Bab 4 - Orang yang Sama -

18 7 12
                                        

Tepat pukul empat sore, Hana kembali ke rumahnya. Seharian ini dia begitu kalut setelah berdiskusi dengan Pak Rio.

Pria itu mengatakan bahwa Hana perlu memperbaiki nilainya dan Pak Rio juga mengatakan satu nama yang mungkin dapat membantu Hana. Kata Pak Rio, Evan adalah siswa yang memiliki nilai tertinggi di sekolah. Tetapi, Hana tidak mengenal pria itu. 

Bagaimana bisa Hana meminta bantuan dengan Evan?

Hana keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, dia cukup terkejut karena menemukan sang Ibu yang tengah duduk di atas kasurnya. Namun, wajah paniknya pun segera dia hilangkan dan kemudian berubah menjadi ekspresi datar seperti biasanya.

"Gimana sekolah kamu?"

Ibu Hana berdiri dan mendekat ke arah Hana yang tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.

"Bukan urusanmu," jawab Hana dengan tegas.

Wanita itu kemudian duduk di kursi belajarnya dan menyalakan komputer yang ada di hadapannya. Tatapannya kemudian terfokus pada layar komputer tersebut. Namun, pikirannya tengah pergi entah kemana.

"Ibu tau, kamu masih benci sama Ibu. Tapi, kalau kamu tau bagaimana yang sebenarnya. Kamu pasti paham apa yang Ibu rasakan," jelas Ibu Hana dengan suara serak.

Hana mencoba untuk tidak peduli. Namun, seketika kepalanya menjadi berat.

"Apa yang perlu aku tau? Semuanya aku tau, Bu. Ibu berselingkuh dan akhirnya kalian bercerai, kan?"

Hana tersulut emosi. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan sang Ibu.

"Ibu tau? Aku capek Bu, aku capek datang ke pengadilan cuman buat jadi saksi perceraian kalian. Aku capek."

Tidak ada yang tau bagaimana kehidupan Hana yang sebenarnya, keluarga dia hancur karena sang Ibu berselingkuh.

Hal itu tentu membuat pikiran Hana menjadi kacau, dia sering tidak bisa tidur sehingga telat untuk turun sekolah.

"Maafin, Ibu... ."

Tangan Ibu Hana mengambang ingin memegang tangan sang anak. Namun dengan cepat, Hana menjauhkan dirinya.

"Ibu tau, aku terancam nggak naik kelas, Bu. Aku ketinggalan banyak pelajaran. Nilai aku berantakan. Semua karena siapa. Karena, Ibu!"

Hana berteriak seperti kesetanan, dia bahkan menunjuk sang Ibu yang kini terlihat amat bersalah. Garis wajah wanita itu semakin terlihat, nampak jelas termakan usia.

"Sekarang, mending Ibu keluar. Aku enggak mau ngeliat muka, Ibu. Keluar!"

Ibu Hana akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar anak semata wayangnya itu. Jujur, wanita itu sangat berat untuk pergi. Namun, jika dia masih bersikeras untuk tidak keluar. Pasti Hana lebih murka dari sekarang.

Beberapa harinya kemudian, Hana pun kembali telat masuk sekolah. Di depan gerbang, dia berulang kali memohon untuk dapat masuk ke dalam sekolah karena pagi ini dia harus mengumpulkan tugas remedial ujian mingguan.

"Pak, saya mohon pak," pinta Hana dengan nada yang cukup pelan.

Wajah wanita itu terlihat pucat pagi ini, bahkan peluh di dahinya begitu banyak padahal cuaca tidak sedang panas.

Tak lama kemudian, Hana terjatuh ke tanah. Wanita itu langsung tidak sadarkan diri dan hal tersebut membuat satpam sekolahnya terkejut.

Pria tua itu segera membuka gerbang dan mau mengangkat tubuh Hana. Namun, tiba-tiba saja Evan datang.

"Biar saya saja, Pak."

Evan mengangkat tubuh Hana dan berlari cukup kencang. Tujuannya adalah UKS karena ternyata suhu tubuh wanita itu sangatlah tinggi.

Sesampai di UKS, Evan segera mengompres dahi Hana.

Sebenarnya pria itu tidak sengaja lewat di dekat gerbang dan melihat ada yang pingsan. Namun, siapa sangka bahwa yang pingsan adalah orang yang dia kenal.

Setelah beberapa kali dikompres, panas di tubuh Hana pun menurun dan tak lama kemudian wanita itu sadar. Wajahnya sudah lebih baik sekarang, tidak sepucat yang tadi.

Hana berusaha untuk mendudukkan dirinya dan Evan pun membantunya. Pria itu dengan cekatan menarik tubuh Hana agar dapat duduk sesuai apa yang dia inginkan.

"Gue dimana?" tanya Hana sembari memegang kepalanya yang masih terasa berat.

"Di UKS," jawab Evan dengan singkat.

Hana melirik ke arah Evan dan terdiam untuk sesaat. Dia cukup bingung, kenapa dia bisa berada di UKS.

"Lo, enggak papa kan?" tanya Evan memastikan.

Pria itu takut Hana kenapa-kenapa. Di sisi lain, Hana hanya menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya.

"Lo yang bawa gue ke sini?"

Evan mengangguk dan melemparkan senyumannya, "Iya, gue yang bawa lo kesini."

"Terus, lo enggak belajar gitu?"

"Enggak, guru di kelas gue lagi nggak ada. Tadi gue mau ke perpus tapi gue nggak sengaja liat lo pingsan."

Ada rasa tak enak di hati Hana sekarang, dia merasa bahwa Evan terlalu baik padanya. Wanita itu tentu ingat bahwa Evan adalah pria yang mengembalikan dompetnya saat terjatuh dulu. Namun, Hana belum mengetahui nama Evan.

"Oh gitu, BTW, nama lo siapa?" tanya Hana sembari melirik ke arah Evan.

"Nama gue Revan Virendra, panggil aja Evan."

Dahi Hana mengkerut bingung, "Lo Evan yang paling pinter di sekolah ini kan?"

Hana menunjuk Evan dengan jarinya, jujur dia tidak percaya kalau ternyata Evan adalah orang yang mengembalikan dompetnya dulu.

"Iya, emangnya kenapa?" tanya Evan yang seketika membuat Hana terdiam.

Gimana caranya ngajak dia belajar bareng ya? tanya Hana di dalam hati.

Wanita itu terlihat menggigit bibirnya saat tengah berpikir dan lama kelamaan hal itu membuat bibirnya terluka.

"Aw!" pekiknya setelah merasakan sakit di bibirnya.

Evan berdiri dari duduknya dan langsung menahan kepala Hana dengan kedua telapak tangannya.

"Lo nggak papa?" tanya Evan dengan wajah khawatir.

Tatapan Evan yang begitu dalam membuat Hana menjadi terpaku. Namun, wanita itu segera menyadarkan dirinya. Dia menjauhkan tangan Evan dari kepalanya dan kemudian membuang jauh pandangannya.

Di sisi lain, Evan pun merasa bersalah karena tiba-tiba saja dia memegang wanita yang baru dia kenal beberapa hari ini. Pria itu kemudian mengambil beberapa kapas dan juga betadine.

Tentu, Evan melihat darah yang berada di ujung bibir Hana.

Tanpa aba-aba, pria itu menarik kepala Hana agar mengarah kepadanya. Hana terkejut. Namun, dia malah tak dapat berbuat apa-apa. Seakan kini, tubuhnya kaku.

Dengan perlahan Evan membersihkan darah di bibir Hana. Hal itu membuat detak jantung Hana tak karuan.

Setelah selesai, Hana segera melepaskan tangan Evan yang masih setia berada di dagunya.

"Lo udah baikkan kan? Luka di bibir lo juga sudah gue obatin. Gue ke kelas dulu ya."

Evan beranjak dari tempatnya. Namun, tangan Hana menahan kepergian pria itu.

"Makasih."

Ucapan terima kasih pertama Hana ini tentu membuatnya sedikit bingung, dia sudah lupa kapan terakhir kali mengatakan hal itu. Namun sekarang, ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.

***

Duh, bisa dapet di mana ya. Cowok kaya Evan. 🥲

***

Yuk, tinggalin jejak kalian di cerita ini. Biar aku lebih semangat menulisnya.

***

Terima kasih.

Double Benefit (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang