16. Enam belas

145K 20.8K 23.4K
                                        

Happy reading 💖

Hari ini ngapain aja?

Absen pake jam kamu baca ini!

Spam emot kesukaan kalian☺️👍

Maaf kemaleman. Tapi tepat janji kan mwhwhe

CEPAT AMAT WEH TEMBUSNYA. KERITING JARI AING😭😭

Enjoy!

Enjoy!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****

"You."

Hanya satu kata tiga huruf tapi mampu membuat Raquel terpaku. Detak jantungnya berdetak tak normal, ia tak mungkin bisa biasa saja saat yang mengatakan ini adalah lelaki tertampan di SMA Altair. Andrew mengatakannya setegas itu, tidak ada keraguan sedikitpun. Raut wajahnya pun terlihat serius.

"Why me?" tanya Raquel balik.

"Why not you?" balas Andrew dengan satu alis terangkat.

Raquel menggigit bibir bawahnya gugup. "Gue freak."

Bibir Andrew tersenyum menyeringai. Kepalanya mengangguk menyetujui opini Raquel. Ia lalu menyentil dahi Raquel pelan. Entahlah, ia suka sekali melakukan ini.

"Bagus kalo lo sadar."

"Makanya. Kenapa lo mau gue?!" sentak Raquel. Andrew ini cepat sekali berubah, sedetik manis lalu sedetik kemudian jadi menyebalkan.

Andrew terdiam sejenak. Ia memainkan lidahnya di dalam mulut menyimpan senyuman menawannya, matanya tak berpaling dari setiap inci wajah Raquel.

"Lo unik, gue suka."

Raquel mengerutkan dahi. Dia sendiri tak menemukan sisi unik dalam dirinya.

"Unik dari mananya?" gumam Raquel aneh.

"Congkel aja mata lo, nggak guna," suruh Andrew sadis sambil memasukkan kedua tangannya di saku.

Raquel mendengkus kesal. "Ya emang gue nggak ngerti uniknya di mana?"

"Di rumah lo nggak ada kaca?" sarkas Andrew berusaha menyadarkan Raquel kalau mukanya unik.

"Fungsi kaca buat ngaca, bukan buat ngelukain tangan lo," imbuh Andrew sambil melirik bekas goresan di tangan Raquel. "Cewek bego," caci Andrew tak ada rasa kasihan.

Raquel mengepalkan satu tangannya kencang, menatap Andrew dengan sorot tajam.

"Lo nggak paham kehidupan gue, makanya bisa enteng ngomong gitu!" sentak Raquel. Moodnya sedang tidak baik, ia tak terima dihina bodoh terus-menerus.

"Bagian mana yang gue nggak paham?" lirih Andrew penuh penekanan. Ia menarik dagu Raquel untuk mendongak ke arahnya.

"Idup lo sempurna, nggak ada masalah, lo ganteng, lo kaya, semua tunduk ke perintah lo. Bahkan kelakuan buruk lo pun dimaklumi. Lo punya privilege hidup di dunia ini!" oceh Raquel panjang lebar dengan nada geraman.

DRAGONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang