19

126 17 0
                                        

Taehyun menatap nanar keadaan di depannya. Darah ada di mana-mana, tubuh Chan sudah tidak berbentuk. Organ-organ tubuh Chan berceceran, membuat Taehyun mual sendiri.

Lalu matanya menatap ketiga temannya yang sama-sama bermandikan darah. Baju mereka terkena darah Chan.

Bang Chan mengorbankan dirinya.

Kenapa?

Felix tertawa keras melihat reaksi mereka. "Ih, seru banget!" Dia semakin terbahak-bahak.

"BANGSAT LO!" Jeongin berteriak marah. Dia berlari ke arah Felix, menerjangnya. Tubuh Felix terjatuh.

Dia tersenyum melihat Jeongin yang emosi berada di atas tubuhnya.

Tangan Jeongin terangkat dengan telapak tangan yang terkepal. Namun sebelum kepalan tangan itu menyentuh pipi Felix, Jeongin merasakan sakit di tangannya.

Felix kembali tertawa.

Tangan Jeongin dia angkat dengan sihir. Lalu memutarnya pelan, menimbulkan bunyi retakan tulang yang memekakkan telinga. Perlahan tapi pasti, tangan itu terputar hampir 360 derajat.

Tangan Jeongin patah.

"AKH!" Jeongin berteriak.

"YANG JEONGIN!" Haechan berteriak histeris. Kakinya tidak bisa digerakkan, seolah-olah Felix memberi sihir pada kakinya. "LEE FELIX! GUE DOAIN LO MEMBUSUK DI NERAKA!"

"Eh? Kan tempat tinggal gue emang di neraka, HAHAHA!" Felix tertawa terbahak-bahak. Jeongin dilempar Felix dengan kuat. Tubuh itu menabrak tembok, bunyinya membuat tiga orang yang mendengar ngilu.

Jeongin meringis. Tubuhnya ngilu semua. Dia mencoba untuk bangkit, lalu kembali menjerit saat tubuhnya dibanting Felix kembali ke tembok. Tawa Felix kembali menggelegar. Jari telunjuknya dia angkat ke atas, bersamaan dengan tubuh Jeongin yang terangkat ke atas hingga terantuk plafon.

Duagh!

Jeongin menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan teriakan.

Bruak!

Jari telunjuk Felix dia arahkan ke bawah, tubuh Jeongin terbanting ke lantai. Jeongin kembali menjerit. Merasakan tulang duduk dan punggungnya yang mungkin retak, kemungkinan terburuk adalah patah.

"Ayo bangkit, nanti gue banting lagi."

"Ya ampun, gue dari tadi udah baca doa kok dia nggak kepanasan, sih?!" Soobin kesal. Dia sedari tadi sudah komat-kamit membaca doa namun Felix tidak menunjukkan tanda-tanda kepanasan.

"Bacain doa yang lain, dong. Ayat kursi misalnya."

Aduh, gimana ya ...

Soobin kan nonis.

Jeongin memegangi perutnya yang terasa mual. Dibanting ke sana kemari membuat perutnya benar-benar terkocok. Tangannya kemudian memegangi lantai, berusaha untuk bangkit. "Lee Felix." Jeongin terbatuk.

"Iya, Jeong?" Felix membalas dengan senyuman manis. Tangannya sudah terangkat, siapa melempar Jeongin kapan saja.

Wajah Jeongin terlihat kacau. Hidungnya terlihat bengkok karena terantuk plafon dengan keras, dahinya berdarah sebab terkena tembok yang retak. Darah mengalir dari dahinya, turun ke mata hingga ke dagu.

"Kalo gue berkorban, mereka bisa keluar?"

"JEONGIN, LO JANGAN GILA!" Taehyun berteriak kencang. "LO BILANG KITA BARENG-BARENG MASUK KE SINI, KELUARNYA JUGA HARUS BARENG-BARENG LAH!"

Masa iya dia tidak punya teman sebaya di sini? Taehyun sudah bertekad untuk menjaga yang tersisa.

Jeongin tersenyum sedih.

PuzzleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang