*Chapter 21*

3.3K 214 19
                                        

Inilah yang menjadi alasan Gara tidak menyukai rumah sakit. Baru saja ia ingin tidur, tiba-tiba terdengar suara tangisan entah dari mana. Adryan yang memang masih terjaga mendengar nya juga. Sedangkan si kembar seperti nya tidak mendengar suara itu karena sedang mode kebo alias tidur.

"Pa.." lirih Gara pada Adryan.

Mereka berdua tahu itu bukan tangisan manusia melainkan tangisan makhluk halus. Karena beberapa ruang rawat vvip di dekat ruang rawat Gara saat ini sedang banyak yang kosong, jadi tidak mungkin kalau itu suara tangisan manusia.

"Cuekin aja ya.. nanti juga berhenti sendiri." Ujar Adryan yang sejak tadi duduk di kursi samping kanan ranjang Gara. Ia tidak akan tidur jika bungsunya itu belum tidur.

"Mau pulang, pa.." Rengek Gara.

"Kan papa sudah bilang, kita gak bisa pulang malam ini, nak.. karna besok kamu harus pasang pacemaker," Jelas Adryan.

"Besok pas udah selesai pasang pacemaker langsung pulang ya, pa.. jangan nginap lagi." Gara memasang wajah memohon.

"Nanti tanya dokter Brian dulu.. boleh langsung pulang atau enggak."

Gara menghela napas. Ia benar-benar tidak suka rumah sakit tapi karena penyakitnya ia justru harus sering bolak-balik masuk ketempat menyebalkan ini.

"Tidur ya, sudah malam banget loh ini. Kamu harus banyak istirahat. Abang-abang mu aja sudah molor tuh dari tadi." Adryan menunjuk menggunakan dagunya kearah si kembar yang tertidur dilantai samping kiri ranjang, beralaskan kasur tipis dan juga bantal yang mereka bawa dari mansion.

"Papa sendiri gak tidur?"

"Nunggu kamu tidur dulu, baru papa tidur juga."

"Tidur, ya." Ujar Adryan lagi.

Adryan mengusap dengan lembut  kepala Gara. Siapa tahu lama kelamaan putra bungsunya itu bisa tertidur, seperti kucing kalau di elus-elus bisa langsung tertidur karena merasa nyaman.
Dan benar saja netra Gara perlahan memejam. Itu berarti usapan nya berhasil membuat sang bungsu tertidur.

▫️▪️▫️▪️

Tubuh Gara bergerak tidak nyaman seperti ada yang mengusik tidur nya dan ia juga merasakan hawa yang tidak enak. Sedikit susah Gara perlahan mencoba membuka mata.
Detik setelah nya ia langsung membelalakkan mata melihat apa yang ada di hadapan nya. Sesosok wanita dengan wajah menyeramkan dan rambut berantakan itu sangat dekat, mungkin sekitar 15 cm dari wajah Gara.

Dengan cepat ia kembali menutup mata sembari menahan napas. Berharap sosok dihadapan nya segera menghilang. Tapi hanya bertahan tiga detik, setelah itu ia menghembuskan napasnya karena mulai merasa sesak bersamaan dengan jantungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.

"Akhh.." Satu erangan pelan lolos dari bibirnya dengan mata yang masih terpejam. Napasnya tercekat. Dada nya terasa sakit seperti diremas. Tangan kanan nya sudah bertengger didadanya untuk mencengkram sumber rasa sakit. Jantung yang tadinya berdetak lambat dan lemah, tiba-tiba seperti di paksa untuk berdetak cepat.

Suara dari bedside monitor langsung berbunyi nyaring dan khas menandakan tanda vital yang tidak normal.

Adryan yang tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala bertumpu pada sisi ranjang Gara, seketika tersentak kerena posisi bedside monitor berada tepat di samping kirinya. Si kembar juga ikut terbangun mendengar suara bising dari benda tersebut. Pandangan Adryan sempat menangkap sosok yang berada di hadapan putra bungsunya, sebelum sosok itu perlahan menghilang.

"Kenapa? Ada apa?" Tanya Shino panik tapi nampak bingung. Ia masih setengah sadar, tidak mengerti situasi yang terjadi karena nyawa nya belum terkumpul. Berbeda dengan Thaka yang langsung mengerti bahwa sang adik sedang tidak baik-baik saja.

About Gara [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang