Gara mengawali pagi hari nya dengan memijat pelipis sembari menghela napas. Pusing. Kucingnya-Juju masih belum ketemu dan kali ini sepertinya benar-benar hilang.
Semalam Shino, Thaka, dan beberapa bodyguard sudah mencari ke dalam hutan, bahkan juga sudah mencari keseluruh sudut mansion, namun tetap tidak menemukan keberadaan si kucing ragdoll itu.
Belum reda rasa cemas dan pusingnya karna Juju yang hilang, eh Tante Cindy malah menambah pusing. Tante nya itu pagi-pagi datang ke kamarnya dan mengajak konseling. Padahal Gara sedang tidak mood.
"Tante, aku gak mau inget-inget kenangan buruk itu lagi. Jadi gak ada yang perlu aku ceritain ke Tante." Kata Gara pada Tante Cindy yang duduk di tepi kasurnya. Disana memang hanya ada mereka berdua. Adryan sengaja meninggalkan mereka berdua agar tidak ada yang menganggu sesi konseling antara psikiater dan pasiennya itu.
"Kalau gitu cerita tentang hal lain aja. Apapun itu bakal tante dengerin. Nanti siang tante udah balik ke Amerika loh, Gar. Makanya sebelum tante pulang, tante pengen denger kamu cerita." Balas Tante Cindy agak memaksa.
"Gak ada yang pengen aku ceritain, Tante Cin."
"Beneran nih? Yakin gak ada yang pengen diceritain ke tante?"
"Iya, tante. Lagian aku udah punya psikiater sendiri kok. Psikiater terbaik ku pokoknya. "
"Oh ya? Siapa? Psikiater yang teman tante itu? yang ngerawat kamu dua tahun lalu?" Tante Cindy nampak penasaran.
Gara menggelengkan kepala, "bukan."
"Terus siapa? Ayo dong kasih tau tante!" Tante Cindy mendesak Gara agar memberitahu siapa psikiater yang dimaksud.
"Papa."
Jawaban Gara itu sontak membuat Tante Cindy terdiam sejenak dengan mata mengerjap-erjap.
"Your Papa? Maksudnya kak Adryan?" Tanya Cindy memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Yaps.. My Papa. Emangnya aku punya papa berapa, Tante Cin? Kan cuma satu. Papa Adryan." Jawab Gara dengan malas.
Tante Cindy sontak tertawa.
"Haha.. sejak kapan papa mu beralih profesi jadi psikiater?" Tanyanya tidak percaya.
"Sejak hari ini. Karna setelah aku pikir-pikir gak ada orang lain yang lebih ngertiin aku sejauh ini selain papa. Papa itu tempat terbaik buat aku berkeluh kesah. Jadi aku rasa gak perlu psikiater lagi. Papa aja udah cukup." Ujar Gara dengan yakin.
Kali ini Tante Cindy tersenyum mendengar pernyataan Gara.
"Yaudah kalo gitu. Tante ikut senang karna kamu udah nemuin orang yang tepat untuk berbagi cerita. Sekarang tante bisa tenang ninggalin kamu." Tante Cindy mengusap kepala Gara dengan penuh sayang disertai senyuman hangatnya yang masih belum luntur.
"Tante, dibanding nyuruh aku cerita, gimana kalo tante aja yang cerita? Aku pengen tante ceritain sesuatu buat aku. Boleh gak?"
"Hmm.. boleh, kamu mau tante cerita apa?"
"Ceritain tentang mama. "
◾️🔹◾️🔹
Di sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah. Arabella tengah geram melihat objek yang baru saja dibawa oleh orang suruhannya.
"Gue nyuruh lo kerja di mansion itu supaya bisa ngambil sesuatu yang berharga disana. Bukan malah bawa binatang gak guna kayak gini!" Marah nya pada seorang laki-laki yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
"Kata siapa binatang ini gak berguna? Binatang ini salah satu yang berharga di mansion itu, Bel. Ini kucing kesayangan nya Gara. Termasuk kucing ras ragdoll yang harganya sekitaran belasan juta bahkan bisa sampai empat puluh jutaan. Lumayan, kan, kalo kita jual? Dari pada gak dapat apa-apa," Balas laki-laki itu, ia maju, lalu merangkul mesra Arabella, mencoba menjelaskan pada sang wanita.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara [End]
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽
![About Gara [End]](https://img.wattpad.com/cover/304971871-64-k13071.jpg)