Ch 16

191 28 0
                                        

  Doyoung menaiki tangga kayu keluar dari rubanah tua, matanya menatap lantai basah itu-napasnya juga sudah tersengal sebab harus melangkah dengan kedua tangan bukan dengan kakinya yang lumpuh. Setelahnya, mata Doyoung menyapu sejauh mata memandang seluruh ruangan. Terlintas di kepalanya kenapa sosok mengerikan Mama tidak membunuhnya seperti yang dilakukan Nenek dahulu padanya, Doyoung membuka kepalan tangan kirinya sambil bersandar di undakan tangga terakhir, ia menarik napas berat saat kembali menatap kalung pemberian Leron padannya.

  Derap langkah tikus juga cicitannya terdengar di malam sunyi ini, animonya terarah pada hewan pengerat itu. Matanya terus mengikuti hingga tikus itu hilang di balik tembok rusak dan kali itu juga ia  melihat kursi roda milik Junghwan terbengkalai tanpa pemiliknya. Doyoung dengan semangat kembali menggenggam kalung itu dan menyeret kedua kakinya untuk segera menghampiri kursi roda itu, setelah bersusah payah merangkak, Doyoung akhirnya bisa memperbaiki posisi kursi roda yang terjungkal dan segera duduk dengan pelan kendati sulit karena kedua kakinya tak dapat bertumpu dengan benar.

 Doyoung terdiam membisu duduk di atas kursi roda itu, tak ada hal aneh, tidak ada suara menakutkan dan Mama juga tak terlihat rimbanya, tidak ada gangguan dari Tzaen bahkan oleh teman-temannya yang sudah mati. Seketika Doyoung teringat kamar yang pernah ia datangi yaitu, tempat semua bangkai anak-anak panti dikumpulkan. Segeralah Doyoung menggulirkan kedua roda besar itu dengan tangannya. Bahkan Doyoung tampak tak sabaran agar segera sampai ke kamar itu, terasa amat lamban-Doyoung sudah berada di depan pintu salah satu kamar dari banyaknya pintu yang berjejer di panti spesialis kejiwaan remaja ini. Tangan kananya mendorong daun pintu dan jantung Doyoung rasanya jatuh dan berdetak menggelepar di lantai, sebab bangkai-bangkai itu berkeliaran dengan berbagai macam bentuk, berjalan kesana-kesini layaknya orang bingung. Ada kepala berkaki kerang, ada tubuh yang tak lengkap, dan kepala berbulu dan bergigi babi hutan dengan tanduk rusa adalah makhluk paling buas yang berada di kamar bau itu-seperti di rubanah sana. 

  Makhluk-makhluk aneh yang tak bisa dijelaskan oleh Doyoung satu persatu secara detail, saat manusia aneh itu menyadari kehadirannya—mereka tampak diam, menatap Doyoung tanpa rasa simpatik tapi juga tidak kejam dan liar. Beberapa detik kemudian, manusia sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, duduk seperti menyembah dan mengabdikan diri pada suatu hal namun ada juga yang mencakar-cakar dinding kamar dari kayu ini, Doyoung menutup pintu, dengan nafas tersengal seolah ini kali pertamanya ia melihat hal ganjil.

  Doyoung memutar kedua roda dari kursi yang ia naiki, dirinya pergi ke dapur lebih tepatnya ke kamar Mama, setelah melihat perubahan prilaku dan tubuhnya itu, ia jadi curiga ilmu apa yang sedang dipraktikkan oleh pengayom panti asuhan spesialis kejiwaan remaja.

  Sesampainya di dapur, kedua netranya kembali menatap kepala tikus yang berhamburan. Segeralah ia melancarkan niat awal, diputar kembali kursi roda itu namun tak muat untuk masuk ke dalam kamar Mama. Tak ada pilihan, Doyoung turun dari kursinya dan kembali menyeret kedua kakinya setelah berhasil membuka pintu. Bau yang tajam menusuk hingga ke otak, kening Doyoung hampir menyatu saat menatap bungkusan-bungkusan kain kuning, penuh semangat anak itu menghampirinya dan ia sudah mendapatkan bungkusan itu.

  Doyoung menelan ludah, dan membuka bungkus yang sepertinya sudah dibuka seseorang. Hal sama seperti yang dilihat Yoshi, ada tengkorak kepala, potongan tanduk rusa, taring babi hutan, dan bungkusan lain yang berisi benda-benda aneh tak dikenali olehnya. Doyoung masih diam di sana, mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi petunjuk memutuskan apa yang sudah mengejarnya sejak dari Mansion paman Alio.

  Suara derit dari lantai membuat Doyoung terhenyak sejenak, diam duduk di sana sampai menahan napasnya sendiri tanpa sadar. Bibir bawahnya digigit, pasalnya ia tak mungkin lari karena kakinya sudah lumpuh. Suara isak tangis ketakutan terdengar, Doyoung menoleh ke kiri dan kanan ke depan dan ke belakang. Dan tak sengaja, matanya menatap kain kelambu yang bergerak-gerak diikuti suara tangis yang memelan, seperti ada sosok manusia yang memeluk lutut ketakutan di dalam kelambu yang bertumpuk itu dan siluet seseorang dibaliknya tampak jelas.

  Doyoung menelan ludah, digerakkan tangannya sebagai tumpuan penopang dirinya, lalu dilangkahkan olehnya dengan pelan demi memeriksa siapa gerangan yang menagis di malam sunyi. Suaranya terdengar pelan, dan tubuh itu terlihat menggigil. Sebetulnya, Doyoung pun sangat takut berada di ruangan kecil milik Mama, terlebih saat tubuh letih itu bersikap aneh. Apakah mungkin ini kerasukan masal, seperti yang terjadi di kamar itu, kamar semua jasad anak panti yang berubah menjadi makhluk seram dan mengerikan.

"Aku takut sekali. " Rintihan yang didengar rungu Doyoung membuatnya enggan untuk melanjutkan langkah tangannya, ia jadi menahan napas dan berharap keberadaan dirinya di tempat ini tak terbaca oleh seseorang yang tertutup kain.

"Ada apa ini? " Bertanya dengan suara rintihan lagi, bahkan tubuhnya semakin menggigil. Kepalanya menoleh, seperti menatap Doyoung yang mulai ketakutan.  Mata mereka seolah bertemu, dan seketika itu juga, bagian kepala seseorang yang tertutup kain mulai basah, darah itu menembus kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Semakin dilihat, semakin lama, semakin banyak juga cairan merah yang keluar—bahkan basah hingga ke pundak.

  Doyoung menyeret kakinya lagi, anak itu berbalik untuk segera meninggalkan ruangan Mama. Namun saat ia berusaha dan sekali lagi menoleh ke arah sosok itu, dia diam, namun masih terdengar tangisannya. Dan tubuh itu kembali menggigil hebat, Doyoung menelan saliva, rasa penasarannya amat besar untuk memastikan seseorang memang ada di balik kelambu itu.

"Halo, kau, melihatku? " Doyoung tergagap bahkan suaranya hampir tidak keluar saat membuka mulut.

  Sosok itu kembali menoleh, persis seperti menatap dirinya, membuat Doyoung jadi ciut dan kikuk. Namun ia memberanikan dirinya untuk maju dan memeriksa langsung. Perlahan saja, Doyoung sudah duduk berhadapan dengan sosok itu—yang sekarang menunduk seperti ketakutan, namun anehnya darah yang kian basah mulai melenyapkan siluet kepala. Doyoung lagi-lagi ragu, kepala sosok itu tak lagi terlihat menunduk melainkan memberitahukan bagian hilang yang datar dan kian menambah darah keluar membasahi kain kelambu.

Doyoung menutup kedua matanya, sedangkan tagannya menarik kain kelambu yang menutupi seluruh tubuh sosok itu, mata Doyoung tak salah, bahwa sosok di depannya ini sudah kehilangan kepalanya. Jantung ikut berpacu, rasa takutnya menggila, dan rasa penasaran mengalahkan setengahnya. Suara tangis berhenti saat Doyoung sudah membuka kain itu, tangan dingin seseorang di depannya membuat Doyoung terkejut. Sontak Doyoung terkejut saat orang itu memeluknya begitu ketakutan.

"Doyoung, ayo keluar dari sini. "

°|•

THE-CURSED

THE-CURSED |  DOYOUNG & YOSHITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang