Ch 10

274 55 2
                                        

   Jihoon memamerkan benda tajam itu tepat ke wajah Xave, membuat mereka yang tersisa diam tanpa bisa mengambil napas. Jihoon tersenyum lagi, darah yang mengotori wajahnya benar-benar bau dan menyeramkan, Yoshi semakin gemetaran sambil mundur beberapa kali, mengabaikan kakinya yang menginjak tulang tajam nan berserakan di lantai. Tetesan darah segar dari bangkai kucing nan digantung membasahi hidung Doyoung, membuatnya menelan ludah berkali-kali hingga terduduk sebab tak sengaja menabrak Yoshi.

  Kedua mata Jihoon tampak berair namun menyala, Xave masih berdiri kaku di hadapan Jihoon. Ia tak menduga Jihoon akan berubah secepat itu, Jihoon mengangkat kaca itu dan membuka mulutnya yang robek sampai kepalanya mendongak ke atas, tangan Xave bergetar dan berhasil menempel di pipi Jihoon.

"Jihoon." Bisik Xave dengan suara bervibra nan serak basah, wajahnya pucat melihat sahabatnya itu bertindak tidak sesuai dengan instruksi otaknya.

  Jihoon menjatuhkan kaca tepat ke dalam mulutnya, menelan benda itu dan berhasil menonjol merobek lehernya, darahnya yang hitam kemerahan mulai mengalir bercampur keringat dan mengguyur membasahi pakaiannya. Kepala Jihoon pelan-pelan menunduk dan kedua matanya menatap wajah Xave, tanpa diduga sedikitpun oleh Xave, kaca yang telah ditelan dan tersangkut di kerongkongan Jihoon malah terpental dan menancap di dada kanan Xave, membuat anak itu mengerang sakit saat Jihoon menggoreskan anakan staples di kedua lengan Xave.

  Yoshi menarik rantai yang menjulur dari atas, lalu berlari kuat menuju tempat Jihoon berdiri, Yoshi menampar kepala Jihoon dan bergegas melilitkan rantai itu tepat ke leher Jihoon. Sedangkan, Doyoung menyeret Xave yang lemah menahan luka, bahkan Doyoung berusaha mencabut kaca itu dari dada Xave. Namun usaha memang tidak mengkhianati hasil, anak itu berhasil mencabut kaca meskipun jari-jarinya terluka tanpa sengaja.

"Jawab aku Doyoung, apa yang sudah terjadi di malam liburan mu?!" Xave berbisik namun penuh amarah, matanya seolah hampir jatuh dari wajahnya karena ia melototi Doyoung tanpa berkedip.

"Jihoon? Kau baik-baik saja?" Suara dalam Yoshi membuat Doyoung menatap Yoshi yang masih berdiri memegangi ujung rantai, membiarkan Jihoon tanpa bergerak dengan leher terlilit.

  Yoshi melepaskan ujung rantai itu, dan membungkuk sambil melangkah ketakutan ke arah Doyoung dan Xave. Hal itu disebabkan oleh adanya suara berisik dari atas sana, semacam seseorang yang sedang berlari. Suara dobrakan pintu rubanah membuat Doyoung, Yoshi, dan Xave mengarahkan atensinya ke arah suara. Mata mereka tidak satu kali pun berkedip, melihat kaki pucat Tzaen menapak kuat di anak tangga. Sebilah pisau daging di tangannya sangat kotor dan mengkilap di bawah lampu kuning keemasan, tubuh kurusnya benar-benar seonggok tengkorak yang bernyawa.

Suara derit tangga tua seolah detik dari bom waktu yang cepat dan terasa mati, tiba-tiba suhu ruangan jadi semakin dingin dan suhu tubuh ketiga anak di sana kian meningkat, semakin hangat dan pucat. Pisau daging di tangan Tzaen berdenting saat menyentuh rantai yang menjuntai, Tzaen mengambil langkah lagi, hingga kini wajahnya bisa terpampang jelas. Pucat, mati, datar, dan tanpa harapan. Seperti itulah yang dilihat Doyoung.

"Ah, lama sekali aku menunggumu kemari," suara basah Tzaen membuat Doyoung diam tak bergerak. Sedangkan, Yoshi dan Xave menunduk sambil menatap wajah Doyoung yang pucat. Tangannya dingin berkeringat, namun tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali diam mematung seperti anak kucing kedinginan nan bergumul dengan saudaranya.

"Banyak sekali dari kami yang menangis," Tzaen kembali bersuara, anak itu masih berdiri di undakan tangga terakhir kali ia berhenti.

"Berharap kau kembali dengan keluarga ini," Sura Tzaen tampak bergetar lalu tersedu seperti menangis. Pisau ditangannya menjadi sumber suara paling ultra prima saat benda itu jatuh dari genggaman tangannya.

  Doyoung menelan ludah, lalu menatap wajah Tzaen dengan seksama. Ingatan kecilnya melintas saat itu juga, ketika wajah manis Junkyu tersenyum dan memeluknya ketika ia murung dan tempatnya mengadukan banyak hal atas apa yang sudah dilaluinya. Menjaga, melindungi dan berkorban demi menyelamatkan satu nyawa berharga dalam hidupnya. Doyoung tahu, segala hal ini rumit dan tidak bisa dimengerti dengan jelas, bahkan muasalnya pun tidak bisa ditebak. Suara tangis Tzaen terdengar menyayat, anak itu menunduk dengan wajah basah.

Doyoung menitikkan air matanya tanpa suara. Wajah-wajah di masa kelamnya bermunculan dalam memori otaknya, seperti DVD player yang memainkan kaset lusuh. Doyoung kemudian menyapu pipinya lalu berkedip satu kali, melihat Tzaen kembali mengangkat wajahnya. Anak itu tampak murung dengan wajah memelas meminta belas kasihan. Dan tersenyum lalu berkata, "Kau, tidak rindu dengan ku?"

"Aku tidak akan mengikuti ajaran sesat itu, tidak akan." Doyoung berdiri kokoh, menatap Tzaen yang mulai marah. Wajahnya jadi merah dan mengerikan mendengar suara kuat Doyoung yang tegas, Yoshi berdiri dan Xave pun ikut bergabung, matanya menatap wajah Doyoung yang fokus pada Tzaen.

  Tzaen melempar pisau daging itu dan hampir saja menimpa wajah Yoshi, meskipun berhasil selamat pipi Yoshi jelas terluka karena mata pisaunya menggores kulit wajah, napas Yoshi tiba-tiba saja bisa didapatkan dengan leluasa, ia menyentuh pipinya yang perih dengan gemetaran. Dan menatap pisau itu jatuh berdenting tepat di bawah meja besi yang berkarat.

Pipi Tzaen seperti mengeras dan membiru, kedua kakinya kaku dan lurus seperti penari balet, perlahan-lahan tubuhnya melayang lalu menaruh tangannya ke depan. Disaat itu pula, Doyoung terbanting menubruk lemari, tak sempat lagi mengambil napas, Doyoung sudah dihadapkan dengan besi runcing tempat menggantung daging hampir menyapa lehernya. Kedua tangan Doyoung terkunci mati, ia berusaha berontak tapi tidak sedikitpun bergerak. Bola mata Doyoung melihat jelas besi runcing itu butuh satu cm untuk menusuk dirinya.

Yoshi mengigit bibirnya, meskipun rasanya tidak sama sekali ia memahami apa yang terjadi, namun jelas sekali apa yang dilihat dan dialaminya adalah sebuah kenyataan. Yoshi menelan ludah, dengan kaki-tangan bergetar, ia berusaha melangkah sedikit demi sedikit. Anak itu sampai di bawah meja besi, matanya seolah buta melihat pisau daging nan berdarah itu. Ia mengambil pisau daging, menggenggam dengan erat, namun terlepas karena tangannya ditendang oleh Jihoon.

Jihoon membuka mulutnya yang robek sambil tertawa-tawa pelan, lehernya masih dirantai, kakinya tampak lemas dan kedinginan, begitupun tangannya yang bergerak-gerak seperti burung belajar terbang.

"Jihoon." Bisik Yoshi, namun suaranya terabaikan, tangannya diinjak oleh Jihoon dengan kuat, Yoshi menahan sakit dalam diam. Lalu tidak berpikir dua kali, anak itu menggigit kaki Jihoon Dengan kata sangat kuat, rupanya hal itu berhasil membuat Jihoon diam. Yoshi pun segera mengambil pisau daging itu kembali lalu berdiri dan siap berlari mendatangi Tzaen.

Namun usaha Yoshi benar-benar sia-sia, pisau itu kembali terjatuh dari tangannya. Ia terdiam di tempat, menatap telapak tangannya terluka, matanya melihat dengan jelas anak panah itu menusuk tembus tangannya. Yoshi terduduk dan berteriak histeris kesakitan, sedangkan Tzaen tersenyum girang.



°•|•°



THE-CURSED

THE-CURSED |  DOYOUNG & YOSHITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang