Pertanyaan Evan kini menghantui pikiran Hana, membuatnya tidak bisa tidur bahkan wanita itu tidak ngantuk sama sekali.
Sekarang sudah pukul satu malam. Namun, matanya begitu segar menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Evan, kini menghantui pikirannya. Apalagi tentang ucapan yang pria itu sampaikan, membuat Hana menjadi bingung juga bimbang.
Bagaimana bisa, dia bertemu dengan Ibu Evan padahal dia baru mengenal pria itu. Nyatanya, Hana membayangkan jika dia harus bertemu dengan Ibu pacarnya. Namun, Evan bukan pacarnya. Kenapa dia menjadi sangat takut seperti ini.
Selain terbayang dengan ucapan Evan, Hana juga penasaran kenapa Ibu pria itu mau bertemu dengannya. Salah dia, karena langsung pergi tadi dan tidak bertanya lebih lanjut pada Evan.
Akhirnya, dia kini tidak bisa tidur karena pertanyaan-pertanyaan yang perlu terjawab sekarang. Dia pun tidak bisa meminta jawaban Evan karena tidak memiliki nomor telepon pria itu.
Satu jam berlalu, Hana pun akhirnya dapat tertidur. Nyaris jam dua malam sekarang, dia tentu tidak yakin besok bisa bangun cepat.
Setelah lima jam tertidur, Hana pun terbangun tepat pukul tujuh pagi. Dia meruntuki dirinya sendiri karena menyalakan alarm pada jam beker kesayangannya.
Dia tentu masih ngantuk sekarang. Namun, dia ingat bahwa dia tidak mau telat lagi.
Hana beranjak dari kasurnya, membuka gorden kamarnya dan langsung disambut dengan sinar matahari yang cukup terik.
Mata Hana seketika menyipit saat matahari itu menyapanya.
"Gile, udah terang aja," oceh Hana sembari pergi menuju kamar mandinya.
Nyaris setengah jam, Hana mandi. Dia kemudian keluar dari ruangan tersebut. Pakaian rapi yang akan dia gunakan hari ini sudah ada di atas meja belajarnya.
Ibu Nuri, pembantunya, yang melakukan hal itu. Sejak kecil wanita tua itu sudah mengurusnya bahkan Hana nyaris mengira Ibu Nuri adalah ibunya saat kecil.
Setelah menggunakan seragam, Hana segera pergi menuju lantai satu rumahnya. Dia sedikit melirik meja makan yang langsung menyapanya saat turun.
Meja itu sangat kosong, bahkan Hana lupa. Kapan terakhir meja itu dipenuhi makanan lezat.
Langkah kaki Hana sedikit lebih cepat dari biasanya, dia langsung mengejutkan supir yang akan mengantarnya ke sekolah.
"Pak!" pekik Hana dengan cukup keras.
Pak Tono, supir pribadinya pun terkejut dan nyaris menyemburkan air di mulutnya. Ketika Hana mengejutkan beliau, pria itu tengah minum kopi. Minuman kesukaannya setiap pagi.
"Ayo, Pak. Antar saya ke sekolah."
"Baik, Non!"
Sesampai di sekolah, Hana ternyata nyaris terlambat. Jalanan menuju sekolahnya macet parah. Namun untungnya, dia tetap bisa masuk karena bel sekolah baru berbunyi 5 menit lagi.
Hana belajar dengan baik sekarang, walaupun banyak pelajaran yang tertinggal. Namun, dia tetap terus berjuang agar bisa naik kelas.
Jam istirahat berbunyi seperti biasanya, cukup nyaring dan mampu membuat semua siswa bahagia. Mereka berlarian keluar, begitupula dengan Evan. Dia tentu menyukai jam istirahat.
Bukan kantin tempat yang dia tuju, melainkan kelas Hana. Dia harus mengatakan pada wanita itu bahwa mereka tidak bisa belajar bersama pulang sekolah nanti karena tiba-tiba saja Evan harus latihan basket.
Pertandingan basket terakhir pria itu akan berlangsung dalam beberapa bulan lagi. Hal itulah yang menyebabkan dia harus latihan lebih dari sebelumnya. Biasanya pria itu latihan dua kali seminggu. Tapi sekarang, bertambah satu kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Benefit (END)
Teen FictionKehidupan yang amat berbeda antara Evan dan Hana tentu membuat keduanya seperti langit dan bumi. Pertemuan singkat mereka di depan gerbang berhasil membuat keduanya terlibat perjanjian yang saling menguntungkan. Namun, karena sikap yang berbeda di a...
