Doyoung menyadari namun juga heran yang menjadi satu, jelas-jelas ia melihat seseorang tanpa kepala dibalik kain kelambu, namun sekarang malah Yoshi yang memeluk erat tubuhnya karena ketakutan. Doyoung membalasnya, namun masih memikirkan hal aneh itu, ditambah rasa waspadanya yang takut, kalau ternyata yang memeluk dirinya mungkin bukan Yoshi lagi. Yoshi melepaskan dirinya dari Doyoung, anak itu meraba-raba lantai lalu berdiri—mengajak Doyoung segera pergi dari panti.
Namun Doyoung menggeleng lemah, dan mata Yoshi menatap kedua kaki Doyoung yang tak berfungsi dengan benar lagi. Tanpa ada banyak tawaran, ia langsung menggendong Doyoung di atas punggungnya lalu mendudukkan teman barunya itu di atas kursi roda. Yoshi kembali masuk ke dalam, lalu memeluk buku kuno yang ia dapatkan.
"Ada sesuatu yang ingin ku katakan, " Ujar Yoshi sambil mendorong kursi roda yang ditumpangi Doyoung, laki-laki kurus itu melangkah tergesa dan napasnya terdengar hingga ke telinga Doyoung, belum lagi luka-luka di area tubuhnya yang mulai mengering. Dan hal itu membuat Doyoung yakin, Yoshi mati-matian mempertahankan diri.
Roda behenti bergulir, begitu juga kaki Yoshi yang berhenti melangkah. Mata mereka menatap dinding kamar yang berbaris rapat, di sepanjang dinding itu, ular sebesar paha sedang menempel nyaman, begitu panjang dan berhasil membuat keduanya merinding. Yoshi menelan ludah, lalu perlahan-lahan melangkah berniat berbalik arah karena takut akan kehadiran ular itu. Namun baru saja berbalik, Bundaa sudah berdiri mengejutkan mereka yang ketakutan, wujudnya adalah ular itu, tidak ada lagi terlihat bahunya, sebab hanya kepala dan rupanya saja yang manusia sedangkan tubuhnya sepenuhnya ular.
Doyoung dan Yoshi mematung, mata hitam legam Bunda seperti menghipnotis, mendoktrin pikiran mereka dengan tujuan yang tak jelas, dan Yoshi lah yang tidak dapat berkedip sekalipun betapa menakutkannya sosok Bunda, sepertinya dia menjadi sosok paling menyeramkan malam ini.
Pandangan Yoshi gelap, sebab Doyoung menempelkan kedua tanganya di mata Yoshi—Doyoung sendiri memejamkan mata dengan rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan. Malam kian sunyi, Doyoung dan Yoshi masih diam mematung. Suara pelan dari pergerakan Bunda terdengar—terlebih saat ekornya berputar melingkari keduanya. Bahkan Doyoung merasakan kulit kenyal, lembab dan dingin itu menyentuh tangan dan kakinya.
Bisikan yang begitu berisik kembali terdengar, membawa Doyoung seolah pergi ke suatu tempat yang tak asing namun teramat samar saat kedua matanya tertutup. Semua berjalan seperti mimpi, tidak lagi Doyoung memedulikan ekor ular yang melingkar—sebab ia hanya diam mematung dikarenakan bisikan yang mendoktrin pikirannya, bisikan-bisikan yang berisik dan ramai itu semakin nyaring dan jelas sampai pada saat dunia yang ada di dalam matanya memperlihatkan upacara persembahan di bawah pohon besar, dan gadis kecil sedang duduk berlutut di kelilingi benda-benda aneh. Seorang wanita mengayunkan kapak tepat ke arah gadis itu, dan kedua mata Doyoung terbuka diikuti suara bisikan itu terdengar samar lalu menghilang.
"Yoshi, " Ucap Doyoung, sebab saat ia membuka mata tidak melihat keberadaan Yoshi di belakangnya, kepala Doyoung toleh sana-sini, namun tidak menemukan Yoshi melangkah—diikuti Bunda yang juga lenyap begitu saja.
Ekor mata Doyoung tak sengaja menangkap buku tua yang sebelumnya dipeluk Yoshi setelah keluar dari kamar Bunda. Doyoung membungkuk dari kursi roda, ujung jarinya menyentuh sampul buku yang usang itu. Seketika, suara berisik yang memanggil namanya kembali memekakkan telinga, tatapan mata Doyoung mulai kabur, suara berisik yang sekarang seolah-olah seperti di sebuah keramaian yang padat namun ia tidak melihat apapun.
Penglihatan Doyoung gelap, Doyoung mulai panik seketika ia mengalami kebutaan total yang tak masuk akal musababnya. Cahaya temaram dari lampu teplok dimasa delapan puluhan menjadi satu-satunya sumber objek yang dapat ia lihat—sebetulnya ia bersyukur karena ia tak buta. Namun, ini bukan ruangan di panti asuhan spesialis kejiwaan remaja, ini adalah sebuah desa yang jauh terisolir dan Doyoung tahu, kehidupan di tempat itu begitu miskin dan serba tak lengkap. Objek yang dilihat Doyoung berpindah pada gadis berpakaian tradisional tanpa alas kaki yang melangkah dengan rasa senang, tangan kanannya menating kotak kecil berbahan kayu. Seekor rusa jantan dengan tanduk yang tidak terlalu indah mengekor di belakangnya, gadis itu berbalik dan tersenyum pada seekor rusa di belakangnya. Lambat laun, cahaya meredup, tatapan Doyoung kembali samar lalu pemandangan desa itu hilang tergantikan oleh ruang hampa panti.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apa yang dilihatnya tadi bukanlah sebuah imajinasi belaka. Namun benar adanya, ini adalah ruang hampa panti asuhan. Doyoung menunduk saat tangannya merasakan tekstur kasar dari apa yang disentuhnya, buku kuno yang lusuh itu kembali menarik perhatiannya. Doyoung menyadari sesuatu, ia dengan cekatan menyentuh buku itu di sembarang tempat bahkan ia menempelkan telapak tangannya hingga menekannya, namun tak terjadi apapun.
Doyoung memungut buku itu, menaruhnya di atas pangkuan. Doyoung menoleh ke belakang, dengan cekatan ia memutar kedua roda kursi yang menopang tubuhnya menuju kamarnya, susah payah dan tangannya yang lemah berhasil juga membawa dirinya ke kamar tidur yang kebetulan ia huni sendirian. Doyoung segera mengunci pintu, ia pun segera menyibak buku namun, ada jahitan pada sampul depan dan belakangnya—dijahit menjadi satu sehingga ia harus merusak benang itu terlebih dahulu.
Doyoung segera menggulirkan roda, tepat berhenti di depan meja dan segera membuka laci, menggengam sebuah gunting. Tanpa menunda lagi, ia segera memotong benang yang ternyata sangat keras, seperti sulur pohon yang sudah sangat tua. Doyoung pun merasakan dua jarinya sakit saat berusaha menekan gunting, usaha tidak mengkhianati hasil, Doyoung berhasil.
Ada bau tak sedap saat ia menyibak kertas pertama, tulisan kabur, dan kertas usang itu beberapa sudah berlubang. Doyoung menaruh jari telunjuknya mengikuti ejaan yang ditulis manual oleh seseorang, secara spontan bibirnya berucap, "Azazil." Jari Doyoung mengikuti ejaan yang ada di bawah teks itu dan ia berucap spontan lagi, "Azazel, menginginkan gadis kecil, itu. "
Dahi Doyoung mengkerut, ia sadar sekarang, sepertinya ini bukan dari aliran keluarga besarnya. Ini bukan kelompok Vinbi; neneknya. Doyoung segera membuka lembar kedua, masih didapatinya tulisan buram dan kertas berlubang-lubang. Dengan teliti, ia mengikuti huruf demi huruf yang ditulis rangkap dan seperti syair, buku ini pasti ditulis oleh masyarakat yang hidup di zaman delapan puluhan.
"Alio melindunginya, namun istrinya mengorbankan gadis itu. " Doyoung menutup mulutnya secara spontan, ia ingat nama itu, itu adalah sebutan Mansion yang katanya milik Pamannya. Suara telepon memecah sunyi dan dinginnya malam, ia segera mengarahkan atensi pada suara itu. Segera ia menyimpan buku ke dalam laci, berdiri dan berlari kencang—berharap yang menelepon malam ini adalah dokter psikiater nya.
Doyoung sudah berdiri tegak di depan telepon yang sekarang sudah tak bersuara, ia menatap telepon itu masih tergantung dengan tali panjang seperti pertama kali ia menghubungi dokter psikiater. Doyoung menyadari sesuatu, ia menatap ke bawah, tepat pada tungkai kakinya. Ia tak lagi lumpuh, namun saat lampu temaram panti memperlihatkan bayangan di lantai, mata Doyoung menatap bayangan dirinya sendiri. Bukan, kelebat hitam itu bukan bayangan dari dirinya, tapi seorang gadis tidak berkepala, menggunakan rok panjang dan seperti ada selendang terikat di pinggangnya. Jantung Doyoung berpacu, sejak kapan bayangan dirinya sendiri berubah demikian.
°
•|•°
°
•
THE-CURSED
SERI 2 DARI BONEKA DAGING
°
•
KAMU SEDANG MEMBACA
THE-CURSED | DOYOUNG & YOSHI
Terror(Seri ke 2 dari BONEKA DAGING) Sebuah tragedi di mana terkadang kamu berpikir itu adalah musibah, sebuah kesialan yang terkadang jika kamu pikirkan lagi itu adalah musibah dan hal mendarah daging akan tentang mu tentunya adalah sebuah kebiasaan. Ta...
