk sembari memejam, terlihat buliran bening membasahi sudut matanya. Ia lantas dengan cepat mengusap menggunakan tangan dan langsung melangkah keluar.
"Kamu susul Shino, ya. Ajak dia makan malam. Sekalian panggil Jerry di kamarnya ajak ke ruang makan juga. Kasian dia jauh-jauh datang dari Aussie tapi belum kita sambut dari tadi." Perintah Adryan pada Thaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara [End]
Fiksi UmumTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽
![About Gara [End]](https://img.wattpad.com/cover/304971871-64-k13071.jpg)