"PENDEWASAAN"
Seokjin membetulkan posisi dasi yang ia pakai untuk terakhir kalinya didepan cermin tanpa memperdulikan tatapan tajam suaminya yang sedari tadi meminta dirinya untuk tetap dirumah.
"aku tidak mengijinkanmu untuk pergi kepemakaman namjoon!" seokjin diam,
"kau tidak mendengar perintahku jeon seokjin?!" menghela nafasnya terlebih dahulu seokjin akhirnya merespon pertanyaan jungkook,
"aku harus pergi kook, ada hal yang harus ku selesaikan"
"masalah apa yang harus kau selesaikan dengan orang yang sudah mati?!" tak ingin membuat perdebatan semakin memanas seokjin keluar dari kamar tak lupa membawa tongkat sebagai penopang tubuhnya. Meskipun seokjin sudah bisa berjalan namun ia masih tetap memerlukan tongkat saat harus berjalan jauh dikarenakan pemulihan pasca operasi yang belum 100 persen.
Melihat suaminya bersikeras pergi jungkook meneriaki seokjin yang sedang berjalan menuruni tangga.
"aku serius seokjin! Aku melarangmu untuk pergi kepemakaman namjoon, ada apa denganmu? Kenapa kau harus pergi kepemakaman orang yang sudah membuatmu menderita?! Masuk kekamar dan aku akan melupakan kejadian hari ini!" seokjin berbalik badan menatap wajah suaminya,
"kook aku sudah mengatakannya berkali-kali aku harus pergi karena aku harus menyelesaikan tugasku, aku akan kembali" seokjin melanjutkan langkahnya,
"kau masih mencintainya bukan? Kau masih mencintai namjoon?! Katakan jin! Jika kau memaksa untuk tetap pergi aku..aku akan berpikir bahwa kau tidak menghargai ikatan pernikahan kita" seokjin menghentikan langkahnya kembali, kedua tangannya mengepal kuat dan setelah beberapa saat seokjin kembali berjalan untuk pamit kepada kedua orang tua serta yoongi yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran antara dirinya dan jungkook.
"saya permisi.." pamit seokjin,
"nak..supir akan mengantarmu, jangan khawatir kami akan menjemput baby saat pulang sekolah jika kau belum kembali. Hati-hati" pesan ibu jungkook lembut.
"terimakasih eomma".
Jungkook yang melihat suaminya keluar dari rumah ia berlari menuruni anak tangga untuk mengejar seokjin namun yoongi dengan cepat menahan adiknya,
"kook cukup..kau tidak bisa bersikap seperti ini, seokjin hanya ingin menghadiri pemakaman mantan suaminya" menepis tangan yoongi dengan kasar jungkook tidak setuju dengan pendapat hyungnya,
"jangan ikut campur urusan rumah tanggaku hyung! Seokjin sedang hamil dan menghadiri pemakaman mantan suaminya adalah hal yang sangat tidak perlu dia lakukan!"
"seokjin pasti bisa menjaga dirinya dan kehadiran pasti memiliki alasan kook, disaat seperti ini kau tidak oleh mendahulukan rasa cemburumu. Berpikirlah dengan tenang dan-"
"stop!"
"jeon jungkook!" ayah jungkook bangun dari tempat duduknya,
"ada apa denganmu hari ini? Daddy pikir kau sudah dewasa, apa yang hyungmu katakan itu benar, seokjin pasti punya alasan kenapa dia harus menghadiri pemakaman mantan suaminya. Bersikaplah seperti lelaki sejati", bukannya lebih tenang dan menuruti nasehat ayahnya untuk lebih tenang jungkook sebaliknya,
"kalian tidak akan mengerti!" teriaknya lalu pergi keatas kamar dan kembali keluar dengan secepat kilat dengan membawa jaket kulit hitam dan kunci mobilnya.
"kook..kemana kau akan pergi? Jangan melakukan hal yang membuat mu menyesal!"
"bukan urusanmu!" ketus jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE REAL MAN
FanfictionMemberikan kepuasaan adalah kewajiban yang harus jungkook penuhi namun saat hatinya menginginkan lebih dari sebuah ikatan pekerjaan jungkook harus merasakan patah hati saat cintanya bertepuk sebelah tangan dengan alasan dirinya belum menjadi seorang...
