Panas di wajah Hana tiba-tiba saja datang, jelas terlihat bahwa kini wajah wanita itu tengah memerah karena malu. Dia bahkan tidak bisa membalas ucapan Evan yang tiba-tiba itu.
"Jangan malu gitu dong," goda Evan sembari mengelus pipi Hana.
Wanita itu kemudian menjauhkan tangan Evan sembari membuang jauh pandangannya. Jika dia memandang Evan, entah kenapa alunan detak jantungnya menjadi tidak karuan.
"Lo nggak usah becanda deh," ucap Hana menyanggah apa yang Evan katakan sebelumnya.
Evan menarik tangan Hana dan mengelusnya dengan pelan. "Lo pikir selama ini gue becanda? Gue udah nembak lo dua kali loh dan kali ini... Lo bakal nolak lagi?"
Pikiran Hana tiba-tiba saja berhenti. Senyum yang sebelumnya terlukis pun pudar. Dengan perlahan dia kembali menatap Evan dan melepaskan genggaman pria itu.
"Van, apa yang buat lo suka sama gue? Gue ini nggak ada apa-apanya dibanding cewek lain!" tegas Hana dengan cepat.
Dia merasa bahwa hubungan mereka tidak bisa lebih dari sekedar teman. Namun, dia juga tidak bisa berbohong kalau dia memiliki perasaan pada teman belajarnya itu.
"Han, lo nggak perlu sempurna buat gue. Gue bahkan jauh dari kata sempurna. Tapi... Gue yakin lo juga punya perasaan yang sama kaya gue."
Seperti dapat menebak pikiran Hana, tiba-tiba Evan mengatakan hal yang benar adanya terjadi. Hana tidak bisa menahan keterkejutannya atas ucapan Evan dan lagi-lagi membuat wanita itu berpikir cukup lama.
"Han, gue malah yang ngerasa nggak pantes buat lo. Tapi, Ibu gue selalu ngasih semangat ke gue buat nggak nyerah dapetin lo," lanjut Evan dengan cepat. Pria itu bahkan dengan jujur mengatakan semuanya.
"Jadi, Ibu lo tau?" tanya Hana dengan hati-hati. Evan segera mengangguk dan hal itu membuat Hana merasa bersalah.
Dia ragu untuk menerima Evan. Namun, hatinya terus menggebu untuk mendapatkan pria itu. Pria yang nyaris sempurna bagi Hana.
"Tapi, kalau lo nggak mau, nggak papa kok. Tapi... Kita masih bisa jadi temen kan?" tanya Evan sembari tersenyum.
Senyuman tersebut jelas berbeda dari sebelumnya. Senyuman kesedihan yang nyatanya dipaksa. Hana sudah tidak tahan lagi untuk berpura-pura bahwa dia juga menyukai Evan.
"Nggak... Gue nggak mau jadi temen lo," ucap Hana dengan tiba-tiba yang membuat Evan kebingungan.
"Jadi, lo nggak mau temenan sama gue lagi?"
Hana menggeleng dengan cepat. "Nggak, bukan gitu maksud gue. Tapi, gue mau kok jadi pacar lo."
Evan kembali bingung karena ucapan Hana. "Maksudnya? Gue nggak paham?"
Alis Evan bertaut saat meminta penjelasan, dia bahkan sedikit kesal saat melihat Hana yang kini enggan untuk menatapnya.
"Han," panggil Evan dengan pelan. Pria itu mengangkat wajah Hana agar dapat menatap wajah cantik milik wanita itu. Namun, mata Hana enggan untuk menatap balik ke arahnya.
"Gue nggak mau maksa lo, kalau lo nggak mau. Nggak papa kok... ."
"Gue nggak kepaksa kok! Gue juga suka sama lo!" potong Hana dengan suara yang cukup nyaring. Hingga membuat pengunjung tempat makan tersebut menatap ke arah mereka.
Hana menundukkan kepalanya lagi sembari menggigit bibir bawahnya, dia sangat malu sekarang. Namun, pria di hadapannya malah tertawa kecil.
Hana mengangkat pandangannya dan memberikan tatapan tajam ke arah Evan.
"Maaf, maaf. Gue nggak maksud ketawain lo kok."
* * *
Akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang setelah makan, keduanya masih cukup canggung atas kejadian sebelumnya. Tidak ada percakapan serius yang kembali mengarah pada hubungan mereka dan hal itu membuat sopir pribadi Hana cukup bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Benefit (END)
Fiksi RemajaKehidupan yang amat berbeda antara Evan dan Hana tentu membuat keduanya seperti langit dan bumi. Pertemuan singkat mereka di depan gerbang berhasil membuat keduanya terlibat perjanjian yang saling menguntungkan. Namun, karena sikap yang berbeda di a...
