*Play the song 👏🏻
Suara kicauan burung gereja yang bertengger di pohon, diiringi sejuknya udara pagi membuat Jaemin menghela napas dalam-dalam. Paru-parunya seperti dibersihkan secara otomatis oleh karunia alam yang diberikan gratis untuk manusia nikmati.
Ia lihat sekelilingnya yang didominasi hijau segar, bergoyang pelan dimainkan percampuran beberapa unsur yang mereka sendiri hasilkan. Gemerisiknya menenangkan, melodi yang menyenangkan.
Saat matanya tertutup, Jaemin dapat membayangkan seolah-olah berada di atas sana, di surga yang dipenuhi keindahan dan ketenangan tiada tara. Seperti yang digambarkan dalam buku cerita, murni dan magis. Tak tersentuh kotornya umat manusia.
Betapa damainya-
BUK
Jaemin terlonjak kaget. Tahu-tahu saja ada sesuatu yang membentur tanah dengan kencang. Debumnya diikuti bunyi khas air yang menciprati dedaunan.
Jaemin menoleh penasaran dan langsung bertatapan dengan Seunggi, si pria paruh baya yang baru saja menjatuhkan selang air cuek. Aliran air segar mengaliri rumput pendek yang selalu dipangkas rutin menuju kaki Jaemin yang mendadak kaku ditatap dengan mata menyipit seperti itu.
"Sini."
Singkat namun Jaemin tahu itu perintah mutlak. Ia berjalan kaku menuju Seunggi, berhati-hati menghindari tanah becek yang akan mengotori sandal Jeno yang dipinjamnya.
Ya. Dia di halaman belakang rumah Jeno pagi-pagi sekali. Untuk ikut mengantar Haechan, Mark, Renjun, dan Chenle ke bandara menuju negara impian mereka masing-masing.
Mark ada di dalam, sibuk cekcok dengan Haechan. Ia sengaja kembali ke Korea hanya untuk menjemput Haechan, dipaksa sebenarnya.
Well, sekalian temu kangen dengan kakaknya sih.
Sementara Renjun dan Chenle akan menyusul langsung ke bandara. Rumah Chenle menerima tamu yang terbatas dan terpilihlah Renjun yang fasih berbahasa Mandarin untuk menemani laki-laki itu.
Karena seluruh asisten rumah tangga dan pegawai keluarga Zhong lebih suka dengan seseorang yang mampu dipercaya, alias satu ras dengan mereka.
Plus Winwin yang bekerja di bawah Bàba Chenle sudah menjamin Renjun sepenuhnya.
Cukup konservatif dan kolot kalau Jeno boleh bilang. Ia pernah bertamu dan enggan datang lagi meski mampu berbahasa Mandarin sama fasihnya.
Salahkan wajahnya yang seolah made in Eropa. Haechan pun sama, ia dikira berasal dari Asia Tenggara.
Jeno dan Haechan cukup mundur perlahan dan menghormati prinsip itu. Bermain-main dengan paling konglomerat dari konglomerat China, bukan pilihan yang bagus.
Prinsip negara dan keluarga mereka berbeda. Keluarga Chenle sama ekstrimnya, dengan cara yang berbeda.
Diskriminasi amat terasa disana, sebagai timbal balik warga Korea yang sama rasisnya. Apalagi dengan keadaan kedua negara yang kini berseteru secara politik.
"Ya, Tuan?" Tanya Jaemin sopan. Ia refleks menerima dengan kedua tangan ketika Seunggi membungkuk dan menyerahkan selang air berwarna biru muda itu.
"Siram tanamanku," perintah Seunggi singkat.
"Baik."
Bukan keheningan yang nyaman, Jaemin bisa merasakan tatapan Seunggi seperti bisa melubangi tubuhnya. Mata bulat dan besar Papa omega kesayangannya itu memindainya naik turun, menilai. Sesekali matanya disipitkan melihat outfit Jaemin yang biasa-biasa aja. Hoodie dan jeans hitam yang sudah pudar, dibeli beberapa tahun lalu dan sering digunakan tampaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLD
FanfictionDiantara seorang Alpha dan Omega, mereka membuat sesuatu yang dinamakan 'Omegaisme' Warning ⚠️: -B x B -TOP! JAEMIN -BOTTOM! JENO - Mature Explicit Content - ANGST, romance, friendship, comedy, fluff, slice of life, DRAMA, action, science fiction, i...
