17.Menciptakan Jarak

2 0 0
                                        

Di hari senin pagi yang ceria dan cerah, aku diantar oleh Fattah yang entah kenapa kembali seperti dulu setelah masalah yang sempat terjadi pada kami.

Aku tahu bahwa dia masih sibuk, bahkan katanya akhir dari proyek itu harus membuat dia pergi ke luar kota selama satu minggu mulai Lusa. Tapi seperti janjinya kemarin, Fattah berusaha untuk tidak membuat aku kecewa. Dia bahkan menjanjikan juga makan malam yang sempat batal itu, nanti setelah dia pulang dinas dari luar kota.

Tentu saja aku merasa senang. Karena bagaimana pun ini lah yang aku harapkan dari hubunganku dengan Fattah. Kami menjalin hubungan bukan untuk main-main, cincin yang melingkar di jadi manis ku adalah saksi bahwa Fattah ingin membawaku ke hubungan yang lebih dari sekarang. Ke pernikahan  yang mulai kami rencanakan kembali.

"Aku enggak tahu pas pulang nanti bisa jemput kamu atau engga. Tapi aku akan usahakan buat bisa jemput kamu. Kalaupun enggak bisa, aku akan kabari satu jam sebelumnya biar kamu enggak nunggu."

Aku mengangguki ucapan Fattah ketika aku hendak turun dari mobilnya. Hal selanjutnya yang membuat aku terkejut adalah saat Fattah mendekatkan wajahnya kemudian mengecup kening ku dengan lembut.

"Semangat kerjanya ya, Sayang! Nanti siang pas jam makan siang, aku akan telepon kamu."

Senyum di bibirku terbit.

"Kenapa memangnya? Tumben mau telepon di jam makan siang?" tanyaku heran.

Bukannya aku tidak senang, hanya saja memang selama ini hal itu jarang sekali Fattah lakukan. Dulu saat baru memulai berpacaran memang sering, tapi belakangan karena kami selalu sibuk masing-masing bahkan di jam makan siang, paling hanya sekedar pesan yang aku atau dia kirimkan.

"Ya kenapa memangnya kalau aku telepon? Aku kan sudah janji akan jadi pacar dan tunangan yang lebih baik buat kamu. Aku akan bersikap sebaik mungkin buat nebus semua kesalahan aku dan kekecewaan kamu," balas Fattah lembut.

Hatiku tersentuh. Rasanya aku jadi tidak ingin turun dari mobilnya dan memilih keliling Jakarta bersama dengannya saja, kalau saja aku dan dia bukan budak korporat. Tapi tentu saja aku tidak bisa melakukan itu, apalagi aku sangat paham bahwa biaya sewa jasa WO saat ini sangat mahal sehingga baik aku ataupun dirinya harus rajin mengumpulkan uang untuk rencana pernikahan kami.

"Mas enggak perlu berusaha terlalu kerasa dan jangan memaksakan diri. Aku percaya kalau Mas enggak akan melakukan kesalahan yang sama buat kesekian kalinya. Dan aku juga percaya kalau Mas adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal," ujarku.

Aku tidak berbohong. Aku memang selalu merasa beruntung karena memiliki Fattah sebagai kekasihku. Fattah tidak pernah berbuat atau berkata kasar, bahkan tidak pernah membentak sekalipun. Selama ini hanya aku yang jika marah selalu meninggikan suara dan berteriak, tapi dia tidak pernah membalas dengan hal yang sama. Fattah biasanya hanya akan memintaku untuk tenang dan bersabar, hal yang sangat khas Fattah sekali.

"Sudah seharusnya aku melakukan yang terbaik. Karena melihat kamu yang terluka kemarin, yang menghindari aku dan enggak mau ngomong sama aku, bikin aku sakit dan takut. Aku enggak mau kehilangan kamu."

Mataku panas. Sepanjang aku menjalin hubungan dengannya, kami tidak sering saling mengungkapkan perasaan seperti saat ini sehingga ketika hal ini terjadi, aku sangat terenyuh dan ingin menangis.

Aku bergerak maju, memeluk tubuh tegal Fattah dengan erat.

"Aku juga enggak mau kehilangan Mas. Aku enggak bisa bayangin gimana jadinya kalau aku harus putus sama Mas. Aku enggak mau."

Rasanya malu sekali karena melow di pagi hari seperti ini, tapi aku senang karena bukan hanya aku yang takut kehilangan tapi Fattah juga.

Fattah tertawa, menepuk punggung ku dengan lembut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 06 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Namanya, KalendraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang