Ponsel kecil Evan berbunyi cukup nyaring, suaranya begitu aneh di telinga. Hal itu membuat orang-orang yang mendengarnya mencari-cari dari mana asal suara tersebut. Evan yang menyadarinya pun segera mengangkat telepon tersebut. Ini masih jam pelajaran. Namun, tiba-tiba saja ibunya menelepon.
"Halo, Bu," ucap Evan dengan nada berbisik. Tubuh tingginya bahkan harus menunduk agar tak terlihat oleh guru yang tengah mengajar.
Ibu Evan menjelaskan bahwa kondisi adik pria itu sekarang tengah memburuk. Gadis kecil itu kembali mengalami nyeri dan harus di larikan ke ruang Intensive care unit (ICU)..
Evan yang mendengar hal itu pun langsung dibuat kelabakan. Dia kemudian segera meminta izin pulang pada guru yang mengajar. Syukurnya, beliau mau memberi izin setelah Evan menjelaskan alasannya.
Evan berlari cukup kencang, hal itu membuat hampir semua siswa yang tengah berolahraga menatap heran kepadanya. Begitu juga dengan Hana, wanita itu terlihat penasaran saat tak sengaja melihat Evan berlari pergi keluar sekolah.
Mau ke mana dia?
Sesampai di rumah sakit, Evan cukup terkejut karena ibunya sudah ada di depan ruang Intensive care unit (ICU).
Ibu Evan segera memeluk anak pertamanya itu dengan erat. Tangisan kemudian terdengar di balik pelukan mereka.
Evan hanya mampu terdiam tanpa berani bertanya. Tangannya kemudian mengkait agar pelukan tersebut makin erat.
Bayangan terburuk kini telah terlintas di benaknya. Sang Ibu mengatakan bahwa kondisi Roa, anak terakhirnya itu menurun drastis.
Gadis kecil itu merasakan nyeri yang begitu dahsyat dan hal itu membuatnya berulang kali berteriak sampai akhirnya dia pingsan.
Kini, gadis kecil itu masih tidak sadarkan diri sembari diperiksa oleh dokter. Evan dan ibunya hanya dapat melihat melalui kaca, mereka berharap Roa berhasil untuk bertahan.
Tak lama kemudian, sang dokter keluar dari ruang rawat Roa. Pria berjas putih itu memaksa untuk tersenyum.
Hal itu tentu membuat Evan dan juga Ibunya penasaran, "Gimana keadaan adik saya, Dok?"
Dokter tersebut tidak langsung menjawab, melainkan dia mengurut dahinya dengan pelan. Di hadapannya kini sudah ada hasil pemeriksaan Roa dan hasilnya jauh dari kata baik.
"Sekarang adik, Mas, sudah cukup membaik. Saya sudah berikan obat pereda rasa nyeri. Tapi, saya sarankan agar Roa secepatnya di kemoterapi karena kanker di dalam tubuhnya sudah mulai menyebar."
"Tapi, Dok. Uang beasiswa saya belum keluar."
Evan merasa begitu kecewa pada dirinya sendiri, setelah kepergian sang Ayah. Pria itu harus ikut serta mengurus ibu dan juga adiknya. Dia hanya bisa mengandalkan uang Beasiswanya. Namun, uang tersebut baru akan keluar setelah kenaikan kelas alias tiga bulan lagi.
Kepergian dokter membuat Evan juga ibunya tak mampu mengeluarkan suaranya. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Entah bagaimana mereka mendapatkan uang secepat mungkin untuk kemoterapi Roa.
Beberapa hari kemudian, Evan kembali bertemu dengan Hana. Pria itu tiba-tiba saja memiliki pikiran untuk meminta bantuan Hana untuk biaya kemoterapi Roa.
"Han, gue boleh ngomong sama lo nggak?" tanya Evan sembari menarik tangan Hana. Wanita itu terdiam sembari menatap bingung tangannya yang tengah dipegang oleh Evan.
Evan tidak sendiri berjalan sendiri, melainkan pria itu bersama beberapa temannya juga. Mereka terlihat siap untuk menggoda Evan. Namun, tiba-tiba pria itu membawa Hana untuk naik ke atas gedung sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Benefit (END)
Ficțiune adolescențiKehidupan yang amat berbeda antara Evan dan Hana tentu membuat keduanya seperti langit dan bumi. Pertemuan singkat mereka di depan gerbang berhasil membuat keduanya terlibat perjanjian yang saling menguntungkan. Namun, karena sikap yang berbeda di a...
