Doyoung bahkan duduk bersimpuh di lantai nan kotor ini, lambungnya terasa ditarik dan dikuras habis demi mengeluarkan makanan yang sudah dicerna di dalam lambungnya itu. Doyoung berakhir berbaring menahan sakit perutnya itu, dan pelan-pelan bangun lagi. Mata Doyoung masih saja melihat kepala tikus tanpa badan itu berhamburan, hingga akhirnya Doyoung mengingat tujuannya ke dapur ini.
Doyoung berdiri di depan pintu kamar Bunda, ia tampak ragu mengetuk pintu dan ekor matanya melihat dinding papan ini tampak berlubang. Doyoung mendekat ke arah dinding itu dan membungkuk mengintip dari lubang itu, dahi Doyoung berkerut saat samar-samar ia melihat Bunda dengan pakaiannya sebagaimana Bunda panti sedang duduk melipat kedua kakinya, dua telapak tangannya saling ditangkupkan, matanya tertutup rapat seperti orang yang sedang tidur, sebilah lilin menyala tepat di depannya. Doyoung semakin berusaha menajamkan penglihatannya dan di saat itu juga, ia melihat Bunda sedang menyembah Boneka lucu yang baru saja dikirimkan Paman Alio padanya.
Sontak, Doyoung menjauhkan wajahnya dari lubang itu. Ia diam masih mencerna apa yang sudah dilihatnya, ingatan kecilnya melintas di pikiran Doyoung —membuat kekacauan masa lalunya kembali menghantuinya, suara-suara berisik di telinganya tampak ramai sekali terdengar, rasanya telinga Doyoung sakit sekali jika membiarkan suara itu terlalu lama. Doyoung melangkah pergi meninggalkan dapur sambil menutup kedua telinganya, bisikan yang tak jelas itu benar-benar menyiksa.
Doyoung akhirnya memilih berlari kembali mendatangi teman-temannya yang sepertinya masih terjebak di dalam kamar Tzaen. Saat berjarak tiga meter dari kamar Tzaen, ia diam saja di tempat saat melihat pintu kamar itu sudah terbuka lebar. Yang ada di benak Doyoung sekarang adalah, 'kemana perginya mereka?' Doyoung menelan saliva, dan memberanikan diri untuk melanjutkan langkah memeriksa kamar itu. Saat kaki kanannya di angkat, tangan dingin milik seseorang tiba-tiba saja menggenggam pergelangan kakinya, dan hal itu membuat Doyoung jatuh tersungkur di lantai.
"Doyoung, sini!" Yoshi berbisik takut sambil terus menggenggam pergelangan kaki Doyoung, anak itu bersembunyi di kamar kosong sambil membuka sedikit pintu kamar.
Doyong tentu saja langsung merangkak dan masuk ke dalam kamar mendatangai Yoshi, saat di dalam kamar itu, Doyoung terdiam dan ingin sekali menanyakan keberadaan temannya yang lain. Namun suaranya tampak tercekat karena rasa takutnya membabi-buta, ia bahkan tidak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja terjadi.
"Aku tidak tahu yang lainnya ada di mana, aku khawatir dengan mereka bertiga." Bisik Yoshi yang tak tenang sama sekali, ia tampak gusar bercampur takut. Keringat sudah membasahi wajah dan lehernya, Doyoung tahu anak itu pasti sangat syok.
Doyoung diam mendengar suara Yoshi, lalu ia teringat akan Leron, "di mana Leron?" Tanya Doyoung yang terdengar pelan dan bergetar.
Yoshi menggeleng dan memeluk lututnya, "aku tidak mengerti. Tapi lehernya patah, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa menempel di flatpon,"
"Dan, Tzaen jadi aneh. Dia bersikap lebih buruk daripada perilaku biasanya. Aku rasa, dia membunuh Leron, juga kita." Penjelasan ringkas diimbangi rasa takutnya itu membuat Doyoung turut prihatin melihat wajahnya yang sama sekali tidak tenang. Sekarang, yang ada dipikiran Doyoung hanya satu, apakah yang terjadi malam ini adalah hal sama bahwa tragedi beberapa bulan lalu pernah ia alami seperti hari ini. Apa masih ada penganut aliran setan itu hidup.
Suara ketukan pintu membuat seluruh ingatan Doyoung menghilang, ditambah lagi Yoshi yang mulai kencing di celananya sendiri tercium oleh hidung Doyoung. Anak itu semakin pucat dan napasnya seakan berhenti, jika sebelumnya Yoshi yang berusaha menenangkan Doyoung maka kali ini, Doyoung lah yang harus mengerti dengan teman barunya itu.
"Sssttt." Doyoung meletakkan jari telunjuknya di atas bibir, dan Yoshi malah semakin menatap risau ke arah Doyoung. Ketukan pintu kembali terdengar, sebetulnya Doyoung juga sangat ketakutan namun ia berusaha sebisa mungkin melawan rasa takutnya itu. Doyoung merangkak pelan diikuti oleh Yoshi, ia juga melakukan hal yang sama. Doyoung bersembunyi ke dalam lemari kayu—anak itu meminta agar Yoshi lebih cepat namun kaki dan kedua tangan Yoshi terlanjur tremor untuk segera melangkah.
"Buka pintunya! Jadilah anak yang baik." Suara Tzaen tampak serak di sebelah pintu yang masih terkunci.
Doyoung segera berdiri dan merangkul Yoshi dan membawa anak itu masuk ke dalam lemari. Doyoung menutup dengan pelan pintu lemari agar Tzaen merasa kamar ini kosong, di dalam lemari ini. Doyoung membekap mulutnya sendiri begitu pun Yoshi yang bahkan sudah menahan napasnya bermenit-menit. Kedua matanya menatap wajah Doyoung yang juga pucat, cukup lama mereka diam di dalam sana hingga tidak terdengar lagi suara ketukan pintu. Membuat keduanya merasa tenang sebentar.
°'•'°
Setelah berhasil keluar dari kamar Tzaen, Junghwan, Xave, Jihoon, dan juga Madelon yang saat ini bersama mereka mulai membaik. Ke-empat anak itu berkeliaran di dalam panti demi mencari keberadaan Doyoung dan Yoshi, tepat saat ketiga anak itu sampai ke perpustakaan kecil yang terletak tak jauh dari lorong penghubung antara dapur dan perpustakaan itu sendiri. Mereka melihat seseorang sedang berdiri dengan wajah menunduk tanpa harapan, satu tangannya buntung, sepertinya anak itu adalah salah satu penghuni panti yang menyandang disabilitas fisik. Junghwan yang duduk di kursi rodanya menunjuk laki-laki itu yang masih berdiri di bawah lampu temaram 15 watt, membuat atensi Jihoon yang sejak tadi mendorong kursi roda mengikuti arah telunjuk Junghwan.
"Siapa di sana!?" Jihoon bertanya dengan suara keras tanpa gentar. Xave kemudian menarik piyama Madelon agar anak itu mendekat lebih rapat dengan kedua temannya.
"Ku rasa, itu Leron." Xave berucap pelan, ia mundur diikuti oleh Jihoon yang menarik kursi roda Junghwan.
Belum sempat mereka melangkah, lampu yang bersinar menerangi tempat saat ini berdiri tiba-tiba pecah dan hak itu membuat mereka terkejut bukan main, sekarang satu-satunya cahaya hanya lah lampu berintensitas rendah di depan mereka. Mata Jihoon dan juga ketiga temannya itu menyipit diikuti dahi yang berkerut. Di ujung sana, laki-laki itu memutar badannya tiga ratus enam puluh derajat diikuti kepalanya yang juga melakukan hal sama, anak itu menatap mereka. Lalu melangkah sebanyak tiga kali ke depan, tangan kirinya nan buntung kembali tumbuh namun hal yang membuat Junghwan terkejut adalah ukuran tangan itu sangat panjang dengan jari-jari tangan yang besar dan panjang pula.
Dalam satu kedipan mata, tangan Leron tiba-tiba sudah memegang erat leher Madelon. Anak itu jadi bergetar sebadan-badan, ia mencengkram kuat bahu Jihoon dan piyama Xave. Satu detik rasanya berlangsung dua kali lebih cepat, Madelon ditarik dengan cepat ke arah Leron yang masih berdiri di sana. Teriakan ketakutan dari Madelon terdengar sangat nyaring dan bergaung sedangkan, Junghwan, Jihoon, dan juga Xave hanya berdiri kaku melihat tubuh Madelon digantung di flatpon lalu Leron memegang kedua kaki Madelon.
Rahang Junghwan rasanya mengeras, seluruh tubuh Jihoon rasanya limbung lemah, seakan-akan kaki Jihoon tak lagi berpihak di bumi. Xave seakan kehilangan napas, seluruh tubuhnya panas dan dingin bahkan, ia tak lagi merasakan sakit saat tangannya tanpa sadar dicubit Junghwan dengan keras. Bagaimana tidak, mereka melihat dengan jelas tubuh Madelon dibelah menjadi dua, bahkan usus Madelon tampak menjuntai bersamaan dengan organ dalam lainnya. Tubuh kaku Leron yang berdiri di bawahnya Madelon basah kuyup oleh darah kental dari Madelon, bahkan Leron sedang asik mengigit jantung Madelon yang sudah tidak lagi bernyawa.
"Pergi, Kita harus pergi!" Junghwan yang mulai tersadar, ia berucap nyaring menyadarkan Jihoon dan Xave yang masih terdiam.
"Cepat!"Junghwan tampak berontak di atas kursi rodanya, ia berteriak parau meminta Jihoon agar secepatnya membawa dirinya berbalik dan menjauhi tempat ini.
°'•'°
THE-CURSED
KAMU SEDANG MEMBACA
THE-CURSED | DOYOUNG & YOSHI
Horror(Seri ke 2 dari BONEKA DAGING) Sebuah tragedi di mana terkadang kamu berpikir itu adalah musibah, sebuah kesialan yang terkadang jika kamu pikirkan lagi itu adalah musibah dan hal mendarah daging akan tentang mu tentunya adalah sebuah kebiasaan. Ta...
