Bersama. Sepertinya kata itu masih terdengar aneh untuk Arsen atau pun Aster. Dimana mereka pada akhirnya harus tinggal di satu atap yang sama setelah selama ini terpisah begitu jauh, begitu lama. Tak saling menyapa apalagi berbicara selama itu. Bahkan, Arsen sebelumnya juga tidak percaya kalau dia memang memiliki seorang saudara kembar. Dia sebenarnya sudah selalu menganggap, jika dia tak memiliki saudara kembar. Hanya dia satu-satunya, tapi nyatanya Aster memang hadir di kehidupannya sekarang.
Arsen juga masih belum bisa menerima Aster. Dia mungkin mengizinkan Aster tinggal di sana bersamanya, tapi bukan berarti semudah itu dia juga menerima kehadiran Aster. Masih terlalu sulit.
"Oke, sekarang boleh Mami minta kalian untuk setidaknya berusaha saling akrab?" ucap Airin begitu dia sudah berhadapan dengan kedua putranya.
Arsen nampak melihat ke arah lain, seolah tak ingin menatap Aster yang berada di sampingnya. Sedangkan Aster kini hanya mengangkat kedua bahunya dengan garis lurus yang dia bentuk di bibirnya.
Airin memejamkan matanya untuk beberapa detik, bersamaan dengan helaan nafas yang dia lakukan.
"Baiklah, Mami mengerti mungkin kalian masih membutuhkan waktu itu. Tapi, setidaknya cobalah untuk bicara. Apalagi, kalau Aster juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Arsen," tambah Airin sekali lagi karena tak ada jawaban dari Arsen atau pun Aster.
"Tidak! Kenapa harus sekolah di sekolahku juga?" protes Arsen kemudian.
Untuk satu atap bersama Aster saja masih terasa tak nyaman. Apalagi harus satu sekolah dengannya!
"Why? Takut tersaingi olehku?" tanya Aster sembari menunjukan senyuman miringnya pada Arsen.
Arsen hanya menatap kesal pada Aster sekilas, sebelum akhirnya dia kembali menatap Airin di sana.
"Mam?" ucap Arsen seolah meminta Airin untuk berbicara.
Airin terdiam sejenak. Dia menatap keduanya bergantian, dan sekali lagi helaan nafas berat dia lakukan. "Akan lebih mudah untuk Mami mengantar atau menjemput kalian nantinya. Akan lebih mudah juga untuk Mami datang ke sekolah kalian kalau ada sesuatu."
"That's good idea, Mam! Aku setuju-setuju saja. Aku juga suka dengan seragam sekolahnya!" Seru Aster berantusias.
Sebenarnya, cukup tak nyaman juga untuknya bersekolah di tempat yang sama dengan Arsen. Tapi, dia juga tidak ingin membuat repot sang Mami. Selain itu, dia juga memang sudah tertarik pada seragam sekolah yang dikenakan Arsen sejak awal. Membuatnya membayangkan jika dia mengenakan seragam itu juga, tak terbayang bagaimana tampannya dia.
"It's okay, Ars?" tanya Airin pada Arsen. Dia ingin memastikan terlebih dahulu padanya.
Hingga akhirnya, Arsen nampak mengangguk malas. Dia tak setuju, tapi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kalau memang alasan Airin seperti itu. Mungkin, akan merepotkan juga kalau sampai Airin harus kesana kemari mengurus dirinya dan Aster. "Terserah Mami saja."
"Oke, akan Mami anggap setuju. Besok Mami akan mengurus kepindahan Aster ke sekolahmu sebelum berangkat bekerja."
Aster mengangguk antusias dengan senyuman lebarnya. Sedangkan Arsen justru mengangguk malas dengan raut wajahnya yang terkesan dingin, tak perduli.
"Ada yang harus Mami katakan juga," ucap Airin kemudian. Dimana raut wajahnya sudah berubah menjadi lebih serius.
Kali ini, baik Aster maupun Arsen sudah menatap Airin secara bersamaan. Dia paham keseriusan yang ditunjukan Airin. Dimana dia pasti akan Mengatakan hal yang begitu penting di sana.
"Apa itu?" tanya Arsen dan Aster bersamaan. Membuat keduanya saling menatap untuk beberapa detik sebelum akhirnya segera mengalihkan lagi untuk menatap Airin.
"Soal boss Mami, Choi Vee—"
"Aku tidak setuju kalau Mami bersamanya!" Potong Arsen begitu saja.
Aster juga nampak mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Arsen. "Aku juga tidak setuju kalau Mami mau bersama pria aneh itu. Pria lain mungkin boleh, atau kalau bisa kembali bersama Daddy saja," ucapnya.
Arsen lantas menatap Aster dengan mata yang menajam. "Apalagi dia! Aku tidak setuju kalau Mami akan menikah dalam waktu dekat dengan pria mana pun. Aku belum siap harus menerima orang baru lagi!" Seru Arsen dengan protesnya lagi.
Dan untuk yang ketiga kalinya, Airin menghela nafasnya berat. Dengan mata yang mengerjap beberapa kali menatap dua putranya yang kini malah berdebat.
Sampai akhirnya, bel rumah mereka berbunyi. Dimana Airin menghela nafas beratnya untuk ke sekian kalinya. Masalahnya sudah datang!
KAMU SEDANG MEMBACA
TO(GET)HER
RomanceBae Airin adalah seorang perempuan berusia 34 tahun yang telah memiliki putra berusia 17 tahun. Tidak hanya satu, melainkan dua. Dua putera kembar yang memiliki sifat berbeda. Sebab, sejak bayi, salah satu dari dua puteranya tinggal terpisah darinya...
