Kriyet lantai kayu tak lagi terdengar setelah Yoshi berhenti melangkah menjauh dari Doyoung, anak laki-laki itu berbalik badan menatap ujung rambut hingga ke ujung kaki Doyoung, tak berbicara apa-apa Yoshi akhirnya duduk bersandar di dinding sekat pembatas perpustakaan kecil yang temaram. Doyoung tak menggubris apapun yang dilakukan Yoshi, hingga teman baru itu bicara dan ia berkata, " Lihatlah ke dalam, banyak buku aneh yang kau sayangi itu di sana." ujarnya.
Doyoung diam saja, ia menatap pintu tua yang dimaksud Yoshi. Tanpa bertanya banyak hal, ia segera memegang kenop pintu dan mendorong pintunya, hal pertama yang menyapa Doyoung adalah bau buku tua, lalu debu yang tebal melapisi rak hingga buku-buku itu. Entah kenapa, Doyoung begitu bersemangat dan mengambil sembarang buku untuk ia periksa, saat ia buka dan bersihkan sedikit sampul darii tumpukann debu. Rupanya buku itu tentang biodata pasien rumah sakit jiwa yang menitipkan pasien mereka ke panti ini, ya, panti asuhan spesialis kejiwaan remaja seperti tempat pembuangan anak.
"Yoshi, kau tau, kita adalah anak-anak yang dibuang keluarga kita sendiri? Panti ini adalah pelarian terakhir saat rumah sakit jiwa berhenti merumahkan kita, bisa dikatakan saat keluarga kita memutus pembiayaan rumah sakit." Doyoung memilih duduk bersandar di dinding yang sama dengan Yoshi, anak itu bersuara pelan membicarakan hal menarik yang baru disadari olehnya, mungkin juga Yoshi.
"Lexe pernah mengatakan hal yang sama padaku, tapi aku masih percaya Ayah dan Ibuku." Yoshi menjawab Doyoung dengan suara pelan yang dingin, anak itu tampak menggaruk pahanya yang merah karena gigitan nyamuk.
"Aku sedang melihat biodata Lexe sekarang, " ujar Doyoung sambil mengangguk-angguk kecil. Doyoung membalik halaman kertas yang ditulis dengan mesin tik kuno, anak itu membaca nyaring atas apa yang ia ketahui, " Lexe dari desa Kempariaman, Ayahnya petani jagung dan ibunya banyak menghabiskan waktu di rumah. Usia Lexe saat datang kemari berusia 16 tahun? Pengidap gangguan mental delusional. Ini yang kau maksud sama denganku, Yoshi?"
"Selama di panti, ia ditindas anak lain, kondisinya memburuk setelahnya. Dia sering mencabut rambutnya untuk dimakan, bahkan sampai muntah darah karena rambutnya melukai organ dalam. Satu minggu kemudian ia mati keracunan. Banyak yang berpendapat Lexe bunuh diri." Yoshi menambahkan informasi yang tidak tertulis tetang Lexe pada Doyoung.
"Bagaimana jika tidak? Xave bilang, kematian Lexe tak jauh berbeda dengan Tzaen. Sayangnya yang tahu banyak tentang Lexe sudah tidak bisa diajak bicara." Doyoung menutup buku itu, menatap kosong ke arah lantai sebab ia merasa tersesat dengan pikirannya sendiri. Kalau dipikir, untuk apa juga dirinya sibuk mencari solusi jika saat ini apa yang terjadi bukan dari aliran keluarga neneknya, lantas kenapa Doyoung begitu ingin tahu.
"Xave sering menulis catatan harian, kita akan ke kamarnya?" Yoshi menyembulkan kepalanya dari balik pintu, menatap Doyoung yang sedang duduk mengasuh buku tua. Mendengar tawaran Yoshi, Doyoungpun mengembangkan senyuman simpul dan anggukan kecil sebagai persetujuannya atas tawaran Yoshi. Doyoung pikir anak itu masih marah padanya, ternyata untuk meredakan emosi yang hampir meledak adalah dengan sama-sama berpikir positif dan berbicara dengan nada rendah tanpa menggunakan amarah.
Doyoung segera menutup buku itu dan menaruhnya kembali di atas rak, ia segera mengimbangi langkah Yoshi yang setengah takut saat menyusuri lorong-lorong panti yang cukup gelap, ditambah suara-suara buas dari mayat anak panti lain yang berubah menjadi makhluk tak biasa. Setelah memakan waktu cukup lama, Yoshi berhenti di depan kamar nomor 21, segera Yoshi mendorong daun pintu dan menekan sakelar lampu. Doyoung segera masuk dan tak lupa mengunci pintu kamar, ia menatap Yoshi yang sibuk memeriksa laci meja belajar Xave yang ditumpuki banyak buku.
"Itu semua buku harian?" Tanya Doyoung pada Yohsi yang sedang memeluk buku-buku tebal dan menaruhnya di lantai, pertanyaan Doyoung dibalas dengan anggukan penuh semangat. Bersama Yoshi, Doyoung mulai membuka satu persatu buku catatan harian Xave yang beberapa isinya adalah tentang curahan hati, puisi-puisi singkat tentang hidupnya dan disusul cerita-cerita pendek yang ia bedakan setiap bukunya.
" Lihat ini, Doyoung." ujar Yoshi dan hal itu membuat fokus Doyoung buyar dan segera mendekatkan diri pada teman barunya, Yoshi memperlihatkan buku itu juga teks yang ditulis Xave.
Aku melihat bayangan gadis tak berkepala di bawah bayangan Lexe, kurasa itulah alasan Lexe berubah aneh.
Doyoung membekap mulutnya, dan hal itu membuat Yoshi menatap prihatin, juga seperti bertanya sesuatu pada Doyoung. Dahi Yoshi mengkerut, apalagi saat Doyoung merebut buku harian Xave dari dirinya. Doyoung menelan ludahnya yang hambar, ia segera membalik lembar kertas buku, dan jarinya mengikuti bait teks yang ditulis Xave.
Bayangan itu kian jelas, bahkan di hari kematiannya, bayangan itu masih ada. Namun setelah pemakaman, gadis tak berkepala itu menghilang, dan tanpa sengaja aku melihatnya berada di bawah bayangan Leron lalu Tzaen. Dia menempel, dan merubah bayangan wujud manusia sesungguhnya dengan bayangan dirinya.
"Ada apa, Doyoung. Kenapa kau kelihatan syok?" Yoshi menatap Doyoung memucat, bahkan ia bisa melihat peluh dingin membasahi pelipis hingga jatuh mengguyur ke dagu.
"Bayangan gadis tak berkepala, kau pernah menatap bayangan itu? Xave bilang ia menempeli Lexe dan itu pemicu Lexe suka memakan rambut, setelah Lexe meninggal bayangan gadis tak berkepala itu berpindah pada Leron, lalu Tzaen-" Doyoung mengarahkan seluruh atensinya pada Yoshi yang mulai berpikir saat Doyoung menjelaskan ulang apa yang sudah ditulis Xave,
"Tapi tidak ada yang aneh dari Leron dan Tzaen, Doyoung. Mungkin itu hanya halusianasi Xave, atau karangan untuk buku yang akan ia tulis dan dibagikan pada anak-anak panti." Yoshi yang sedikit tidak yakin memotong penjelasan Doyoung yang terkesan dramatis seperti di film-film, Yoshi menjawab demikian karena Xave adalah pokok ide dari percetakan buku sederhana yang biasa mereka realisasikan di gudang seperti kali pertama Junghwan mengajak Doyoung bekerja sekaligus berkunjung.
"Tidak mungkin Yoshi, bayangan gadis tak berkepala itu benar-benar ada! Ku kira, hanya aku yang melihat keberadaannya di sini." Doyoung menolak mentah alibi Yoshi, ia kembali menatap buku harian milik Xave dan berniat membawanya kemana pun pergi, karena sepertinya Xave tahu banyak tentang bayangan gadis itu.
"Kau benar-benar yakin pernah melihat bayangan yang dimaksud Xave?" Yoshi bertanya lagi, alisnya seakan menyatu. Doyoung tidak mengangguk, ia malah menggenggam tangan Yoshi lalu mengarahkan telunjuk tangan Yoshi tepat ke arah bayangan dirinya sendiri yang sedang duduk.
Mata Yoshi pun mengikuti arah telunjuknya yang digerakkan oleh Doyoung, mata Yoshi terbuka kian melebar. Ia mengucek matanya, saat apa yang baru saja dibicarakan Doyoung rupanya juga mampu dilihatnya, tubuh Yoshi merinding menatap bayangan di lantai itu bukanlah cerminan dari tubuh Doyoung, tapi orang lain.
Tok, tok, tok!
Doyoung dan Yoshi saling pandang, dari tatapan keduanya sedang terjalin komunikasi, atau mungkin saling menebak siapa kiranya yang sedang berdiri di depan pintu kamar, siapa yang menegtuk pintunya, dan apa kiranya yang akan dilakukan sosok itu pada mereka. Yoshi menelan ludah, begitupun Doyoung yang sudah bersiap dengan segala hal buruk yang akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE-CURSED | DOYOUNG & YOSHI
Horror(Seri ke 2 dari BONEKA DAGING) Sebuah tragedi di mana terkadang kamu berpikir itu adalah musibah, sebuah kesialan yang terkadang jika kamu pikirkan lagi itu adalah musibah dan hal mendarah daging akan tentang mu tentunya adalah sebuah kebiasaan. Ta...
