Hai semua apa kabar? Masi ada yang nungguin cerita ini?🤔🤔🤔
Vote dan komen!
•
•
•
Selesai sholat Dzuhur, Alicia di sambut oleh Raga yang ternyata sudah menunggu nya sedari tadi bersama Andina. Andina sengaja membiarkan raga menyusul mereka, dia ingin Alicia bisa berpacaran dengan Raga agar bisa dobel date dengan dirinya dan juga Rafa.
"Loh, kak Raga ngapain ke sini?" Tanya Alicia bingung.
"Engga, cuman pengen liat Lo aja." Jawab Raga seraya bangkit dari duduk nya di ikuti oleh Andina.
Kedua alis Alicia mengerut, dia tak paham maksud dari perkataan senior nya tersebut.
"Balik bareng gw ya Al?" Raga kembali bersuara, dan tawaran nya langsung di balas gelengan kepala oleh Alicia menandakan penolakan.
"Maaf kak,"
"Iya gapapa, santai aja."
Andina hanya diam menyaksikan, dia bingung dan tak tau harus berbuat apa. Di sisi lain dia ingin Alicia dan Raga bersama. Melihat tak ada lagi pergerakan, Andina berinisiatif mengajak Alicia pergi.
"Al.. Lo gak tertarik ya sama kak Raga? Dia kurang apa Al? Ganteng iya, cool iya, perhatian iya, kurang apa coba Al?" Tanya Andina tak habis fikir.
Alicia tak menjawab, semuanya terasa rumit bagi nya. Tanpa menjawab pertanyaannya Andina, Alicia berjalan dahulu meninggalkan Andina yang sudah menunjukkan raut wajah kekesalan.
Andina menggeleng melihat kepergian Alicia, sejujurnya ia sedikit sebal akan sikap sahabat nya hari ini.
"Andina?" Panggil Rafa yang kebetulan melihat kejadian yang baru di alami Andina dan Alicia.
Andina tentu mengenali suara itu, dia spontan membalikkan seluruh tubuh nya. "Kak Rafa? Kok di sini?"
"Iya, gw ke sini mau ngasih ini_" Rafa mengeluarkan sebuah undangan pernikahan. "Lo maukan nemenin gw kondangan?"
"Hah?" Andina membeo, sungguh ini semua di luar dugaan nya. Ya, Andina dan raga sedang dekat, meski beda agama, itu bukan penghalang bagi cinta mereka.
"Mau kan?"
"Iya kak,"
"Ok, jangan lupa ya, entar gw jemput ke rumah Lo."
"Iya kak,"
Setelah itu Rafa pergi, Andina memperhatikan belakang punggung Rafa hingga pria itu hilang dari jangkauan nya. Setelah itu Andina berteriak kegirangan.
---
Di sisi lain, Zafran sedang sibuk rapat bersama para pekerja nya. Meski sedang kacau, dia tetap bersikap profesional dan tidak ingin membawa masalah rumah tangga nya ke dalam pekerjaan nya.
Mata Zafran beradu dengan mata sepupu dan bibinya yang menjadi musuh dalam selimut di perusahaan ayah nya.
"Pak," panggil Dimas, membuat pandangan Zafran beralih menatap nya.
Dimas mengode kepada Zafran agar Zafran fokus bukan hanya ke bibi dan sepupunya, karena kini pria itu sedang menjadi pusat perhatian.
Zafran lelah, dia melonggarkan dasinya. "Cukup sampai di sini, kita lanjutkan di esok hari." Ucap Zafran mengakhiri rapat nya, dia berjalan keluar dengan cool di susul oleh Dimas.
Zafran tiba di ruangan nya, di sana terpampang besar foto almarhum ayahnya. Dalam hati dia berbicara, tangannya meraba dada kirinya melihat pakaian yang ia kenakan sekarang, pakaian formal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duda Pesantren (Selesai)
Ficção AdolescenteDI LARANG KERAS MEM-PLAGIATI KARYA INI!! Hai perkenalkan nama saya Refanny Alicia, saya baru lulus dari pesantren Al-Azhar. Demi bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, saya rela menjadi istri anak kiyai yang sudah 1 tahun lamanya mendud...
