•chapter 19

17.9K 668 8
                                        

Dimas menghampiri Zafran, Zafran nampak emosi, tangannya terkepal erat dan wajah nya memerah. "Ambil salinannya Dim, saya sudah tau siapa pelakunya!"

Awalnya Dimas membeo, setelah itu dia mengerti dan menggunakan skil nya untuk mengambil salinan rekaman cctv.  Dimas dapat melihat kalau Zafran sangat marah, tergambar jelas dari raut wajah nya.

Zafran berjalan keluar dari dalam ruangan cctv, tak lama Dimas menyusul setelah selesai menyalin rekaman. Zafran kembali ke tempat anak yang tadi dia tolong di obati. Perasaan nya campur aduk, dia harus menemui Riri, karena hanya Riri yang bisa membantu nya bertemu dengan pria yang ada di dalam rekaman cctv.

"Bos, kita gak mungkin ninggalin anak itu sebelum walinya datang." Dimas memperingati.

Zafran berusaha meredam amarah nya, untuk saat ini tidak ada gunanya dia marah. Mereka kembali duduk di kursi, berharap orang tua si bocah segera datang dan mengambil anak nya.

Setelah 20 menitan menunggu, akhirnya orang tua anak itu datang bersama seseorang yang tak Zafran duga, pandangan keduanya saling bertemu, mereka betatapan untuk beberapa saat.

"Najwa?" syok Zafran mengira Najwa telah tiada.

"Gus? Masya Allah," Najwa tak kalah kaget nya dengan Gus Zafran.

"Kamu kenal?" tanya ibu-ibu yang berdiri di dekat Najwa.

"Iya, beliau mantan kakak ipar aku." jawab Najwa ragu.

"Bagaimana mungkin? kabarnya semua santri tewas." Zafran masih sulit meyakini kalau Najwa masih hidup.

"Saya juga gak tau Gus, bangun-bangun udah ada di RS. Ibu ini yang nolongin," Najwa menunjuk Bu Ratna. Zafran ikut menatap Bu Ratna, wanita baik yang telah menyelamatkan adek ipar nya. "Oh iya, gimana kabar kak Alicia? Baik-baik aja kan?"

"Alicia sudah meninggal."

"Innalilahi wainnailaihi rojiun,"

Dimas hanya menyimak obrolan Zafran dan gadis bernama Najwa itu. Dimas tentu tau siapa Najwa, tapi dia tidak peduli.

"Saya mau liat anak saya dulu, terimakasih sudah nolongin anak saya." Bu Ratna pergi meninggalkan Dimas, Zafran, dan Najwa.

Sejenak Zafran melupakan amarah nya, banyak hal tak terduga terjadi hari ini. "Bagaimana kabar mu?" tanya Zafran lagi.

"Saya baik Gus, syukur alhamdulilah bisa ketemu lagi sama Gus Zafran. Saya turut berdukacita atas meninggalnya kak Alicia Gus,"

Zafran tersenyum tipis, "masih ada yang harus saya urus, saya pamit pergi. Oh iya, simpan ini," Zafran memberikan nomor telpon nya. "Bagaimana pun kamu tetap adek saya."

"Terimakasih Gus,"

"Kalo butuh apa-apa jangan sungkan telpon saya, saya sekarang tinggal di Yogyakarta."

"Iya Gus,"

"Saya pamit assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Zafran melangkahkan kakinya di ikuti oleh Dimas. Najwa sempat melirik Dimas sekilas, tapi mereka seperti tidak saling tertarik satu sama lain.

*Di dalam mobil*

"Bos, walau kita nyusul ke Bali, akan susah nyari nya kalo gak tau alamat nya." Dimas berucap seraya menyalakan mesin mobil nya.

"Saya gak tau harus nyari informasi di mana." suara Zafran melemah.

Dimas menghela nafas, seperti nya hanya dia satu-satunya orang yang saat ini bisa melihat titik terlemah Zafran. Dimas sudah seperti adek sendiri bagi Zafran, karena dia banyak membantu Zafran.

Duda Pesantren (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang