Mal yang ramai tersebut begitu dirindukan oleh Hana. Selama menuju ujian, wanita itu menahan dirinya untuk tidak pergi ke mal karena setiap kali Hana pergi ke mal. Dia akan lupa waktu dan tentu hal tersebut akan mengganggu waktu belajarnya.
Kini, Hana dan Evan sudah sampai di depan mal yang mereka tuju. Entah dengan tujuan apa Hana mengajak Evan ke sini karena wanita itu belum mengatakan apapun.
Tadi sebelum ke sini, mereka sempat singgah ke rumah Evan dulu untuk berganti baju karena mal tidak mengizinkan pelajar yang masih menggunakan seragam untuk masuk ke area mereka.
Walau harus sedikit memakan waktu untuk ke rumah Evan dulu. Namun, hal itu tidak membuat semangat Hana luntur.
Evan yang di sisinya pun tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, saat melihat Hana berloncat-loncat seperti anak kecil. Dia juga beberapa kali menuju toko-toko di dalam area mal dan Evan hanya mengikuti wanita itu dari belakang.
Sudah nyaris lima toko wanita itu datangi dan sampai di toko ke lima. Evan menghentikan langkahnya, dia cukup bingung karena Hana berjalan ke arah toko ponsel yang cukup terkenal dengan logo apel tergigit.
Hana yang sudah masuk ke dalam toko tersebut mencari-cari keberadaan Evan yang seharusnya berada di dekat dia. Namun, ternyata Evan masih ada cukup jauh di belakangnya.
Hana bergegas menuju ke arah Evan dan menarik pria itu untuk masuk ke dalam toko ponsel bersamanya.
"Lo mau beli hape?" bisik Evan.
Hana yang tengah asik melihat-lihat ponsel pun menatap balik ke arah Evan. "Iya," jawabnya singkat.
"Hmm, Mbak. Kalau Iphone 14 pro max nya ready?" tanya Hana pada wanita yang tengah melayani mereka berdua.
"Ada, Mbak. Mau warna apa?"
Hana terdiam dan kemudian menatap ke arah Evan, "Bagusnya warna apa?"
"Hitam aja, netral," jawab Evan singkat tanpa melihat ke arah Hana karena kini pria itu tengah sibuk melihat-lihat ponsel di hadapannya.
"Ya udah, yang hitam aja, Mbak. Penyimpanannya yang paling gede ya."
"Baik, Mbak. Untuk pembayarannya bisa cash, debit atau kredit."
"Debit aja, Mbak."
"Baik, silakan lewat sini ya, Mbak."
Hana kemudian melepaskan kaitan tangannya pada Evan dan mengikuti wanita yang melayaninya tadi. Namun, sebelum itu dia berpamitan dulu dengan Evan dan menyuruh pria itu untuk menunggunya sebentar.
"Bentar ya, gue mau bayar hapenya."
"Iya."
Sepeninggal Hana, Evan kemudian berjalan-jalan di area toko ponsel tersebut. Keinginannya memiliki ponsel baru sebenarnya cukup besar. Namun, dia harus sadar bahwa kondisi keluarganya cukup memprihatinkan.
Tunggu satu tahun lagi dan pria itu akan bekerja keras untuk mendapat uang lebih agar keluarganya bisa hidup nyaman tanpa perlu memikirkan uang.
Hana kembali dengan tas kecil berisi kotak ponsel. Tentu di dalamnya ada sebuah ponsel yang wanita itu beli. Hana kemudian mendekat ke arah Evan dan kembali mengaitkan tangannya.
Evan cukup terkejut dan ketika melihat pelakunya adalah Hana, dia melempar senyum terbaiknya.
"Sudah?"
Hana mengangguk dengan semangat. "Udah, nih," ucapnya sembari mengangkat tas kecil ditangan kirinya.
"Ya udah, terus mau kemana?" tanya Evan yang langsung membuat Hana terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Benefit (END)
Novela JuvenilKehidupan yang amat berbeda antara Evan dan Hana tentu membuat keduanya seperti langit dan bumi. Pertemuan singkat mereka di depan gerbang berhasil membuat keduanya terlibat perjanjian yang saling menguntungkan. Namun, karena sikap yang berbeda di a...
