Ch 06

332 62 3
                                        

  Suasana jadi kian tegang saat sepasang mata mereka melihat Tzaen sudah kaku di atas tempat tidurnya, namun dadanya tampak bergetar hebat dengan irama naik-turun yang cukup cepat. Matanya bergerak semakin ke belakang, hingga bagian putihnya lah yang mendominasi rongga mata—juga dengan urat-urat matanya yang menegang diimbangi darahnya yang mulai keluar. Tampaknya Tzaen menangis, menahan sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.

  Yoshi dan Xave melangkah masuk ke dalam kamar, cekatan sekali Doyoung menahan kedua temannya itu untuk tidak perlu mendekat. Ia menggeleng kuat melarang Yoshi dan Xave, namun dua teman barunya itu tetap bersikukuh untuk memeriksa keadaan Tzaen dan Madelon.

"Ini yang ku maksud kerasukan." Bisik Doyoung pelan dengan suara bergetar nan lirih, menelisik di telinga Junghwan dan Jihoon yang tampak tenang dengan situasi itu.

"Dia keracunan." Jawab Jihoon menepis prasangka Doyoung, Doyoung tak mengangguk juga tidak menggeleng. Ia menutup rapat mulutnya, kendati ia tahu Tzaen tampak berbeda.

"Suhu tubuhnya sangat dingin!" Ucap Yoshi yang berdiri di samping Tzaen, anak itu bahkan sudah menyentuh kulit Tzaen yang membiru, dia seperti membeku terkubur di bawah danau es.

  Semuanya mendengar itu, namun tidak memberi respon apapun. Doyoung dan ke-empat temannya itu dikagetkan dengan kehadiran Leron yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka, Leron menyentuh pundak Doyoung dan berbisik pelan dengan rasa takut yang tampak mencekam mentalnya.

"Ada seseorang menempel di atas sana, Doyoung." Ucap Leron lirih, bahkan suaranya terdengar basah. Doyoung yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang, menatap wajah Leron yang pucat. Kedua mata mereka bertemu seperti sedang berkomunikasi, padahal tidak ada hal yang berhasil mereka sampaikan satu sama lain.

"K-kau, bisa melihatnya?" Bisik Doyoung bertanya pada Leron, ia tidak menyangka ada orang lain yang bisa melihat apa yang sebenarnya ia lihat. Hal tersebut membuat Doyoung sangat yakin bahwa ada yang sedang berusaha memasuki tubuh Tzaen dan Madelon.

  Leron mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kuat, lalu tangannya seperti melingkar di leher dan memberi tahu sesuatu pada Doyoung. Leron meminta Doyoung segera memasang kalung yang diberinya saat di ruang televisi. Sebetulnya Doyoung penasaran tentang kalung itu, namun ia tidak sempat bertanya sebab Leron menerobos masuk ke dalam kamar Tzaen dan mendorong Yoshi serta Xave untuk segera keluar dari kamar.

  Tentu saja hal itu membuat Yoshi dan Xave jadi kesal dengan sikap Leron namun mereka tetap diam saat anak itu tampak menatap wajah Tzaen dengan kuat dan mendekatkan wajahnya tepat ke wajah Tzaen, kening Doyoung berkerut begitu pun keempat temannya. Cukup lama Leron kental dan mata Tzaen yang semakin mengeras dan mengeluarkan darah segar, sampai akhirnya sebuah nama keluar dari kota suara Leron, dia berkata dengan sebuah pertanyaan singkat, "siapa Alio?"

  Mendengar nama itu disebut, Doyoung jadi teringat akan Pamannya yang tak pernah sekalipun bertemu dengan dirinya. Namun pikirannya itu tiba-tiba buyar saat Leron tiba-tiba terpental ke atas dan menempel di flatpon kamar tidur, wajahnya tampak lelah dan matanya masih tertuju pada Tzaen. Leron batuk berkali-kali hingga air kencingnya membasahi piyama tidurnya. Perlahan-lahan tangannya terlipat dan diputar tiga ratus enam puluh derajat yang berhasil mematahkan tulangnya sendiri.

  Leron tampak megap-megap di atas sana sambil berteriak kesakitan, dan suara raungannya itu menjadi suara terakhirnya adalah hingga lehernya patah dan terbalik ke belakang, Leron jatuh ke lantai dalam keadaan tak lagi bernyawa. Junghwan, Jihoon dan Yoshi serta Xave yang sudah terlanjur masuk ke dalam kamar jadi mengerti akan keadaanya, mereka segera berbalik badan setelah melihat Leron tak bernyawa, kaki mereka gemetaran dan melangkah menuju pintu namun sayangnya pintu tiba-tiba ditutup dengan keras. Membuat keempat teman Doyoung panik di dalam sana, sedangkan Doyoung yang sedirian di luar berusaha mendobrak pintunya.

  Mata Yoshi melihat sendiri bagaimana tubuh kaku Tzaen bergerak dan berdiri dari ranjangnya, matanya yang terbalik tampak aktif melihat wajah-wajah yang ada di dalam kamarnya. Ia tersenyum kecil namun tampak menyeramkan, suara tangis Madelon membuat atensi mereka buyar dan fokus pada Madelon yang meringkuk di depan lemari.  Jihoon menelan salivanya dan melangkah pelan mendatangi Madelon, anak itu segera berdiri dan menarik piyama Jihoon saat melewati tubuh kaku Tzaen yang masih berdiri di tempat.

  Sedangkan Junghwan dan Xave berusaha membuka pintu kamar yang terkunci, sudah berusaha tenang meskipun tidak bisa. Xave berkata nyaring sambil memukul pintu meminta Doyoung mencari bantuan. Doyoung yang di luar sana pun bergegas melangkah dan mengetuk pintu kamar anak-anak lain, namun tidak ada satupun yang membuka pintu mendengar suara panik Doyoung.

  Doyoung membuka pintu kamar mereka, namun sayangnya tidak melihat satu orang pun di dalam sana. Doyoung berlari lagi dan mengetuk pintu kamar di sebelahnya, hal sama ia temukan bahwasanya kamar itu kosong tidak lagi berpenghuni. Doyoung jadi semakin panik dan ia berusaha berlari ke arah kamarnya sendiri, sesampainya di sana ia kembali mengetuk pintu kamar anak-anak lain tapi tidak ada satu pun yang membuka pintu. Membuat Doyoung mendobrak pintu dan matanya melotot melihat banyak sekali mayat di dalam sana, Doyoung bahkan hampir kehilangan napasnya saat teman-teman panti seumurannya itu rupanya sudah setengah membusuk dengan anyir darah yang memainkan peran. Sepuluh anak remaja seusianya seolah mati terbunuh dan terkumpul di sana.

  Doyoung segera menutup pintu itu kembali, ia terduduk di depan kamar itu sambil berusaha menduga dan mencerna apa yang baru saja terjadi di panti asuhan spesialis kejiwaan remaja ini. Apakah kekacauan yang ia dengar saat menelepon dokter tadi itu, suara dari teman-teman pantinya? Doyoung menggeleng kuat, ia teringat akan keberadaan Bunda—wanita lanjut yang diceritakan oleh Junghwan padanya.

  Untungnya Doyoung mengetahui di mana letak kamar tidur Bunda, ia berlari kecil sambil menahan kakinya yang bergetar ketakutan setelah melihat Tzaen, ditambah lagi mayat di kamar itu cukup mengerikan. Tiba-tiba kaki Doyoung berhenti tepat di depan kamar temaram di ujung dapur, ia menelan ludah melihat kondisi dapur panti asuhan ini. Ia jadi ingat, tentang larangan panti yang tidak mengizinkan anak-anak atau petugas kebersihan bahkan dokter psikiater sekalipun berkunjung ke dapur . Sekarang Doyoung tahu alasannya, bau busuk bangkai benar-benar menusuk hidungnya.

  Doyoung jadi menunda niat untuk mengetuk pintu kamar Bunda, ia malah berbalik arah dan memeriksa kondisi dapur ini. Ada banyak sekali kepala tikus yang berhamburan di dekat wastafel, selain itu dirinya juga melihat beberapa ekor kecoa terendam di dalam kuah sup yang mereka santap beberapa jam lalu. Tiba-tiba Doyoung jadi mual dan mengeluarkan isi perutnya itu, ia menyadari ada hal aneh tentang Bunda.

THE-CURSED

°'•'°

°'•'°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
THE-CURSED |  DOYOUNG & YOSHITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang