1 Step Forward, 3 Steps Back

150 15 10
                                        

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

.

.

.

"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

Ying menghela napas, meneguk sodanya. Mereka duduk di kedai Gopal dan menghabiskan dua mangkuk bakso. Langit sore cerah tanpa awan, dan cuaca masih cukup panas meski hampir menjelang senja.

"Yaya menyuruhku untuk merahasiakannya," kata Ying. "Aku juga mengetahuinya sendiri, Taufan."

"Ini sama sekali tidak adil. Kenapa Yaya harus berpacaran dengan orang seperti itu?" Taufan menggerutu dengan mulut menggembung penuh bakso.

"Memangnya kenapa? Menurutku mereka cocok."

"Cocok apanya?" Taufan cemberut. "Pak Kaizo itu terlalu tua."

"Tidak, tidak." Ying menggeleng. "Justru jarak umur mereka normal."

"Apanya yang normal? Umur mereka terpaut jauh."

"Tidak. Itu sudah cukup baik. Kau saja yang berlebihan."

"Memangnya kau mau berpacaran dengan pria berumur seperti Pak Kaizo?" tanya Taufan, mengernyit.

Ying mengangguk, menyuap baksonya. "Tentu saja mau. Dia sudah dewasa dan mapan."

Taufan mencibir, "Perempuan sekarang suka yang tua-tua, ya?"

"Tidak juga. Kami menyukai yang tidak kekanak-kanakan."

"Apa itu alasanmu menolak Gempa?" tanya Taufan.

Ying mengerjap, tangannya yang hendak meraih gelas minuman terhenti. "Kenapa menolak Gempa?"

"Yah, Gempa cerita padaku," kata Taufan. "Dia bilang kau menolaknya."

"Oh, Gempa sudah cerita, ya?" Ying mendesah dan kembali meneguk sodanya. "Aku hanya butuh waktu. Kupikir ... aku belum siap pacaran."

"Kau masih belum bisa melupakan Halilintar?"

"Aku sedang berusaha," Ying bergumam muram.

"Jadi kau meminta waktu untuk melupakan Halilintar?"

"Yah, kurang lebih begitu," Ying mengangguk. Ia menambahkan sedikit cuka ke kuah baksonya dan mencicipi dengan sendok. "Berhubungan saat ini hatiku masih terpaut di Halilintar, itu justru akan membuat Gempa lebih menderita."

"Yah, benar juga," Taufan mengangguk. Ia kemudian menghela napas dan melempar pandangan keluar, memandangi kendaraan yang ramai berlalu-lalang. "Cinta itu rumit sekali, ya?"

"Seperti kau mengerti saja tentang cinta," cibir Ying.

"Tentu saja aku mengerti. Aku sudah mencintai Yaya selama bertahun-tahun." Taufan memberengut.

"Kalau kau mencintai Yaya seharusnya kau bisa merelakan dia dengan Pak Kaizo."

"Mana bisa aku merelakannya? Aku sudah mengenal Yaya jauh lebih lama dari dia, tapi dia asal main serobot saja."

"Yang namanya cinta tidak bisa dipaksa, 'kan?" Ying mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat dengan lembaran menu. "Kau mau Yaya bersamamu tapi tidak bahagia?"

"Dia pasti akan bahagia. Aku akan membuatnya jauh lebih bahagia daripada yang bisa dilakukan Kaizo," tukas Taufan.

Ying menggeleng. "Jangan seenaknya memutuskan. Yaya berhak memilih kebahagiaannya sendiri."

Love AnglesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang