"Bapak Alicia meninggal Gus."
Gus Zafran spontan kembali memeluk Alicia. "Kita hadapi ujian ini sama-sama." Zafran mengelus kepala Alicia, "dan bersabar lah atas apa yang menimpa mu, QS Luqman ayat 17."
Alicia membalas pelukan Gus Zafran, sebagai seorang anak, tentu hati nya sakit dan berduka.
"Kita makam kan bapak di sebelah makam Zayyan."
"Iya Gus."
Gus Zafran belum melepaskan pelukannya, dia juga kehilangan umi dan Abi nya. Umi Fatma dan kiyai Sobri sudah di kuburkan 3 hari yang lalu.
Mayat Najwa belum di temukan dan masih dalam pencarian. Begitu pula dengan ibu Alicia yang masih belum jelas keadaan dan kondisi nya.
••••
Alicia dan Gus Zafran menghadiri pemakaman, keduanya saling menguatkan dalam keadaan yang sama-sama rapuh.
"Gus, pesantren ancur, kita mau tinggal di mana?" Isak Alicia.
Gus Zafran menunduk sambil menatap tanah kuburan yang masih basah. Dia kepikiran sama makam Nabila, yang kemungkinan besar hilang karena terjangan air laut.
Gus Zafran merangkul Alicia sambil mengelus bahu istri nya. "Ujian nya berat ya Alicia. Tapi Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan manusia. Allah tau kita kuat dan bisa menghadapi semuanya."
Riri mendengar semua nya, dia hanya diam dan tidak berkomentar apapun. Suasana duka masih menyelimuti tempat itu.
Gus Zafran menatap batu nisan bertuliskan EL ZAYYAN PRATAMA BIN RIZKI EL ZAFRAN PRATAMA. Sebagai seorang ayah, tentu dia masih berat melepaskan putra nya. Karena melahirkan Zayyan, Nabila sampai kehilangan nyawa nya.
Alicia ikut menatap batu nisan Zayyan, dia tidak menyangka bayi mungil nya pergi secepat ini. Tak pernah terbayangkan dia akan terpisah dari anak sambung nya begitu cepat.
"Zayyan, pelukan bunda kurang hangat ya nak? Sampe Zayyan milih kembali ke pelukan yang maha kuasa?" Batin Alicia sedih.
Angkasa malas menyaksikan nya, baginya itu sudah seperti drama Indosiar yang alay. Angkasa pergi duluan dengan sepeda motor nya, meninggal kan Riri di sana.
"Ri, Angkasa udah pergi tuh." ucap Alicia dengan wajah sedih dan mata sembam.
Riri menoleh melihat kepergian Angkasa. Dia menghela nafas kasar, sangat menyebalkan mempunyai sepupu seperti Angkasa.
"Kalau kalian butuh tempat tinggal, ibu Riri punya kos-kosan."
Alicia menatap Gus Zafran. "Tidak terimakasih, saya masih punya rumah di Yogyakarta." Gus Zafran bersuara sambil menggenggam tangan Alicia.
Riri mengangguk mengerti, jadi Gus Zafran dan Alicia akan melanjutkan kehidupan nya di kota lain. Sebenarnya Gus Zafran berat meninggalkan tempat itu, karena di sana tempat peristirahatan terakhir buah hati nya.
"Gus, malam ini warga mau kirim doa buat para santri dan ustad ustadzah yang gugur, juga buat almarhum kiyai Sobri dan almarhumah umi Fatma."
"Saya akan menghadiri pengajian tersebut."
"Iya Gus."
••••
Selesai sholat Magrib, Gus Zafran dan Alicia pergi ke mushola, tempat di adakan nya pengajian. Pasangan suami istri itu berpisah, Gus pergi ke tempat laki-laki, dan Alicia pergi ke tempat ibu-ibu/perempuan.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, silah kan masuk Gus."
Gus Zafran di sambut baik di sana, istri nya juga di sambut dengan baik. Para warga menyampaikan belasungkawa kepada Zafran. Mereka semua warga atau orang-orang yang dulu pernah di bantu oleh kiyai Sobri.
Mereka tentu sedih dengan kejadian ini, banyak yang menawarkan diri ingin membantu Zafran dan Alicia, tapi Zafran menolak dengan halus. Dia tidak mau merepotkan siapapun.
Pengajian di mulai, Zafran yang memimpin pengajian tersebut. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar merdu memanjakan telinga.
Setelah selesai, mereka melaksanakan sholat isya berjamaah. Gus Zafran yang menjadi imam. Para warga berharap, Zafran bisa membangun kembali pesantren Al-Azhar, banyak orang tua yang mau me-mondokkan anak nya di sana.
Zafran hanya bisa tersenyum, membangun kembali berarti dia harus siap melihat kembali kenangan-kenangan yang terukir di sana. Itu hanya akan menambah kesedihan Zafran yang di tinggal kedua orang tua nya.
"Gus sing tabah nggih."
"Iya pak,"
Bapak-bapak itu menyalimi Gus Zafran secara bergiliran. Setelah bersalaman, mereka keluar dari mushola dan kembali ke rumah masing-masing.
Gus Zafran menghampiri istri nya setelah selesai bersalaman dengan semua laki-laki yang ada di sana. Tangan kanan nya masih menggunakan gip.
"Saya lapar." Bisik Gus Zafran.
"Tapi kita gak punya apa-apa Gus." Jawab Alicia yang juga ikut berbisik.
Gus Zafran pasrah, dia berjalan keluar mushola bersama Alicia. Saat sampai di depan rumah Riri, ternyata mereka sudah di tunggu oleh kedua orang tua Riri.
"Gus, mari makan kami sudah siapkan."
Alicia dan Gus Zafran saling tatap. "Masya Allah," batin Gus Zafran bersyukur.
Kedua nya masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi mereka di sambut dengan kehangatan.
Berhubung tangan kanan Gus Zafran masih menggunakan gip, dia makan dari tangan Alicia. Alicia menyuapi Gus Zafran sambil menyuapi diri nya sendiri, mereka berdua makan dalam satu piring bersama.
Pak Darwis dengan Bu Ranti (orang tua Riri) senyum-senyum menyaksikan nya, mereka flashback teringat masa muda.
"Bu, pak." Tegur Riri.
"Opo to Ri? Wong ibue kelingan jamane je enom." (Apasih Ri? Ibu itu teringat ketika masi muda.)
Pak Darwis salah tingkah. Alicia dan Gus Zafran heran melihat kelakuan kedua orang tua Riri.
"Maafin ibu bapak Riri ya Gus, kak Alicia."
Alicia reflek tersenyum. "Engga kok Ri, gapapa."
Mereka melanjutkan makan. Setelah selesai makan, Alicia membantu Riri membereskan bekas makan mereka. Meski sudah di larang, Alicia tetap bersikeras ingin membantu. Dia merasa punya hutang Budi kepada Riri dan keluarga nya. Jika bukan karena Riri, mungkin saja saat ini dia sudah bersemayam terkubur di sebelah makam Zayyan (meninggal juga).
••••
"Gus, sampai kapan kita numpang di sini?"
"Cuman malam ini Alicia. Besok kita ke pesantren, setelah itu berangkat ke Yogyakarta."
"Iya Gus,"
Mereka tidur dengan berpelukan. Gus Zafran masih berharap kalau wanita yang tengah ia peluk adalah Nabila.
Alicia tidak benar-benar tidur, dia memikirkan Najwa dan ibu nya yang sampai sekarang belum di temukan. Apa mungkin sebenarnya mereka sudah ketemu dan sudah di kubur di kuburan masal? Tak ada yang tau.
Alicia mempunyai dua orang kakak, laki-laki dan perempuan. Mereka semua pergi setelah sukses dan meninggalkan kedua orang tua nya tanpa peduli kepada orang yang telah berjasa membesarkan mereka hingga sukses. Jika di ingat-ingat itu sangat menyedihkan bagi Alicia. Terlahir dari keluarga miskin, di bully karena miskin, karena trauma sampai terpaksa pindah sekolah dan masuk pesantren dan bertemu Gus duda yang tampan dan kaya raya juga anak tunggal.
•
•
•
KAMU SEDANG MEMBACA
Duda Pesantren (Selesai)
Teen FictionDI LARANG KERAS MEM-PLAGIATI KARYA INI!! Hai perkenalkan nama saya Refanny Alicia, saya baru lulus dari pesantren Al-Azhar. Demi bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, saya rela menjadi istri anak kiyai yang sudah 1 tahun lamanya mendud...
