Ketika tengah fokus belajar, tiba-tiba saja sebuah pemberitahuan terdengar. Semua murid di dalam kelasnya masing-masing terfokus pada pengeras suara yang Tepat berada di atas papan tulis. Tidak hanya murid yang penasaran dengan pemberitahuan tersebut. Namun juga, guru yang mengajar di kelas merasakan hal yang sama.
"Tes, satu, dua. Diberitahukan untuk siswi yang bernama Hana Tuvika kelas 11 F untuk datang ke ruang kepala sekolah sekarang. Terima kasih."
Pemberitahuan itu terdengar sebanyak dua kali. Di kelas Hana, nyaris semua murid menatap ke arah wanita itu termasuk sang guru yang mengajar.
Hana sudah biasa mendapat tatapan seperti itu, dia kemudian berdiri dari tempat duduknya. Jujur, dia juga bingung kenapa dia dipanggil dan harus ke ruang kepala sekolah padahal biasanya dia hanya dipanggil ke ruang Pak Rio yaitu ruang BK.
"Kamu boleh pergi," ucap guru yang tengah mengajar dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir.
Tanpa membalas ucapan sang guru, Hana segera keluar dari kelasnya. Namun sebelum itu, dia menggunakan hoodie kesayangannya.
Hana berjalan dengan santai menuju ruang kepala sekolah. Tangannya dia masukkan ke dalam kantung hoodienya, sembari menatap sekeliling yang sangat sepi. Jam istirahat masih satu jam lagi, sudah pasti siswa-siswi yang lain masih di kelasnya masing-masing.
Saat sampai di ruang kepala sekolah, Hana cukup terkejut karena ibunya ada di ruangan tersebut bersama dengan kepala sekolah, Pak Rio dan Ibu Kila, Wali kelas Hana.
"Masuk, Han," ucap Ibu Kila pada Hana.
Wanita itu segera masuk dan menatap sekilas ke arah Maya, ibunya. Tatapannya sedikit tajam. Namun, sang ibu malah melempar senyumannya kepada Hana.
"Nak Hana, kenapa sih nggak ngomong sama Bapak kalau kamu ada masalah. Kan bisa Bapak bantu."
Kepala sekolah itu, menampilkan wajah yang cukup menyeramkan bagi Hana. Pria tua itu tersenyum ke arah Hana. Senyuman palsu yang membuat Hana nyaris menyumpah. Bisa-bisa sang kepala sekolah kini tengah merayunya, sepertinya sang ibu sudah mengurus masalahnya dengan uang.
"Pokoknya kamu tenang aja ya, kamu pasti naik kelas kok."
Hana segera menatap tajam ke arah sang ibu bahkan tatapannya lebih tajam dibanding sebelumnya, rasa muak di dalam benaknya kini menyeruak. Dia tidak terima dengan semua ini.
Tanpa aba-aba, Hana berdiri dari duduknya dan mengerebak meja di hadapannya. Semua orang di dekatnya pun terkejut bahkan beberapa di antara mereka melotot ke arah Hana.
"Kamu apa-apaan sih, Han," tegur Ibu Kila sembari menarik tangan Hana dengan maksud menyuruh anak muridnya itu untuk kembali duduk.
Hana melepas genggaman wali kelasnya itu dengan kasar, "Ibu yang apa-apaan."
"Saya di sini sekolah, harusnya kalian memperlakukan saya sama seperti anak-anak lain. Kalau saya enggak bisa naik, ya enggak!" lanjut Hana dengan berteriak.
"Kalian matre ya, cuman gara-gara uang ibu saya, kalian memperlakukan saya seperti ratu di sini!"
Hana memandang remeh ke arah Kepala Sekolah yang kini melotot ke arahnya.
"Saya bakal buktiin, kalau saya bisa lulus karena nilai saya dan bukan karena bantuan kalian!"
Hana beranjak dari tempatnya, keluar dari ruang kepala sekolah itu dengan amarah di benaknya bahkan wanita itu menutup pintu ruangan tersebut dengan kencang sehingga membuat orang-orang yang berada di dalan ruangan tersebut terkejut.
Maya, sang ibu, hanya dapat menatap sendu kepergian anaknya. Dia tentu tau bahwa Hana masih marah padanya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Benefit (END)
Teen FictionKehidupan yang amat berbeda antara Evan dan Hana tentu membuat keduanya seperti langit dan bumi. Pertemuan singkat mereka di depan gerbang berhasil membuat keduanya terlibat perjanjian yang saling menguntungkan. Namun, karena sikap yang berbeda di a...
