#4

381 45 4
                                    

Walau kakinya belum sepenuhnya pulih, Jihoon tetap berusaha mengantarkan minuman/makanan yang selanjutnya akan dia berikan pada Soobin....Tuan mudanya yang kedua.

Saat ini Jihoon sudah berada di kamar Soobin setelah dipersilahkan dengan begitu mudah. Namun Jihoon disuruh untuk tetap berada di dalam kamar. Jihoon menurut dan sejak 15 menit dia menunggu akhirnya Tuan Jihoon yang bernama Soobin itu sudah selesai membersihkan dirinya.

"Kau kemari ingin minta maaf bukan?"

"...." Jihoon diam karena maksud dan tujuannya sudah ditebak dengan mudah oleh Soobin.

"Kenapa diam saja?
Bukan kah tujuanmu kemari adalah untuk meminta maaf padaku?"

"I-iya benar Tuan"

"Akan ku maafkan bila kau lakukan satu syarat ini"

"Syarat Tuan?"

"Iya...
Jika kau tidak bersedia dengan syarat yang kuberikan. Jangan harap aku akan memafkanmu"

"Baik Tuan akan saya lakukan apapun itu syarat nya"

"Anak pintar..." Soobin sontak langsung mengacak surai hitam yang lebih pendek.

"Syarat nya adalah menghapus make-up yang ada di wajahmu sekarang juga dihadapan ku"

Mata sayap Jihoon mengerut kebingungan, dia meraba wajahnya yang sama sekali tidak terpoles oleh make-up sedikit pun. Lalu apa yang harus dia hapus?

"Tuan sa-" Terhenti, Jihoon sadar jika dia menjawab pasti akan menjadi masalah lagi untuk nya. Melihat tatapan Soobin yang sudah serius, Jihoon tidak bisa mengelak dan memang harus membuktikannya sendiri.

"Ba-baik Tuan"

Jihoon meminta izin apakah boleh dia menggunakan pembersih muka yang berada di meja dekat kasur milik Soobin yang langsung menganggukkan kepalanya.

"Gunakan saja" Ucap datar Soobin dengan tatapan yang begitu mengintimidasi Jihoon.

Menunduk berterimakasih, Jihoon segera membersihkan mukanya yang sebenarnya tidak ada make-up sama sekali.

"Yang benar!" Marah Soobin, melihat tidak ada sedikit pun make-up yang luntur dari wajah Jihoon.

"B-baik Tuan" Jihoon rasanya ingin menangis, sudah berapa kali dalam satu hari ini dia dibentak-bentak. Belum lagi dia akan memberikan makanan/minuman untuk Tuan nya yang paling muda yaitu Beomgyu.

Sudah satu menitan Soobin mengamati tapi tetap saja tidak ada yang luntur dari wajah Jihoon. Merasa dipermainkan, Soobin menghampiri Jihoon dan menyita pembersih mukanya.

"Duduk!" Perintah Soobin, mendorong bahu Jihoon yang sontak langsung terduduk di kasur milik Tuan mudanya.

"Kenapa membersihkan make-up saja tidak becus!" Lontar nya lagi, tangan besarnya sudah teliti mengusap hampir seluruh wajah Jihoon.

"Karena make-up mu ini kau jadi terlihat polos dan minta dikasihani..."

Terdiam sejenak...Soobin masih tidak percaya bahwa wajah Jihoon itu memang benar tanpa make-up...tapi dirinya masih berusaha untuk menghilangkan make-up yang ada pada Jihoon, terutama pipi Jihoon yang terlihat merah berseri itu juga bibirnya.

"Bagaimana bisa?!" Herannya kesal dengan matanya yang melebar. Sedangkan Jihoon menahan air matanya untuk tidak keluar lantaran usapan yang diberikan Soobin begitu keras malahan wajah Jihoon semakin merah.

"Kau!!..."

"Maaf Tuan...saya memang tidak memakai make-up sama sekali" Ucap Jihoon dengan matanya yang sudah berembun.

"Hah....! Sudahlah aku jadi lelah karena harus membersihkan wajahmu, keluar sekarang!"

Menunduk cepat Jihoon segera berdiri dan keluar dari kamar Soobin dengan langkah yang tergesa. Meninggalkan tatapan mata Tuannya yang masih terheran-heran melihatnya.

"Sial! malah semakin merah"

Memperhatikan kapas yang sebelumnya untuk membersihkan wajah Jihoon.
Ibu jarinya mengusap pelan pada kapas itu, tidak lama hembusan napas dia keluar kan.

"Kenapa rahangnya sedikit lebam?"
Monolognya penasaran.

.
.
.

.
.
.

"Ketua!! Ketua kenapa lagi? Kenapa wajah manis Ketua jadi merah sekali?" Beberapa maid muda menghampiri Jihoon khawatir.

Beberapa dari mereka berusaha mengambil beberapa kain yang sudah di isi oleh air dingin dan langsung mengoleskan nya pada wajah Jihoon.

"Tu-tunggu! Kenapa kalian malah sibuk mengurusi ku?" Jihoon masih terheran-heran akan sikap para maid muda di mansion Choi yang begitu memperhatikan keadaannya.

"Eum... Itu karena sudah jelas bahwa kau itu adalah Ketua kami" Jawab salah satu maid

"Apa hubungannya? Aku sama sama maid seperti kalian bedanya aku satu-satunya maid laki-laki disini"

"Anu-"

"Begini Ketua...memang dari dulu...seorang ketua dari para maid itu wajib untuk dihormati apalagi untuk meladeni Ketua...kami pun juga sangat siap"

Melihat sekeliling kamar Jihoon...dia pikir-pikir juga sepertinya menjadi ketua begitu menguntungkan bagi hidupnya. Dilihat dari kamar yang dia tempati. Bahkan tidak ada bedanya dengan kamar yang dipakai Tuan-tuan mudanya.

"Sepertinya Nyonya Choi salah memberiku kunci" Mengabaikan apa yang sebelumnya dikatakan maid muda padanya. Jihoon sudah mengganti topik.

"Ah ayolah Ketua sedikit lah serakah pada kami...kau bisa meminta apapun itu"

"Tidak perlu, Lebih baik lakukan tugas kalian dengan benar" Omel Jihoon.

"Kalau begitu izinkan kami melaporkan pada Nyonya bahwa Ket-"

"Tidak!!" Jihoon berdiri dari duduknya dengan wajah yang begitu kecewa dan kesal pada para maidnya

"Kenapa kalian malah ingin melaporkan pada Nyonya! Kalian ingin aku dipecat?! Biarkan aku terbiasa dengan keadaan disini terlebih dulu jika memang aku tak sanggup aku akan pergi dari sini" Panjang lebarnya.

Para maid langsung menatap satu sama lain merasa bersalah. Maksud dari mereka yang ingin melaporkan pada Nyonya adalah berharap Nyonya memberikan sedikit peringatan untuk anaknya agar tidak melakukan hal semena-mena pada ketua mereka. Hanya itu tapi ternyata ketua mereka malah salah paham.

"Maafkan kami ketua maksud kami buka-"

"Pergi! Aku akan melakukan semuanya sendiri jangan perdulikan aku! Kalian urus diri kalian sendiri saja"

'Duh bagaimana ini!'

'Ketua marah kan pada kita'

'Sebaiknya kita pergi dulu biarkan ketua menenangkan dirinya'

Bisik para maid-maid itu yang segera menundukkan kepala dan pamit pada ketua mereka. Jihoon menjatuhkan dirinya ke kasur dengan memijit pelipisnya lelah.

"Haahh kenapa aku menjadi begitu emosional? Mereka pasti akan melaporkan nya pada Nyonya setelah ini" Ucapnya merasa menyesali.

"Ini jadi tidak ada bedanya aku dengan Tuan Muda" Monolog nya lagi. Tidak lama Jihoon kembali mendudukkan dirinya dan memberi air es yang sebelumnya sudah disiapkan para maid untuk nya.

Selesai mengobatinya sebentar. Jihoon kembali melakukan tugas terakhirnya untuk meminta maaf pada Tuan muda selanjutnya.

"Aku rasa yang terakhir ini juga akan sama" Monolog nya pasrah.

TBC

Jangan lupa!
Vote
Komen
Follow
OKAY!

I LOVE YOU BERTUBI-TUBI♡

CHOI And MAID | WinkChoiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang