akhir bahagia kita

358 16 13
                                        

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

.

.

.

"Mama bilang kau mau bertemu denganku?"

Halilintar memandang Taufan yang berdiri di dekat pintu, menjaga jarak darinya. "Mana Ying?" tanyanya.

Taufan menoleh ke pintu yang terbuka. "Tunggu sebentar akan kupanggilkan."

Taufan berlalu ke pintu, menghilang beberapa detik lalu kembali sambil merangkul Ying. Halilintar melirik tangan Ying yang menggenggam erat tangan Taufan, dan memalingkan pandangannya.

"Kau ingin bicara apa?" tanya Taufan.

Halilintar melirik mereka berdua, lalu menarik napas. "Aku akan pergi ke London."

"Ya, aku sudah dengar itu dari mama," kata Taufan.

"Apa?" Ying menatap Taufan dengan terkejut, kemudian menoleh pada Halilintar. "Ke London? Kenapa?"

Halilintar menatap Ying, yang sepertinya baru mendengar kabar ini. "Aku ingin menyembuhkan kakiku."

"Memang di sini tidak bisa?" tanya Ying cemas.

"Aku juga ingin studi ke luar," tukas Halilintar. "Aku ingin memulai hidupku yang sebenarnya di sana."

"Apa ..." Ying terdiam sejenak, memandang Halilintar dengan wajah sendu. "Kau masih marah pada kami?" ia bertanya pelan.

Halilintar menatapnya beberapa saat, kemudian memalingkan wajah. "Tidak."

"Lalu kenapa kau pergi?" tanya Ying.

"Sudah kubilang aku ingin memulai hidupku lagi di sana," kata Halilintar. Ia kembali mendongak pada Ying. "Kemarilah."

Ying menoleh pada Taufan dengan cemas. Sang kekasih mengangguk kecil dan mengisyaratkan Ying untuk menghampiri Halilintar.

Ying menarik napas dan berjalan mendekat. Halilintar tak langsung bicara, bahkan menarik napas rasanya sulit. Ying berada dalam jangkauannya, tapi tidak bisa diraih. Kenapa dulu ia terus mengulur waktu?

"Maafkan aku," Mata delima Halilintar menatap Ying lurus. "Maaf, selama ini aku selalu menyusahkanmu. Maaf ... karena sudah membuatmu terluka."

"Tidak apa-apa," Ying menunduk dan meremas tangannya. "Aku ... sudah memaafkanmu."

"Aku menyesal ... sudah menyakitimu," ucap Halilintar lirih. "Sungguh. Kuharap aku bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya."

Ying terdiam, tidak membalas kalimat Halilintar.

"Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku," ujar Halilintar. "Ini sama sekali bukan salahmu. Aku memang pantas menerimanya. Ini adalah hukumanku, Ying."

"Tidak ada yang pantas menerima hal seperti ini." Ying menggeleng. "Walaupun aku ... sempat membencimu, aku tidak pernah mengharapkanmu jadi begini."

"Tapi aku memang pantas mendapatkannya," kata Halilintar. "Seharusnya aku tidak mempermainkan perasaanmu. Maafkan aku."

Ying menarik napas dalam dan duduk di sisi ranjang Halilintar. "Aku sudah memaafkanmu," ia berujar. "Aku sudah tak membencimu lagi, sungguh. Aku—aku juga minta maaf karena menyakitimu. Semoga ... semoga kau bisa hidup lebih bahagia setelah ini, Hali."

Halilintar mengangguk. "Aku juga berharap begitu."

Ying tersenyum kecil.

"Bolehkah ... aku memelukmu?" pinta Halilintar. "Sebentar saja."

Love AnglesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang